setiap kata, setiap langkah, setiap peristiwa...semuanya memiliki cerita... semua mempunyai ruang dalam kotak kenangan... setiap air mata, setiap tawa, semua menghias pembungkusnya...
Selasa, 29 Januari 2013
Doa Untuk Rindu.
Pagi ini aku bertemu rindu dalam percikan hujan.
Wangi tanah basah, segarnya daun hijau.
Melewati hari-hariku yang penuh dengan pemikiran.
Akhirnya aku sampai padamu.
Sekeras batu, setajam pedang.
Sesunyi malam, secerdik ular.
Semuanya masih terbungkus dalam balutan misteri.
Hadiah tanpa nama tergeletak di depan pintu.
Semua masih samar.
Berselimut kabut, bercadarkan embun.
Dingin, tersembunyi, tapi tak akan lama.
Hingga mentari pagi terusik oleh wangi bunga dan dupa.
Aku memanjatkan doa.
Mengirimmu sebongkah kata.
Menyebutmu dalam lantunan harap.
Biar terbuka semua tabir.
Biar terlihat jelas semua jalan.
Agar hadiah tak berupa misteri.
Agar hangat tak tersembunyi.
Rindu. Ini doaku. Amin.
Jumat, 21 Desember 2012
Antara simpati dan penggangu
Garuda Indonesia, 22 Desember 2012
Tentu saja aku tak menulis ini di pesawat. Aku mematikan hp ku, dan tak ada apa pun yang dapat kujadikan tempat menulis. Dan begitu sampai di stasiun, aku harus menunggu sekitar 45 menit untuk kedatangan kereta yang akan membawaku ke solo. Jadilah waktu ini kumanfaatkan untuk menulis.
Penerbanganku kali ini agak sedikit tidak biasa. Dimulai dari perubahan letak terminal kedatangan (walaupun itu hanya sementara) sampai kejadian ada yang sakit di dalam pesawat.
Hal yang menarik yang akan kuceritakan adalah ketika seorang penumpang pesawat tiba-tiba terserang sesak nafas. Menarik yang kumaksud bukanlah tentang sakitnya, tetapi respon orang-orang di sekitarnya, termasuk aku.
Ketika mendapat laporan bahwa ada satu penumpang yang sesak nafas, awak pesawat segera mengumunkan barangkali ada seorang dokter di antara penumpang yang dapat membantu. Dan, ya, memang ada sepasang suami istri yang berprofesi sebagai dokter. Mereka kemudian memeriksa sang penumpang tadi.
Orang-orang yang duduk di sekitar kursi penumpang yang sesak nafas memberikan respon berbeda-beda. Ada yang ingin menolong sampai berdiri di kursinya (kebetulan ia duduk di depan pasien), ada yang hanya berdiri melihat karena tak tahu harus berbuat apa, ada juga yang diam dan memperhatikan. Aku sendiri memilih diam dan menperhatikan. Dalam pikiranku, ini di pesawat, tidak bisa sembarangan bergerak atau berdiri, sedangkan aku tak bisa melakukan apa-apa, lagi pula sudah ada dokter. Aku pikir, dengan diam berarti aku ikut membantu. Karena jika aku ikut mendekat dan tak melakukan apa-apa, kupikir itu malah mengganggu. Dan benar saja. Beberapa orang yang sempat berdiri dan mendekat ke pasien, namun tak melakukan apa-apa, akhirnya malah mengganggu. Pramugari tak bisa lewat, ruangan untuk pasien menjadi lebih sumpek, dan menjadi lebih ribut.
Aku jadi berpikir, terkadang, rasa simpati yang tak bisa diwujudkan dengan perbuatan, sebaiknya disimpan dalam diam. Itu lebih baik dan lebih membantu, bukan malah mengganggu.
Selasa, 18 Desember 2012
Kado Impian-Kado Natalku Datang Lebih Cepat
Senin, 17 Desember 2012
Susi
Bertemu Kelly dan teman-temannya
Kamis, 06 Desember 2012
Ayah
Rabu, 05 Desember 2012
Gadis dalam gelap
Mungkin dia ingin terbang menangkap asa dalam impiannya. Tapi ia terkurung dalam jerat janji yang dibuatnya. Ia harus mematuhinya.
Sayapnya tak dapat terkembang sempurna. Sudah sering ia mencoba terbang, tapi tak sampai tinggi, ia telah jatuh kembali ke tanah. Tubuhnya letih, penuh luka akibat kejatuhannya.
Sekarang ia hanya dapat terduduk. Sesekali ia memandang ke atas, kepada mimpinya. Namun, tak lama kemudian ia telah memeluk lututnya, menggigil dan menangis.
Gadis dalam gelap, aku tak dapat menolongmu. Maafkan aku. Sabarlah. Tinggal sebentar janji itu boleh kau lepas. Dan setelah itu kau bisa terbang tinggi. Menuju asa, meraih mimpi.