Senin, 16 September 2013

Biar Saja

Tadi pagi hujan. Sisa-sisa rintiknya masih setia membasahi bumi. Tidak deras, tapi cukup membuatku sakit, kurasa. Atau mungkin, sakit ini bukan karen hujan? Entahlah. Biar saja hujan menyentuku. Aku hanya mau menutup kepalaku saja. Atau mungkin sebenarnya aku ingin menutup otakku dari pikiran-piran yang mengganggu ini?
Aku masih harus menapaki jalan ini untuk sampai tujuanku. Dua orang temanku sudah di depan. Biar saja. Aku ingin menikmati setiap langkah kakiku. Berat memang. Tapi harus kulangkahkan demi tujuanku.
Mendung masih menggantung.Cukup pekat untuk menurunkan hujan secara tiba-tiba. Ah, biar saja. Aku tak mau berkejaran dengannya. Dia temanku. Setidaknya, pekatnya menggambarkan isi hatiku. Jika dia mau menurunkan hujannya, ya sudah, aku akan menyambutnya.
Dinginnya udara pegunungan ini makin menusuk. Sama seperti hatiku yang telah menjadi dingin. Biar saja. Kami sama-sama dingin.
Jika aku bisa berhenti sekarang, aku ingin berhenti. Jika aku bisa meringkuk sekarang, aku pun ingin melakukannya. Tapi, alam hanya teman. Teman yang megningatkan. Teman yang tak mengijinkanku terpuruk dalam dingin dan gelap. Ia menyuuhku tetap berjalan, walau terseok. Ia menyuruhku tetap berdiri, walau kurasakan berat menopang tubuh ini.
Biar saja. Biar saja pikiran ini mengembara. Biar saja kenangan buruk menyiksa jiwa. Biar saja dingin membekukan hati. Biar saja mendung menurunkan hujannya. Karena setelah ini akan ada pelangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar