Senin, 06 Agustus 2012

kosong

Suasana kelas hiruk pikuk. Ramai dengan percakapan-percakapan yang tak dapat kuikuti.

Aku ini hanya seorang gadis kecil. Tak elok paras, tak berpunya harta. Satu-satunya yang kumiliki untuk tetap ada di sini adalah otakku. Kata ibuku, kami ini orang yang tak akan dipandang oleh orang lain jika hanya melihat harta, tapi kami harus bisa menunjukkan bahwa kami layak dipandang. Salah satu caranya adalah dengan berprestasi. Dengan menunjukkan bahwa otak kami layak untuk mendapatkan perhatian. Layak untuk dipersaingkan.
Ibuku seorang yang sederhana. Sederhana karena kami memang tak punya apa-apa untuk ditunjukkan. Meski begitu, beliau ini seorang pekerja keras. Wanita yang menduduki peringkat pertama di tahta kehormatan pada daftar orang-orang yang pernah ada dalam hidupku. Satu-satunya orang yang memaksaku untuk terus bertahan di bangku sekolah ini.
Jika memang otakku layak bersaing di sekolah bergengsi ini, lalu mengapakah aku tak dapat mengikuti pembicaraan mereka? Hah...tentu saja..mereka membicarakan tentang kehebatan bapaknya masing-masing. Tentang seberapa banyak mobil yang ada di garasinya. Tentang negara yang akan menjadi tujuan liburan berikutnya. Mereka juga berbicara betapa menyenangkannya berkumpul dan bermain bersama-sama orang tuanya.
 "Ah, percakapan apa ini?", pikirku.Tentu saja aku tak dapat mengikuti percakapan mereka.
Lihatlah diriku ini. Aku ini hanya anak seorang Pegawai Negeri Sipil. Tak punya banyak barang mewah. Uhmm, maksudku, sama sekali tak punya barang mewah. Aku bisa sekolah di tempat ini saja hanya karena kebaikan seorang dermawan yang kami kenal di Gereja kami. Apa yang dapat kuceritakan pada teman-temanku ini? Kandang ayam belakang rumah? Hah..aku pasti ditertawakan.
Liburan bagiku adalah waktu untuk menambah uang saku. ketika libur tiba, aku biasanya akan pergi ke tempat salah satu saudara bapakku untuk sekedar membantu usahanya. Mereka berjualan kue basah, jajanan, dan juga gorengan. Aku akan dengan senang hati menjajakan hasil olahan mereka secara berkeliling, dari kampung ke kampung. Suatu waktu ibuku berpesan agar aku menjauhi jalan raya dan tidak terlalu jauh menjajakan jualanku. Ibuku tak melarangku, tidak juga malu melihat anaknya menjadi penjaja makanan. Justru ia bangga karena anaknya bukanlah anak manja yang selalu meminta kepada orang tua. Dan justru bersyukur karena anaknya mau belajar berusaha untuk mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya. Menurut beliau, hal ini akan menjadi bekalku kelak ketika dewasa. Tapi aku belum mengerti apa maksud ibu. Demi mendengar pesan ibu itulah aku kemudian pergi ke sebuah kampus di dekat tempat tinggalku dan menjajakannya di sana. Hasilnya lumayan. Daganganku selalu habis. Entah karena memang enak atau hanya karena belas kasihan saja. Lalu...liburan mana yang dapat bersaing dengan liburan mereka?
Dan ketika mereka berbicara tentang kebersamaan dengan orang tua mereka, aku hanya terdiam. Aku mengingat-ingat, kapan terakhir kali aku bermain bersama bapak dan ibuku? Aku tak dapat mengingatnya. Aku terus menggali ingatanku, tapi aku sama sekali tak bisa menemukan ingatanku tentang hal itu. Aku...tak dapat menemukan bapakku dalam ingatanku.

Kelas tetap semarak dengan gelak tawa kami. Tetapi ada kekosongan dalam ingatanku. Hari ini adalah hari kunjungan orang tua. Seperti biasa, ibuku hanya datang sebentar, bertemu guru, lalu ijin untuk kembali bekerja. Guruku tak mempermasalahkannya. Maka buat apa aku membuat ini jadi masalah. Kalau ada temanku bertanya dan mencoba mengejekku layaknya anak-anak SD, aku akan menjelaskan bahwa ibuku harus bekerja. Jika ditanya kenapa bukan bapakku yang bekerja, maka aku akan manjawab, "Ibuku yang bekerja", lalu diam dan tak lagi ikut dalam pembicaraan mereka.
Sampai di rumah, ibuku selalu minta maaf karena hanya datang sebentar. Beliau juga menanyakan bagaimana tadi di kelas. Dan ketika aku memberi tahunya tentang apa yang dikatakan teman-temanku, dengan senyumnya dia berbicara seperti ini padaku: "Maafkan Ibu, ya, Nak. Karena Ibu tak selalu menemanimu, teman-temanmu jadi mengejekmu. Tapi percayalah, Ibu selalu menyayangimu. Biarkan saja mereka berkata seperti itu. Jangan marah. Jangan sakit hati. Tidak ada yang salah dan yang benar di sini. Bertahanlah, tinggal setahun lagi kamu mungkin tidak akan bertemu  mereka lagi."
Aku tak pernah menanyakan tentang bapak kepada ibuku. Aku takut. Aku takut dimarahi. Itu yang ada di otak anak SDku ini. Padahal kalau seandainya aku berani menanyakannya, mungkin aku tak akan dimahari, tapi mungkin juga tak akan mendapatkan jawaban yang kuinginkan. Pasti ibu menjawab segeneral mungkin dan berusaha membuatku tidak bertanya lagi.

Biarlah kenangan-kenangan kosong ini memenuhi hati dan pikiranku. Sampai aku mengerti untuk mengisinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar