Senin, 03 September 2012

Sensasi terbang

Ini sudah kesekian kalinya aku naik pesawat terbang. Kali ini aku terbang bersama dua temanku. Aku duduk di bangku paling belakang. Kursi nomor 39C. Bukan tempat faforitku, tapi itu yang kudapat. Mungkin karena aku yang terlambat cek in, atau memang penerbangan sedang ramai. Atau mungkin itu sisa kursi yang memungkinkan untuk kami duduk bertiga.
Kami masih asik membaca bacaan masing-masing ketika awak pesawat mengumumkan bahwa pesawat akan tinggal landas. Tiba-tiba seorang temanku menutup bukunya. Terdiam dan memejamkan matanya.
"Kenapa?", tanyaku. Pertanyaan standar yang selalu kuajukan ketika aku tak mengerti dengan apa pun yang kuhadapi.
"Sensasi terbang", katanya.
Aku masih berusaha mengerti maksud kata-kata temanku. Tapi aku memutuskan untuk diam. Lalu, seperti biasa, pikiranku kemudian bertualang sambil mencerna makna dari sensasi terbang temanku.
Aku ikut menutup bukuku. Aku diam dari aktivitasku. Kemudian berusaha merasakan sensasi terbang yang dimaksud temanku. Tapi yang ada malah aku teringat banyak hal di waktu dulu.
Dulu, waktu kecil, aku sering keluar rumah ketika mendengar suara pesawat terbang lewat di atas rumahku. Kami, aku, saudaraku atau temanku, sering berlari hanya untuk melihat pesawat itu. Tak pernah terbayangkan olehku bahwa nantinya aku akan dapat menumpang di dalamnya. Tak hanya sekali-sekali, tapi kini kalau aku pulang ke rumah, aku harus menumpang pesawat terbang. Setidaknya tiga sampai empat kali dalam setahun aku pulang. Itu berarti harus naik pesawat terbang lebih dari lima kali. Belum lagi jika ada perjalanan dinas. Dulu, aku tak pernah membayangkannya.
Pikiranku juga membawa ingatanku kepada saat pertama aku aik pesawat. Waktu itu aku sudah kuliah. Dan untungnya aku tidak sendiri ketika itu. Jadi, tak terlalu canggung atau bingung ketika sampai di bandara. Tinggal mengekor temanku saja.
Lalu aku kembali ke masa sekarang ini. Aku mencoba merasakan sensasi terbang. Aku memejamkan mataku. menyandarkan badanku. Aku merasakan getaran-getaran pesawat yang hendak lepas landas. Hatiku ikut bergetar. Lalu terbayang banyak kejadian-kejadian buruk yang mungkin saja terjadi ketika aku berada dalam pesawat. Gagal lepas landas, mesin mati, kesalahan navigasi, atau bahkan ledakan. Menakutkan rasanya.
Lalu aku serentak membuka mataku.
Dalam hatiku berkata, "tidak akan terjadi apa-apa. Tapi jika memang terjadi hal buruk, memang sudah digariskan seperti itu."
Ya, aku menyadarinya. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Tidak juga para pranugari, pilot, atau awak pesawat lainnya. Jika pesawat ini jatuh, tak akan ada yang bisa berbuat sesuatu. Hanya berserah dan berserah.
Sensasi terbang lain yang dapat kurasakan adalah ketika pesawat sudah mengudara tetapi cuaca buruk. Pesawat seperti bergoyang. Kadang terasa meluncur ke bawah. Jantung ini seperti tersangkut di awan sementara badan kita jatuh. Fiuhh...cukup menegangkan.
Dan ketika pesawat akan mendarat, aku pun merasakan sensasi lainnya. Bayangkan dirimu berada dalam sebuah mobil. Mobil itu meluncur dengan kecepatan tinggi, layaknya jet coaster. Tapi ini versi besar dari sebuah mobil. Tak selalu kau dapat melihat ke luar. Tapi kau tetap merasakan kecepatan super ini. Perut seperti ikut teraduk bersama lajunya.
Mungkin ini yang dimaksud oleh temnaku dengan sensasi terbang.
Mungkin lain kali kau pun akan merasakannya. 
Mungkin sama, mungkin juga berbeda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar