Sabtu, 11 Agustus 2012

Takdir, Cinta, dan Aku


Dunia ini memang tidak adil. Tidak bagiku. Mungkin adil bagimu.
Bagaimana aku bisa berkata dunia ini adil jika aku telah kehilangan keadilannya dari kecil. Dari aku belum bisa memegang telingaku tanda cukup usiaku untuk bersekolah.
Aku telah kehilangan bapakku sebelum aku sempat mengenalinya sebagai bapak. Sebelum dia mengajariku naik sepeda. Aku belajar bersepeda dengan saudara-saudaraku. Dengan gelinciran roda dari turunan gang depan rumah. Aku tak mengenal bapakku. Bagaimana ketampanannya menaklukkan hati ibuku, aku tak tahu. Bahkan tak ada foto bapak terpajang di dinding rumah kami. Bapak macam apa yang tega meninggalkan anak-anaknya yang masih perlu susu ibunya ini. Pastinya bapak yang dengan terpaksa meninggalkan dunia ini. Dipaksa oleh takdir.
Rasanya memang tak adil jika aku menyalahkan takdir. Tapi tak ada lagi yang bisa disalahkan tanpa perlawanan. Ya, takdir tak akan melakukan perlawanannya atau pembelaannya untuk setiap persalahan yang ditujukan padanya. Jadi mungkin memang lebih baik menyalahkan takdir. Menyalahkan takdir bukan berarti menyalahkan Tuhan. Tuhan telah berkuasa atas semua yang ada. Dia berhak memberlakukan apa saja. Tak pantas menyalahkan Tuhan.
Ketidakadilan dunia ini mungkin seorang pendendam. Dia mengikuti dan menghantuiku sesering dia bisa. Sesuka dia mau. Tak memandang berapa umurku. Tak melihat apa yang aku mimpikan.
Aku didiskriminasikan. Itulah yang kurasa. Aku dibedakan dengan orang lain. Aku dibedakan dengan temanku, aku dibedakan dengan sudaraku. Aku dibedakan oleh takdir.
Takdirku adalah perempuan. Takdirku adalah menjadi yang kedua. Takdirku tak mengijinkanku untuk berpikir aku ini hebat.
Orang sekitarku mendukung takdir untuk menilaiku. Membuatku ciut menghadapi masa depanku. Aku tak diijinkan bermimpi. Lalu bagaimana aku bisa mengejar mimpiku.
Aku menjadi pengikut takdir saudaraku. Aku menjadi yang kedua setelah dia. Aku dipaksa berpikir diriku tak lebih hebat dari saudaraku. Aku selalu ditekan untuk tak melampauinya. Ini dibuktikan dengan prestasiku. Beberapa adalah di bawah saudaraku. Memang, beberapa lagi prestasiku tak pernah diraih saudaraku, tapi itu tak menonjol. Aku adalah kedua. Tak perlu menonjol.
Mendapat piagam penghargaan dan medali dalam bidang akademi tak membuat saudaraku menjadi nomor dua. Aku tetap yang kedua.
Lalu aku diperlakukan tidak adil oleh bagian takdir yang lain. Cinta. Dia turut  andil dalam ketidakadilan hidupku. Cinta dan takdir seakan  bersekutu untuk membuatku tersingkir. Mereka berkolaborasi dengan apik membuat skenario yang sampai saat ini tak membuatku bahagia dan tersenyum lama. Tapi aku terpedaya oleh cinta.
Cinta telah membuatku terbuai dengan janji manisnya. Cinta telah membuatku mempertaruhkan banyak hal. Cinta mebuatku terluka dan menangis. Tapi aku tetap terpikat olehnya.
Aku pernah mencicip manisnya cinta dari cawannya. Hanya mencicip, karena aku tak benar-benar meminumnya. Aku tak berani meminum lebih banyak. Aku takut dimabukkan olehnya.
Waktu itu, aku tertawa. Aku bersenang-senang dengan bagian takdir yang disebut cinta itu. Aku dibuatnya terbang. Aku dibuatnya nomor satu. Bukan lagi yang kedua.
Namun itu hanya beberapa saat. Takdir tak ingin melihatku tertawa lebih lama. Dia melempar cawan cinta itu sampai pecah. Cintaku tercurah berantakan. Tersia-siakan. Yang tersisa hanyalah pecahan tajam yang siap untuk menyakitiku.
Ah, mungkin cinta tak benar-benar bersekutu dengan takdir. Mungkin cinta sedang membelaku. Mungkin cinta sedang menuntunku. Mengajarku banyak hal.
Ya, dari cinta aku belajar banyak hal. Cinta membuatku berjuang. Cinta membuatku percaya. Cinta membuatku mengejar.
Aku disemangati oleh cinta.
Takdir, cinta, aku. Manakah yang akan menang? Aku yang harus menang! Tak peduli seberapa banyak peluh akan tercurah untuk berperang melawan takdir. Tak peduli seberapa banyak air mata yang aka mengalir. Aku harus menang. Aku harus mendapatkan cintaku dan menaklukkan takdirku. Aku. Bukan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar