"Atillaaaa..."
Aku memasuki rumah sahabatku ini dengan tak sabar. Kerinduanku pada anaknya yang belum genap berusia enam bulan yang menarikku ke rumah ini. Bukan sahabatku yang pertama kucari, melainkan anaknya.
"Coba liat, tante bawa apa buat kamu, sayang." Langsung kugendong Atilla dan kuberikan mainan kesukaannya. Dia tertawa. Rasanya aku sangat bahagia melihatnya tertawa.
Aku semakin sering berkunjung ke rumah ini sejak Atilla lahir. Mungkin ini pelarianku dari rasa kesepian seorang ibu. Tahun ini adalah tahun kelima pernikahanku. Selama itu pula aku selalu menantikan kehadiran tangis bayi. Pernah aku merasakan kehamilan, tapi hanya 3 bulan saja. Janin di rahimku tak berkembang. Aku pun harus belajar merelakannya.
Namun, aku masih beruntung. Suamiku mengerti keadaanku. Bukan salahku ataupun salahnya jika sampai sekarang kami belum bisa menimang anak kami. Semuanya sudah diatur. Begitu katanya.
Dan di sinilah aku sekarang. Tertawa bersama Atilla.
Beban-bebanku terasa hilang ketika aku melihat tingkah lucunya. Jiwaku terpuaskan oleh kasih tulus seorang bayi yang bahkan belum mengerti apa itu kasih.
Terima kasih Atilla.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar