Sungguh, aku menyukainya. Ketika
tanganmu mengacak-acak rambutku. Dengan tawamu, kau melakukannya. Penuh
kasihmu, kau memberikannya.
Malam ini aku bertemu denganmu.
Berjeda lama sejak terakhir kita bertemu. Pertemuan kita malam ini tak romantis.
Bahkan hiruk pikuk suara para lelaki penggemar bola dan suporternya yang
menjadi backsound pertemuan kita. Tak ada mawar, tak ada lilin. Tak ada musik
sendu penghibur rindu. Di sini hanya teriakan perebutan kemenangan. Namun,
ketika mataku beradu denganmu, semuanya tampak beku. Ah, mungkin bukan beku,
mungkin mereka menjadi bisu. Seperti televisi jaman dulu.
Pertama bertemu denganmu adalah
beberapa tahun lalu. Tak tahu apa yang membuat kita bertemu. Seingatku, aku
menyapamu terlebih dahulu di ujung sebuah tangga. Aku mengajakmu mengikuti
kegiatanku. Sebuah perkumpulan pencari ilmu. Kau menyambut hangat ajakanku.
Minggu demi minggu kau ikuti pertemuan kami. Dan akhirnya, kita menjadi dekat.
Seperti sahabat lama yang bertemu di masa tuanya. Mungkin demikian pertemuanku
denganmu.
Kita menjadi dekat. Kita menjadi
erat. Kau sering mengantar jemput aku ke manapun aku ingin pergi. Kau sering
mengajakku keluar, meski itu hanya makan di pinggir jalan. Kita sering
berdiskusi tentang sesuatu. Perbincangan kita sangat menarik. Sampa-sampai kita
sering lupa waktu jika sudah bertemu dan mulai berbicara. Aku, kamu, kemudian
menjadi seperti pasangan kupu. Berterbangan, berlarian.
Lalu, aku mulai menaruh hati
padamu. Setiap perhatianmu, mulai kurasa lain. Setiap tatapmu, mebuatku
tersipu. Mungkin sudah merona mukaku. Tapi…aku tahu, kita tak pernah satu. Kau
orang yang keras. Dan aku tak bisa diperlakukan keras. Hatiku terlalu rapuh
untuk sebuah bentakan. Padahal nada bicaramu mulai tegas ketika kau tak suka
melihatku lemah. Aku tahu, maksudmu baik. Tapi hatiku terlalu tersiksa menerima
kekerasanmu. Aku tak menyalahkanmu. Bahkan aku bersyukur. Dengan adanya kamu,
aku mulai belajar untuk lebih berjuang menghadapi kekerasan hidup.
Lama kita tak berjumpa. Aku
merindumu. Tapi, rasa yang dulu ada mulai pudar dan meluntur. Bukan hilang,
hanya pudar. Aku masih mengasihimu, tapi tak mengharapkanmu menjadi pacarku.
Malam ini aku senang. Aku
berbicara banyak hal denganmu. Bermanja dengan perkataanku kepadamu.
Dan….astaga…kau memegang kepalaku. Mengacak rambutku. Bukan dengan kekerasanmu.
Tapi ada kasih yang kurasakan di dalam tanganmu. Seolah kau ingin berkata bahwa
kau pun merindukanku. Seolah ingin kau sampaikan bahwa kau menyayangiku.
Tak terbayang jika ini kau
lakukan beberapa waktu lalu. Mungkin aku sudah terbang ke langit ke tujuh.
Mungkin aku akan lupa bagaimana rasanya
menginjak bumi.
Tapi sekarang aku masih di bumi.
Menikmati sisa belaianmu. Dalam malamku, akan kubawa bersama mimpiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar