Dunia ini memang tidak adil. Tidak bagiku. Mungkin adil bagimu.
Bagaimana aku bisa berkata dunia
ini adil jika aku telah kehilangan keadilannya dari kecil. Dari aku belum bisa
memegang telingaku tanda cukup usiaku untuk bersekolah.
Aku telah kehilangan bapakku
sebelum aku sempat mengenalinya sebagai bapak. Sebelum dia mengajariku naik
sepeda. Aku belajar bersepeda dengan saudara-saudaraku. Dengan gelinciran roda
dari turunan gang depan rumah. Aku tak mengenal bapakku. Bagaimana ketampanannya
menaklukkan hati ibuku, aku tak tahu. Bahkan tak ada foto bapak terpajang di
dinding rumah kami. Bapak macam apa yang tega meninggalkan anak-anaknya yang
masih perlu susu ibunya ini. Pastinya bapak yang dengan terpaksa meninggalkan
dunia ini. Dipaksa oleh takdir.
Rasanya memang tak adil jika aku
menyalahkan takdir. Tapi tak ada lagi yang bisa disalahkan tanpa perlawanan. Ya,
takdir tak akan melakukan perlawanannya atau pembelaannya untuk setiap
persalahan yang ditujukan padanya. Jadi mungkin memang lebih baik menyalahkan
takdir. Menyalahkan takdir bukan berarti menyalahkan Tuhan. Tuhan telah
berkuasa atas semua yang ada. Dia berhak memberlakukan apa saja. Tak pantas
menyalahkan Tuhan.
Ketidakadilan dunia ini mungkin
seorang pendendam. Dia mengikuti dan menghantuiku sesering dia bisa. Sesuka dia
mau. Tak memandang berapa umurku. Tak melihat apa yang aku mimpikan.
Aku didiskriminasikan. Itulah yang
kurasa. Aku dibedakan dengan orang lain. Aku dibedakan dengan temanku, aku
dibedakan dengan sudaraku. Aku dibedakan oleh takdir.
Takdirku adalah perempuan. Takdirku
adalah menjadi yang kedua. Takdirku tak mengijinkanku untuk berpikir aku ini
hebat.
Orang sekitarku mendukung takdir
untuk menilaiku. Membuatku ciut menghadapi masa depanku. Aku tak diijinkan
bermimpi. Lalu bagaimana aku bisa mengejar mimpiku.
Aku menjadi pengikut takdir saudaraku.
Aku menjadi yang kedua setelah dia. Aku dipaksa berpikir diriku tak lebih hebat
dari saudaraku. Aku selalu ditekan untuk tak melampauinya. Ini dibuktikan
dengan prestasiku. Beberapa adalah di bawah saudaraku. Memang, beberapa lagi
prestasiku tak pernah diraih saudaraku, tapi itu tak menonjol. Aku adalah
kedua. Tak perlu menonjol.
Mendapat piagam penghargaan dan medali
dalam bidang akademi tak membuat saudaraku menjadi nomor dua. Aku tetap yang
kedua.
Lalu aku diperlakukan tidak adil
oleh bagian takdir yang lain. Cinta. Dia turut
andil dalam ketidakadilan hidupku. Cinta dan takdir seakan bersekutu untuk membuatku tersingkir. Mereka berkolaborasi
dengan apik membuat skenario yang sampai saat ini tak membuatku bahagia dan
tersenyum lama. Tapi aku terpedaya oleh cinta.
Cinta telah membuatku terbuai
dengan janji manisnya. Cinta telah membuatku mempertaruhkan banyak hal. Cinta mebuatku
terluka dan menangis. Tapi aku tetap terpikat olehnya.
Aku pernah mencicip manisnya
cinta dari cawannya. Hanya mencicip, karena aku tak benar-benar meminumnya. Aku
tak berani meminum lebih banyak. Aku takut dimabukkan olehnya.
Waktu itu, aku tertawa. Aku bersenang-senang
dengan bagian takdir yang disebut cinta itu. Aku dibuatnya terbang. Aku dibuatnya
nomor satu. Bukan lagi yang kedua.
Namun itu hanya beberapa saat. Takdir
tak ingin melihatku tertawa lebih lama. Dia melempar cawan cinta itu sampai
pecah. Cintaku tercurah berantakan. Tersia-siakan. Yang tersisa hanyalah
pecahan tajam yang siap untuk menyakitiku.
Ah, mungkin cinta tak benar-benar
bersekutu dengan takdir. Mungkin cinta sedang membelaku. Mungkin cinta sedang
menuntunku. Mengajarku banyak hal.
Ya, dari cinta aku belajar banyak
hal. Cinta membuatku berjuang. Cinta membuatku percaya. Cinta membuatku
mengejar.
Aku disemangati oleh cinta.
Takdir, cinta, aku. Manakah yang
akan menang? Aku yang harus menang! Tak peduli seberapa banyak peluh akan
tercurah untuk berperang melawan takdir. Tak peduli seberapa banyak air mata
yang aka mengalir. Aku harus menang. Aku harus mendapatkan cintaku dan
menaklukkan takdirku. Aku. Bukan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar