Kamis, 06 Desember 2012

Ayah

Apa itu ayah?
Bagaimana rasanya punya ayah?

***

Aku memang tak pernah merasakan bagaimana mempunyai seorang ayah. Namun aku bukan seorang yang dilahirkan tanpa ayah.
Ayahku meninggal ketika aku masih sangat kecil. Sekitar umur 4 tahun, atau mungkin belum sampai 4 tahun. Sayangnya aku tak ingat persis tanggal berapa ayahku meninggal. Aku tak akan menyalahkan ibuku yang tak pernah memberitahu kami tanggal berapa ayah meninggal. Aku pun tak berani menanyakannya. Aku pernah tahu tanggal meninggalnya ayahku lewat guntingan koran/majalah yang memuat berita kematiannya, tapi sepertinya aku tak bisa mengingatnya dengan baik. Mungkin bagiku, tanggal itu tak berarti apa-apa. Mungkin terkesan jahat, tapi inilah yang aku rasa. Aku tak pernah mengalami kehilangan seorang ayah. Bukan aku merasa ia masih ada bersamaku atau aku tak peduli dengannya. Hanya saja, aku memang tak pernah merasakan kasihnya, kehadirannya. Bagaimana kau bisa merasa kehilangan sesuatu jika kau tak pernah memilikinya?
Hidup tanpa seorang ayah sudah kualami dari kecil. Dari aku belum mengerti apa artinya mati, hingga sekarang ini. Memang, ibuku menikah lagi. Tapi aku tahu, dia bukan ayahku. Bagaimana aku bisa menganggapnya sebagai ayah jika aku tahu dia bukan ayahku? Yah, aku tak pernah menyalahkan ayah tiriku jika aku tak bisa menganggapnya sebagai ayahku. Maaf, kenyataannya memang aku bukan anakmu.
Aku tak pernah merasa harus memaafkan jika seorang tiba-tiba menanyakan tentang ayahku dan aku jawab sudah meninggal, lalu mereka akan meminta maaf telah menanyakan hal itu. Buatku, itu tak masalah. Ayahku memang sudah meninggal, jadi aku tak perlu meratapi nasib dan mengasihani diri sendiri. Ini bukan pilihanku, aku bahkan tak bisa memilih apa pun atas takdir ini. Yang bisa kulakukan adalah menjalani hidupku tanpa ayah.
Pernah ada masa-masa di mana aku merindukan sosok seorang ayah. Merindukan rasa dikasihi dan disayang oleh seorang yang disebut ayah. Masa-masa di mana aku merasa iri melihat anak kecil bercanda dengan ayahnya. Perasaan ingin menangis ketika menyadari aku tak pernah merasakan masa-masa itu.
Tak kupungkiri bahwa aku pernah merindukan sosok ayah. Dan...yah, sekarang ini pun aku tiba-tiba merindukan ayah. Barusan aku melihat profile picture seorang teman di facebook yang memperlihatkan seorang anak digendong di punggung ayahnya. Rasanya menyenangkan punya tempat bersandar. Rasanya melegakan mengetahui bahwa ada punggung yang menopang dan memberi kekuatan. Sesaat, aku ingin berada di posisi anak itu. Digendong seorang ayah, memeluknya, merasakan aliran kekuatan dari kasihnya, dan merasa bahwa semua akan baik-baik saja.
Tapi...semua ini hanya anganku. Secara nyata, aku tahu bahwa aku tak akan pernah merasakannya. Tapi aku percaya, Bapaku masih terus menyediakan punggungnya untuk menggendongku. Dan dia akan memberiku kekuatan untuk melangkah menjalani hidup, serta memastikan semua akan baik-baik saja.

***

Yang kukasihi, ayahku..
di mana pun engkau berada..

Aku tahu kau tak lagi bisa mendengarku,
Kau tak lagi bisa memelukku,
Aku tahu aku tak lagi bisa mengingat rupamu,
Aku pun tak terbiasa memanggil namamu.

Tak peduli seperti apa engkau dulu,
Tak peduli bagaimana lakumu waktu itu,
Dalam benakku, engkau tetap ayahku..

Ini rinduku,
Ini rasaku,
Biarlah ia terbang kepadamu..

Aku mengasihimu

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar