Kamis, 30 Agustus 2012

Kopi Pagi Ini Terlalu Pahit

Aku meneguk kopiku pagi ini. Terlalu pahit. Tak tahu mengapa menjadi sepahit ini, padahal aku sendiri yang membuatnya. Memang tadi aku menambahkan bubuk kopiku lebih banyak dari yang biasa kubuat.
Aku menyesap seteguk wanginya. Pahit. Tapi aku menikmatinya.
Kepahitan ini seakan mewakili hariku yang telah lewat. Pahit yang akhirnya kunikmati.
Aku teringat akan kemarahanku. Akan kekecewaanku. Sahabat. Pacar sahabat. Teman. Saudara. Dan...kata anytime.
Demi apa seorang pacar dari sahabat ikut mengurusi permasalahanku. Kepedulian. Ok, terima kasih atas kepeduliannya. Aku harap kepedulianmu itu tak memojokkanku menjadi tersangka utama dalam drama persahabatan kami. Aku sudah cukup dipojokkan oleh sahabatku. Tak usah menambahi ruang pojok ini.
Maaf, aku tak bermaksud kasar terhadapmu wahai seorang yang peduli. Aku hanya sedang tak ingin disalahkan. Oleh mereka. Apalagi olehmu.
Ada suatu kesakitan dan kepahitan ketika seseorang menuduhmu memperlakukan sahabatmu sebagai teman. Penurunan derajat kemanusian, pikirku. Bagiku sahabat itu seperti berlian, dan teman hanyalah hadiah. Hadiah bisa berupa berlian. Tapi berlian, hanya dihadiahkan pada orang yang spesial. Sahabat yang sangat karib, bisa melebihi saudara.
Dan...mengapakah aku mendengar penawaran janji dengan embel-embel kata "anytime" lagi. Aku sedang tak bisa mempercayai kata-kata anytime. Buatku sekarang ini, manusia tak akan selalu ada bagi sesamanya. Pasti ada saat di mana seseorang yang dibutuhkan itu tak bisa ada untuk orang lain. Entah tak bisa atau tak mau. Sama saja. Itu berarti tak ada.
Hhh...ya sudahlah..mari menghabiskan kepahitan kopi pagi ini dan menyimpannya sebagai kenangan. Sepahit apa kopiku pagi ini, tak akan mengurangi rasa cintaku.
Have a nice day, sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar