Rabu, 22 Agustus 2012

Apalah ini

Selalu menyenangkan ketika mendengar kata Bali. Tapi buatku, itu semacam kata-kata sihir yang membangunkanku dari alam mimpi. Kata-kata yang akan mengantarku ke alam nyata. Bali. Tempatku bekerja. Yang artinya aku harus meninggalkan rumah, meninggalkan orang-orang yang kusayangi, meninggalkan kebiasaan bangun siang, meninggalkan kebiasaan tak mencari-cari makan di luar karena makanan sudah terhidang manis di meja makan.
Tapi, kembali ke Bali bukan hal yang terlalu buruk. Aku tak pernah benar-benar tersiksa karenanya. Seperti sore ini ketika aku harus kembali ke Bali. Kembali dari liburanku yang cukup lama, 6 hari...oh, tidak, bukan 6 hari...hanya 5 hari yang bertambah satu malam tanggal 17 kemarin. Aku sudah merasa cukup dengan liburanku, walaupun kalau ditambah libur lagi juga tak akan menolak.Hati ini sudah cukup terisi dengan kehangatan keluarga. Kehausan ini telah dipuaskan oleh kasih sayangnya.
Hari ini aku berangkat ke Bali dengan penerbangan sore. Waktu yang aku pikir pas untuk melakukan perjalanan. tidak terlalu terburu-buru, tapi juga tidak akan terlalu larut sampai di Denpasar.
Seperti waktu-waktu sebelumnya, penerbangan sore selalu membawa kisah yang menyenangkan. Menyenangkan bukan karena kejadiannya. Kejadian yang kualami justru jauuuuh dari menyenangkan. Tapi aku akan menganggapnya sebagi hal yang menyenangkan. Karena kalau kita tak melihat sesuatu yang menyenangkan, kita tak bisa menikmatinya. Bayangkan saja, hari ini aku harus berangkat, itu berarti hari ini juga aku harus membeli oleh-oleh. Daaaan....tau sendiri serabi notosuman adalah serabi yang sangat terkenal. Jadi aku harus antri untuk mendapatkan 7 kotak serabi. Tapi bukan hal yang membosankan kok. Wangi serabi membuatku betah berlama-lama duduk. Bukan cuma itu, aku juga harus berdiri selama di kereta dari Solo ke Jogja. Gak masalah juga, anggap saja kaya upacara, walaupun capeknya emang berasa. Lagian My Stupid Boss mau nemeni, berdiri sambil senyum-senyum sendiri lah akhirnya. Keluar pintu kedatangan, aku harus mengantri untuk memesan taxi. Antrian cukup panjang. Dan membawa 6 kotak serabi itu cukup berat ternyata. Di tengah-tengah mengantri, eh, ngeliat ada bapak tentara ganteng. Hahahaha...iya, ganteng. Aneh kan denger aku ngomong gitu. Ya, gak papa lah buat menghilangkan sedikit kebosanan waktu ngantri. Setelah mengantri cukup lama, akhirnya dapat juga taxinya. Dan jalanan macet panjang samapai simpang siur dong. Great. Capek tingkat dewa ditambah kelaperan. Ya udah, aku tidur aja di taxi. Habis itu, aku masih nganterin oleh-oleh ini. Sampai di kos udah cukup mo mati rasanya, tapi masih diajakin whatsappan (aplikasi semacam messenger gitu). Dan hasilnya, aku ngaco...sapa yang diajak ngomong, balesnya ke sapa, udah gak nyambung ni otak ama mata n tangan. Nah, bahasaku pun sekarang jadilah beda. Bodo ah. Sekali-sekali pake bahasa gak baku ah.
Yak, balik lagi lah kita ke hal-hal yang menyenangkan yang mo kubagi.
Hal yang paling menyenangkan adalah pemandangan sore dari atas awan. Kaya poto ini ni. Tapi keterpesonaanku melebihi poto itu. Yang asli jauuuuh lebih bagus. Gradasi sempurna dari biru sampai putih. Sinar matahari yang berkilauan. Awan putih yang menutup sempurna, kaya kapas atau mungkin kaya salju. Ditambah lagi puncak Gunung Merapi dan Merbabu. Pemandangan yang woow. Aku tak bisa mengatakannya lagi. Gak ada kata-kata yang pas untuk menggambarkannya. Beberapa saat setelah itu, matahari mulai turun. Jingganya benar-benar terlukis sempurna. Cuma Yang Sempurna yang bisa membuatnya. Jingga itu menggaris memberi batas antara langit dengan awan. Seakan-akan si jingga ini pembatas antara dunia atas dan dunia awan. Sayang aku lupa memotret si jingga ini. Nampaknya aku terlalu terpesona olehnya.
Kecapekan dan segala hal yang tidak mengenakkan yang kualami gak bisa menandingi keindahan yang kudapat. Jadi tak apalah aku capek-capekan, kelaperan juga, tapi aku masih melihat si jingga dan mentarinya.
Dan aku belajar, ketika kita melihat segala hal dari sisi yang menyenangkan, maka hal-hal yang gak banget pun gak akan bikin kita terlalu sedih. (kayanya ini otaknya nian lagi bener dan gak terlalu diintimidasi si emosi nih...biasanya juga keseringan melow gak jelas..hahha..)

Langit dan jingga.
Selalu membuatku terpesona. 
Selalu ingin mebagi keindahannya.
Entah kapan aku bisa membaginya dengan dia.
Suatu saat. 
Pasti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar