Hai! Namaku Susi. Teman-temanku
menganggapku tak bisa apa-apa. Tak cantik, tak pandai menari, tak bisa
menyanyi. Aku sedang sedih karena teman-temanku tidak mengajakku untuk
bergabung dalam kegiatannya. Alasannya, seperti yang telah kusebutkan di
atas. Aku tak cantik, tak pandai menari, tak bisa bernyanyi.
Teman-temanku ingin mengikuti audisi girlband, jadi mereka butuh seorang
yang cantik, pandai menari dan bisa bernyanyi.
Aku
dan teman-temanku sudah lama berteman. Sudah sejak kecil. Tapi hanya
demi sebuah audisi, mereka menggantiku dengan orang lain. Aku hancur
hati. Aku mulai berpikir apa yang mereka katakan itu benar. Aku tak
cantik, tak pandai menari, dan tak bisa bernyanyi. Aku mulai tak bersyukur dengan apa yang kupunya.
Lalu aku bertemu dengan Alan dan seorang kakak. Alan sedang bermasalah dengan pelajaran di sekolah. Dia mendapat nilai jelek dan itu membuatnya malas pulang karena takut dimarahi orang tuanya. Kami berbincang bertiga. Dalam perbincangan kami, kakak tadi mengusulkan agar aku mengajari Alan karena aku pandai dalam pelajaran.
Perbincanganku dengan Alan dan seorang kakak tadi menyadarkanku bahwa manusia sering menilai apa yang terlihat. Tetapi sesungguhnya kita berharga di mata Tuhan.
Mungkin bagi teman-temanku, aku tak layak masuk dalam kelompok mereka, tapi bagi Alan, aku bisa menolongnya untuk lebih maju. Biar saja orang menilai aku tak bisa apa-apa, tapi setidaknya aku berguna.
Lihatlah! Bukankah sebenarnya aku cantik? Lihat senyumku! Manis kan? :)
***
Susi. Boneka yang kuperankan sewaktu kunjungan ke panti asuhan. Pertama kalinya aku bermain dalam sebuah pementasan panggung boneka. Tak terlalu sulit karena aku tak harus menghafal naskah, tak harus berekspresi. Naskah kami tempelkan dibalik panggung. Aku tak akan kehilangan kata-kata dan penonton pun tak tahu aku sedang membaca. Kesulitan yang kuhadapi adalah ketika orang di luar panggung boneka berinteraksi yang tidak sesuai dengan naskah. Itu berarti aku harus mengembangkan sendiri percakapan yang ada. Untungnya, aku tak kelihatan, jadi ketika aku bingung pun, penonton tak akan tahu. Selain itu, ternyata bermain dengan boneka yang seperti wayang juga membutuhkan tenaga ekstra pada lengan. Aku harus mengangkat tanganku selama Susi pentas. Mungkin sekitar 15 menit. Coba saja, kau akan merasakan pegalnya.
Memerankan Susi mengingatkanku pada diriku sendiri. Aku sering merasa tak percaya diri. Merasa tak bisa apa-apa. Tak cantik, tak punya suara bagus. Sempat aku merasa sangat-sangat rendah diri. Tapi suatu waktu, ada seseorang berkata: "rendah diri adalah bentuk lain dari kesombongan". Aku tak mengerti maksudnya. Yang aku tangkap bahwa Tuhan tidak suka kita menjadi sombong. Jika rendah diri adalah salah satu bentuk dari kesombongan, jadi pastilah Tuhan juga tidak menyukainya.
Memerankan Susi mengingatkanku kembali untuk lebih bersyukur dengan apa yang aku punya dan tidak merasa rendah diri. Ketika aku mulai merasa rendah diri, aku harus segera berpikir tentang apa yang aku punya dan apa yang telah aku lakukan. Aku punya orang-orang yang menyayangiku. Aku juga suka membuat orang lain senang. Melihat orang tersenyum atas apa yang kubuat, itu sudah cukup membuatku senang. Lalu, apa yang kurang? Masihkan aku harus membandingkan dengan orang lain? Jika membandingkan dengan orang lain membuatku maju, mungkin tak menjadi masalah. Namun jika dengan membandingkan aku malah menjadi rendah diri, sebaiknya aku tak membandingkan.
Kunjungan ke Panti Asuhan Ebenhaezer, Sesetan, Denpasar, 17 Desember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar