Ketika Indonesia telah mengakui emansipasi wanita, mungkin itu juga berlaku bagi semua pekerjaan.
Hari ini, aku berkunjung ke dusun Alengkong, Songan. Sebuah dusun di daerah Kintamani, Bali. Dan aku bertemu dengan emansipasi.
Di balik gemerlapnya Bali, di balik eksotisnya Bali, ternyata masih menyimpan kondisi yang sangat jauh dari suasana "menyenangkan". Untuk mencapai dusun Alengkong, kami berkendara sampai danau Kintamani dengan mobil biasa. Setelah itu, kami harus beralih ke mobil pick up, dan sebagian harus naik motor. Ternyata dusun tersebut berada di kawasan yang cukup sulit dijangkau. Jalan yang kami lalui sempit dan berliku. Ditambah berpasir dan berdebu. Mobil kami sempat terhenti karena salah satu mobil tidak sanggup melalui medannya.
Dalam perhentian itu, aku bertemu salah satu bentuk emansipasi, mungkin. Aku melihat beberapa wanita tangguh. Mereka sedang mengaduk semen. Ya, mengaduk semen. Di jalan berliku, menanjak, dan berdebu. Sekali lagi, beberapa, bukan hanya satu. Itu berarti cukup lazim menggunakan tenaga perempuan untuk membangun suatu proyek.
Aku tak tahu mengapa mereka mau bekerja sebagai tukang bangunan. Dan, aku tak mau sok tahu. Mungkin memang sudah lazim. Tapi mungkin juga mereka terpaksa melakukannya.
Yah, apa pun alasannya, bagiku mereka wanita tangguh. Tak hanya berperan sebagai ibu, tetapi juga berperan sebagai pencari nafkah. Salut untuk kalian, wanita-wanita tangguh.
setiap kata, setiap langkah, setiap peristiwa...semuanya memiliki cerita... semua mempunyai ruang dalam kotak kenangan... setiap air mata, setiap tawa, semua menghias pembungkusnya...
Sabtu, 14 September 2013
Wanita-wanita Tangguh
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar