Senin, 06 Agustus 2012

Tidurlah Tenang, Nak

Tubuh mungil itu telah terbaring. Tenang. Seakan tanpa dosa. Tak ada tawa mungilnya. Tak ada rengekan tangisnya. Dia hanya memejamkan matanya. Bagaskara. Begitulah orang tuanya menamainya.
Sang Ibu memandanginya penuh makna. Membelainya lembut, penuh kasih tanpa batas. Tatapan penuh harap seorang ibu tertuju pada bayi mungil itu. Dia bernyanyi untuknya. Nanyian harapan akan masa depan. Lantunan kasih sayang dan pajatan sebuah doa terdengar merdu dan syahdu.
Wiratri nama wanita itu. Seorang berkasta dari masyarakat kami. Wanita cantik dengaan kulit terang. Benar-benar menggambarkan kalangannya.
Sementara Wiratri terus memandangi putranya, anak sulung Wiratri bermain di sekitarnya. Kadang ia berlari-larian. Kadang hanya memainkan boneka di dekat ibunya.
Wiratri memang telah mempunyai dua anak. Raras, seorang perempuan, adalah anak pertamanya. Beberapa tahun kemudian, lahirlah Bagaskara. Bayi lelaki pertama yang baru saja ia lahirkan beberapa bulan yang lalu. Bayi yang ditunggu-tunggu bagi kaum keluarganya.
Seolah teringat akan kelucuan tingkah Bagaskara, Wiratri tersenyum dengan terus menatap putranya. Dia masih saja memandangi bayinya. 
Raras mendekat, dan bertanya kepada Wiratri, "Ma, kapan adek bangun dan menemani Raras lagi?"
Wiratri tak dapat menjawab pertanyaan putri kecilnya. Dia hanya memeluk Raras dan menangis. Dia kemudian tersadar bahwa bayi yang di depannya ini sedang tidur untuk waktu yang sangat lama. Dan tak akan bangun lagi untuk bermain bersama kakaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar