Sabtu, 11 Agustus 2012

Takdir, Cinta, dan Aku


Dunia ini memang tidak adil. Tidak bagiku. Mungkin adil bagimu.
Bagaimana aku bisa berkata dunia ini adil jika aku telah kehilangan keadilannya dari kecil. Dari aku belum bisa memegang telingaku tanda cukup usiaku untuk bersekolah.
Aku telah kehilangan bapakku sebelum aku sempat mengenalinya sebagai bapak. Sebelum dia mengajariku naik sepeda. Aku belajar bersepeda dengan saudara-saudaraku. Dengan gelinciran roda dari turunan gang depan rumah. Aku tak mengenal bapakku. Bagaimana ketampanannya menaklukkan hati ibuku, aku tak tahu. Bahkan tak ada foto bapak terpajang di dinding rumah kami. Bapak macam apa yang tega meninggalkan anak-anaknya yang masih perlu susu ibunya ini. Pastinya bapak yang dengan terpaksa meninggalkan dunia ini. Dipaksa oleh takdir.
Rasanya memang tak adil jika aku menyalahkan takdir. Tapi tak ada lagi yang bisa disalahkan tanpa perlawanan. Ya, takdir tak akan melakukan perlawanannya atau pembelaannya untuk setiap persalahan yang ditujukan padanya. Jadi mungkin memang lebih baik menyalahkan takdir. Menyalahkan takdir bukan berarti menyalahkan Tuhan. Tuhan telah berkuasa atas semua yang ada. Dia berhak memberlakukan apa saja. Tak pantas menyalahkan Tuhan.
Ketidakadilan dunia ini mungkin seorang pendendam. Dia mengikuti dan menghantuiku sesering dia bisa. Sesuka dia mau. Tak memandang berapa umurku. Tak melihat apa yang aku mimpikan.
Aku didiskriminasikan. Itulah yang kurasa. Aku dibedakan dengan orang lain. Aku dibedakan dengan temanku, aku dibedakan dengan sudaraku. Aku dibedakan oleh takdir.
Takdirku adalah perempuan. Takdirku adalah menjadi yang kedua. Takdirku tak mengijinkanku untuk berpikir aku ini hebat.
Orang sekitarku mendukung takdir untuk menilaiku. Membuatku ciut menghadapi masa depanku. Aku tak diijinkan bermimpi. Lalu bagaimana aku bisa mengejar mimpiku.
Aku menjadi pengikut takdir saudaraku. Aku menjadi yang kedua setelah dia. Aku dipaksa berpikir diriku tak lebih hebat dari saudaraku. Aku selalu ditekan untuk tak melampauinya. Ini dibuktikan dengan prestasiku. Beberapa adalah di bawah saudaraku. Memang, beberapa lagi prestasiku tak pernah diraih saudaraku, tapi itu tak menonjol. Aku adalah kedua. Tak perlu menonjol.
Mendapat piagam penghargaan dan medali dalam bidang akademi tak membuat saudaraku menjadi nomor dua. Aku tetap yang kedua.
Lalu aku diperlakukan tidak adil oleh bagian takdir yang lain. Cinta. Dia turut  andil dalam ketidakadilan hidupku. Cinta dan takdir seakan  bersekutu untuk membuatku tersingkir. Mereka berkolaborasi dengan apik membuat skenario yang sampai saat ini tak membuatku bahagia dan tersenyum lama. Tapi aku terpedaya oleh cinta.
Cinta telah membuatku terbuai dengan janji manisnya. Cinta telah membuatku mempertaruhkan banyak hal. Cinta mebuatku terluka dan menangis. Tapi aku tetap terpikat olehnya.
Aku pernah mencicip manisnya cinta dari cawannya. Hanya mencicip, karena aku tak benar-benar meminumnya. Aku tak berani meminum lebih banyak. Aku takut dimabukkan olehnya.
Waktu itu, aku tertawa. Aku bersenang-senang dengan bagian takdir yang disebut cinta itu. Aku dibuatnya terbang. Aku dibuatnya nomor satu. Bukan lagi yang kedua.
Namun itu hanya beberapa saat. Takdir tak ingin melihatku tertawa lebih lama. Dia melempar cawan cinta itu sampai pecah. Cintaku tercurah berantakan. Tersia-siakan. Yang tersisa hanyalah pecahan tajam yang siap untuk menyakitiku.
Ah, mungkin cinta tak benar-benar bersekutu dengan takdir. Mungkin cinta sedang membelaku. Mungkin cinta sedang menuntunku. Mengajarku banyak hal.
Ya, dari cinta aku belajar banyak hal. Cinta membuatku berjuang. Cinta membuatku percaya. Cinta membuatku mengejar.
Aku disemangati oleh cinta.
Takdir, cinta, aku. Manakah yang akan menang? Aku yang harus menang! Tak peduli seberapa banyak peluh akan tercurah untuk berperang melawan takdir. Tak peduli seberapa banyak air mata yang aka mengalir. Aku harus menang. Aku harus mendapatkan cintaku dan menaklukkan takdirku. Aku. Bukan mereka.

Senin, 06 Agustus 2012

Tidurlah Tenang, Nak

Tubuh mungil itu telah terbaring. Tenang. Seakan tanpa dosa. Tak ada tawa mungilnya. Tak ada rengekan tangisnya. Dia hanya memejamkan matanya. Bagaskara. Begitulah orang tuanya menamainya.
Sang Ibu memandanginya penuh makna. Membelainya lembut, penuh kasih tanpa batas. Tatapan penuh harap seorang ibu tertuju pada bayi mungil itu. Dia bernyanyi untuknya. Nanyian harapan akan masa depan. Lantunan kasih sayang dan pajatan sebuah doa terdengar merdu dan syahdu.
Wiratri nama wanita itu. Seorang berkasta dari masyarakat kami. Wanita cantik dengaan kulit terang. Benar-benar menggambarkan kalangannya.
Sementara Wiratri terus memandangi putranya, anak sulung Wiratri bermain di sekitarnya. Kadang ia berlari-larian. Kadang hanya memainkan boneka di dekat ibunya.
Wiratri memang telah mempunyai dua anak. Raras, seorang perempuan, adalah anak pertamanya. Beberapa tahun kemudian, lahirlah Bagaskara. Bayi lelaki pertama yang baru saja ia lahirkan beberapa bulan yang lalu. Bayi yang ditunggu-tunggu bagi kaum keluarganya.
Seolah teringat akan kelucuan tingkah Bagaskara, Wiratri tersenyum dengan terus menatap putranya. Dia masih saja memandangi bayinya. 
Raras mendekat, dan bertanya kepada Wiratri, "Ma, kapan adek bangun dan menemani Raras lagi?"
Wiratri tak dapat menjawab pertanyaan putri kecilnya. Dia hanya memeluk Raras dan menangis. Dia kemudian tersadar bahwa bayi yang di depannya ini sedang tidur untuk waktu yang sangat lama. Dan tak akan bangun lagi untuk bermain bersama kakaknya.

kosong

Suasana kelas hiruk pikuk. Ramai dengan percakapan-percakapan yang tak dapat kuikuti.

Aku ini hanya seorang gadis kecil. Tak elok paras, tak berpunya harta. Satu-satunya yang kumiliki untuk tetap ada di sini adalah otakku. Kata ibuku, kami ini orang yang tak akan dipandang oleh orang lain jika hanya melihat harta, tapi kami harus bisa menunjukkan bahwa kami layak dipandang. Salah satu caranya adalah dengan berprestasi. Dengan menunjukkan bahwa otak kami layak untuk mendapatkan perhatian. Layak untuk dipersaingkan.
Ibuku seorang yang sederhana. Sederhana karena kami memang tak punya apa-apa untuk ditunjukkan. Meski begitu, beliau ini seorang pekerja keras. Wanita yang menduduki peringkat pertama di tahta kehormatan pada daftar orang-orang yang pernah ada dalam hidupku. Satu-satunya orang yang memaksaku untuk terus bertahan di bangku sekolah ini.
Jika memang otakku layak bersaing di sekolah bergengsi ini, lalu mengapakah aku tak dapat mengikuti pembicaraan mereka? Hah...tentu saja..mereka membicarakan tentang kehebatan bapaknya masing-masing. Tentang seberapa banyak mobil yang ada di garasinya. Tentang negara yang akan menjadi tujuan liburan berikutnya. Mereka juga berbicara betapa menyenangkannya berkumpul dan bermain bersama-sama orang tuanya.
 "Ah, percakapan apa ini?", pikirku.Tentu saja aku tak dapat mengikuti percakapan mereka.
Lihatlah diriku ini. Aku ini hanya anak seorang Pegawai Negeri Sipil. Tak punya banyak barang mewah. Uhmm, maksudku, sama sekali tak punya barang mewah. Aku bisa sekolah di tempat ini saja hanya karena kebaikan seorang dermawan yang kami kenal di Gereja kami. Apa yang dapat kuceritakan pada teman-temanku ini? Kandang ayam belakang rumah? Hah..aku pasti ditertawakan.
Liburan bagiku adalah waktu untuk menambah uang saku. ketika libur tiba, aku biasanya akan pergi ke tempat salah satu saudara bapakku untuk sekedar membantu usahanya. Mereka berjualan kue basah, jajanan, dan juga gorengan. Aku akan dengan senang hati menjajakan hasil olahan mereka secara berkeliling, dari kampung ke kampung. Suatu waktu ibuku berpesan agar aku menjauhi jalan raya dan tidak terlalu jauh menjajakan jualanku. Ibuku tak melarangku, tidak juga malu melihat anaknya menjadi penjaja makanan. Justru ia bangga karena anaknya bukanlah anak manja yang selalu meminta kepada orang tua. Dan justru bersyukur karena anaknya mau belajar berusaha untuk mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya. Menurut beliau, hal ini akan menjadi bekalku kelak ketika dewasa. Tapi aku belum mengerti apa maksud ibu. Demi mendengar pesan ibu itulah aku kemudian pergi ke sebuah kampus di dekat tempat tinggalku dan menjajakannya di sana. Hasilnya lumayan. Daganganku selalu habis. Entah karena memang enak atau hanya karena belas kasihan saja. Lalu...liburan mana yang dapat bersaing dengan liburan mereka?
Dan ketika mereka berbicara tentang kebersamaan dengan orang tua mereka, aku hanya terdiam. Aku mengingat-ingat, kapan terakhir kali aku bermain bersama bapak dan ibuku? Aku tak dapat mengingatnya. Aku terus menggali ingatanku, tapi aku sama sekali tak bisa menemukan ingatanku tentang hal itu. Aku...tak dapat menemukan bapakku dalam ingatanku.

Kelas tetap semarak dengan gelak tawa kami. Tetapi ada kekosongan dalam ingatanku. Hari ini adalah hari kunjungan orang tua. Seperti biasa, ibuku hanya datang sebentar, bertemu guru, lalu ijin untuk kembali bekerja. Guruku tak mempermasalahkannya. Maka buat apa aku membuat ini jadi masalah. Kalau ada temanku bertanya dan mencoba mengejekku layaknya anak-anak SD, aku akan menjelaskan bahwa ibuku harus bekerja. Jika ditanya kenapa bukan bapakku yang bekerja, maka aku akan manjawab, "Ibuku yang bekerja", lalu diam dan tak lagi ikut dalam pembicaraan mereka.
Sampai di rumah, ibuku selalu minta maaf karena hanya datang sebentar. Beliau juga menanyakan bagaimana tadi di kelas. Dan ketika aku memberi tahunya tentang apa yang dikatakan teman-temanku, dengan senyumnya dia berbicara seperti ini padaku: "Maafkan Ibu, ya, Nak. Karena Ibu tak selalu menemanimu, teman-temanmu jadi mengejekmu. Tapi percayalah, Ibu selalu menyayangimu. Biarkan saja mereka berkata seperti itu. Jangan marah. Jangan sakit hati. Tidak ada yang salah dan yang benar di sini. Bertahanlah, tinggal setahun lagi kamu mungkin tidak akan bertemu  mereka lagi."
Aku tak pernah menanyakan tentang bapak kepada ibuku. Aku takut. Aku takut dimarahi. Itu yang ada di otak anak SDku ini. Padahal kalau seandainya aku berani menanyakannya, mungkin aku tak akan dimahari, tapi mungkin juga tak akan mendapatkan jawaban yang kuinginkan. Pasti ibu menjawab segeneral mungkin dan berusaha membuatku tidak bertanya lagi.

Biarlah kenangan-kenangan kosong ini memenuhi hati dan pikiranku. Sampai aku mengerti untuk mengisinya.

Sisa Belaianmu


Sungguh, aku menyukainya. Ketika tanganmu mengacak-acak rambutku. Dengan tawamu, kau melakukannya. Penuh kasihmu, kau memberikannya.

Malam ini aku bertemu denganmu. Berjeda lama sejak terakhir kita bertemu. Pertemuan kita malam ini tak romantis. Bahkan hiruk pikuk suara para lelaki penggemar bola dan suporternya yang menjadi backsound pertemuan kita. Tak ada mawar, tak ada lilin. Tak ada musik sendu penghibur rindu. Di sini hanya teriakan perebutan kemenangan. Namun, ketika mataku beradu denganmu, semuanya tampak beku. Ah, mungkin bukan beku, mungkin mereka menjadi bisu. Seperti televisi jaman dulu.

Pertama bertemu denganmu adalah beberapa tahun lalu. Tak tahu apa yang membuat kita bertemu. Seingatku, aku menyapamu terlebih dahulu di ujung sebuah tangga. Aku mengajakmu mengikuti kegiatanku. Sebuah perkumpulan pencari ilmu. Kau menyambut hangat ajakanku. Minggu demi minggu kau ikuti pertemuan kami. Dan akhirnya, kita menjadi dekat. Seperti sahabat lama yang bertemu di masa tuanya. Mungkin demikian pertemuanku denganmu.

Kita menjadi dekat. Kita menjadi erat. Kau sering mengantar jemput aku ke manapun aku ingin pergi. Kau sering mengajakku keluar, meski itu hanya makan di pinggir jalan. Kita sering berdiskusi tentang sesuatu. Perbincangan kita sangat menarik. Sampa-sampai kita sering lupa waktu jika sudah bertemu dan mulai berbicara. Aku, kamu, kemudian menjadi seperti pasangan kupu. Berterbangan, berlarian.

Lalu, aku mulai menaruh hati padamu. Setiap perhatianmu, mulai kurasa lain. Setiap tatapmu, mebuatku tersipu. Mungkin sudah merona mukaku. Tapi…aku tahu, kita tak pernah satu. Kau orang yang keras. Dan aku tak bisa diperlakukan keras. Hatiku terlalu rapuh untuk sebuah bentakan. Padahal nada bicaramu mulai tegas ketika kau tak suka melihatku lemah. Aku tahu, maksudmu baik. Tapi hatiku terlalu tersiksa menerima kekerasanmu. Aku tak menyalahkanmu. Bahkan aku bersyukur. Dengan adanya kamu, aku mulai belajar untuk lebih berjuang menghadapi kekerasan hidup.

Lama kita tak berjumpa. Aku merindumu. Tapi, rasa yang dulu ada mulai pudar dan meluntur. Bukan hilang, hanya pudar. Aku masih mengasihimu, tapi tak mengharapkanmu menjadi pacarku.

Malam ini aku senang. Aku berbicara banyak hal denganmu. Bermanja dengan perkataanku kepadamu. Dan….astaga…kau memegang kepalaku. Mengacak rambutku. Bukan dengan kekerasanmu. Tapi ada kasih yang kurasakan di dalam tanganmu. Seolah kau ingin berkata bahwa kau pun merindukanku. Seolah ingin kau sampaikan bahwa kau menyayangiku.

Tak terbayang jika ini kau lakukan beberapa waktu lalu. Mungkin aku sudah terbang ke langit ke tujuh. Mungkin  aku akan lupa bagaimana rasanya menginjak bumi.

Tapi sekarang aku masih di bumi. Menikmati sisa belaianmu. Dalam malamku, akan kubawa bersama mimpiku.

Senin, 16 Juli 2012

Jalan Ini Tak Akan Bersatu


Aku selalu suka ketika melihatnya tertawa. Dan aku lebih suka lagi kalau dia tertawa karena aku. Aku sangat senang jika berhasil membuatnya tertawa.
Kami berjalan di jalur yang berbeda. Namun kami sempat bertemu di persimpangan jalan. Setelah  itu, jalur yang kami lalui masih searah. Walaupun jalannya tetap berbeda. Aku tak pernah berpikir bahwa jalan kami akan menyatu. Dan kenyataannya memang sampai sekarang jalan kami tidak bersatu. Tak pernah pula aku berpikir bahwa aku mencintainya, karena kupikir aku cuma suka melihatnya dan tentu saja membuatnya tertawa.
Tak seperti belahan jiwa yang berjalan di jalan yang sama, aku dan dia tak akan pernah bersama. Dia menyukai keindahan dengan apa yang dilihatnya. Aku menyukai keindahan dengan apa yang aku rasa. Kami berbeda. Dan dari situ aku tau dia tak akan mencintaiku. Lalu untuk apa aku berpikir mencintainya jika aku tau dia tak mencintaiku.
Aku ini tak indah dilihat. Begitulah pikirku. Jadi aku pun berpikir, dia tak akan memandangku dengan indah. Dia tak akan mencintaiku. Tapi walaupun aku tau aku tak akan dicintainya, aku selalu menyukai tawanya. Menyukai ekspresi lepas yang ia timbulkan dari tawanya. Seakan dia tak pernah memiliki beban hidup. Seakan hidup ini begitu mudah untuk dijalani. Semuanya indah dalam hidupnya. Begitulah pikirku.
Suatu kali dia pernah tertawa karena celetukan yang keluar secara spontan dari mulutku. Aku senang sekali. Rasanya seperti seorang bocah yang bermain bersama badut. Ah, bukan. Aku tak menganggapnya seperti badut. Aku hanya membandingkan perasaan senang seorang anak kecil ketika ia bermain bersama badut. Itu saja.
Malam itu aku makan bersamanya. Dia berulang tahun. Kami, maksudku aku, dia dan teman-teman kami, merayakannya di sebuah restoran pinggir pantai. Mentari belum beranjak dari batas cakrawala. Semburat jingga menghangatkan perayaan kecil ini. Suasana itu sungguh menyenangkan. Duduk di depannya sambil ditemani romantisme jingga. Angin pantai sesekali menggoda dan memainkan rambutku. Ah, seandainya saja kami cuma berdua saja, mungkin akan lain jadinya.
Aku terus memperhatikannya sepanjang malam. Mengagumi keceriaan yang terpancar dari parasnya. Sampai di penghujung pesta kami, dia mendekatiku dan mengajakku berdansa. Kebetulan musik jazz sedang mengalun. Romantis, pikirku. Tapi segera kujauhkan pikiran-pikiran dan rasaku untuk memilikinya. Aku mencoba berpikir ini adalah simbol persahabatan kami.
Kami terus menari seirama lagu. Matanya terus menatapku. Oh, Tuhan…aku bisa meleleh kalau terus berada dalam keadaan seperti ini. Tapi herannya, aku tak mau kehilangan kesempatan ini. Aku pun menatapnya. Berharap rasa yang ada di hatiku tersampaikan. Rasa kekagumanku akan dirinya.
Malam itu, berakhir indah. Senyumnya tersimpan rapi dalam memoriku.
Beberapa hari setelah ulang tahunnya, aku diajaknya bertemu dengan teman-temannya. Ah, senangnya aku karena ternyata aku akan diperkenalkan dengan teman-temannya. Itu berarti dia menganggapku cukup penting.
Akhirnya aku bertemu dengan teman-temannya. Mereka semua tampak rapi dan harum. Pesolek kurasa. Untunglah aku berpenampilan cukup rapi kali itu, jadi tak terlalu memalukan ketika dia memperkenalkan aku.
Dalam pertemuan itu, aku melihat seorang temannya selalu melihatku dengan tatapan aneh. Seperti ada rasa marah, benci, atau cemburu. Ya, aku tau. Ini pasti karena temanku mengajakku dan selalau berada di sampingku. Seperti kubilang, aku berada di jalan yang berbeda dengannya. Aku pikir inilah salah satu perbedaannya. Temanku menyukai sesama jenisnya (itu hanya menurut hematku, dengan melihat kebiasaan-kebiasaan temanku ini). Dan tentu saja aku masih normal.
Tapi entah mengapa, dalam kesimpulan yang kubuat bahwa temanku ini menyukai sesamanya, aku masih percaya bahwa dia tak benar-benar melakukan penyimpangan. Ah, bukan. Bukan aku setuju dengan aliran penyuka sesama jenis. Menurutku hak mereka ketika mereka memutuskan menyukai siapa. Aku tak menentang, tapi aku juga tak mendukung. Yang kumaksudkan tadi adalah kepercayaanku bahwa jauh di dalam hati temanku ini, sebenarnya dia masih menyukai wanita. Aku sangat mempercayai itu. Aku percaya apa yang dilakukannya selama ini adalah dampak dari pergaulannya.
Hari berganti bulan. Desember pun tiba. Aku tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan banyak hal untuk perayaan Natal. Namun, di tengah kesibukanku, temanku ini selalu menemaniku mempersiapkan perayaan Natalku. Ya, aku bilang Natalku. Dia tak merayakan Natal. Dia seorang beragama lain. Walaupun dia seorang yang taat menjalankan ibadahnya, tapi dia bukan seorang yang fanatik. Dengan senang hati dia selalu menemaniku.
Lama kelamaan, aku merasa temanku ini mulai lebih banyak menghabiskan waktunya bersamaku. Aku merasa dia makin perhatian terhadapku. Mulai meninggalkan pergaulannya dengan teman-temannya. Dan…aku rasa, rasa sayangku kepadanya semakin besar.
Perayaan natal telah selesai. Temanku mengajakku menikmati sisa malam di tepi pantai. Aku mengiyakan karena kebetulan semua acara sudah selesai.
Kami berjalan di tepi pantai. Bercerita banyak hal. Tertawa bersama. Kadang dia menggandeng tanganku untuk membantuku berjalan di atas bebatuan yang kadang cukup licin. Akhirnya kami sampai di tempat kesukaan kami. Sebuah batu yang agak tinggi dan cukup luas untuk kami berdua. Kami duduk bersama. Menikmati bintang yang bersinar malu-malu di atas sana. Angin pantai cukup dingin. Dia memberikan jaketnya padaku. Aku menolaknya, karena kupikir, aku sudah membawa jaket, dan dia juga butuh jaket untuk menghangatkan badannya.
Sejenak kami mengatur nafas kami karena cukup ngos-ngosan juga kami memanjat batu tadi.
Percakapan kami dibukanya dengan pertanyaan apa pendapatku tentang dirinya. Aku pun menjawab bahwa dia seorang yang baik di mataku. Seorang yang cukup taat menjalankan ibadahnya, dan mempunyai toleransi yang cukup tinggi. Kemudia dia menceritakan tentang dirinya. Tentang masa kecilnya, tentang keluarganya, dan…tentang pergaulannya. Sejenak dia menghela nafas. Nampaknya dia sedang memantapkan hati untuk menceritakannya. Aku jadi penasaran dibuatnya.
“Din…tau gak…hufftt…selama ini sepertinya aku telah salah bergaul…”
Aku hanya bisa diam dan menebak-nebak. Menunggunya melanjutkan ceritanya.
Dia kembali menatapku. Tersenyum tipis.
Aku berusaha meyakinkannya untuk bercerita.
“teman-teman yang waktu itu aku kenalin ke kamu itu…gay…termasuk aku…”
Aku mencoba tetap tenang dan mencoba mengerti keadaannya.
“aku pernah berpacaran dengan salah satu di antara mereka”
Lalu dia diam.
Setelah beberapa menit, aku mencoba membuka percakapan. Aku mengatakan pendapatku.
“Sebenarnya aku sudah menebaknya. Tapi entah kenapa, dalam hatiku aku masih percaya bahwa kamu itu normal.”
Tampaknya dia agak kaget mendengar jawabanku. Tapi terlihat raut suka cita di wajahnya. Mungkin dia senang ternyata masih ada yang menganggapnya normal.
“Aku senang kamu berpendapat seperti itu Din. Karena aku sendiri tak tau kenapa dulu memutuskan berpacaran dengan cowok, padahal aku tak ada rasa apapun. Mungkin…aku hanya ingin diterima dan dianggap ada…paling tidak oleh mereka.”
“Din…kamu percaya gak kalo sekarang ini aku jatuh cinta sama kamu…”
Aku cukup kaget dengan pernyataannya, tapi tetap berusaha bersikap biasa.
“Aku tak mengharapkan banyak kok. Kamu udah tau seperti apa aku. Aku dulunya pernah pacaran dengan sesama jenis. Aku cuma pengen mengeluarkan apa yang selama ini aku pendam. Aku tak tau harus berbagi sama siapa. Yang kupunya saat ini cuma kamu. Aku berharap, kamu tak berubah sikap setelah mendengar ini semua.”
Dia tertunduk.
Aku tersenyum. Aku meraih tangannya dan menatapnya.
“Fa…aku tidak peduli seperti apa kamu dulunya. Kamu, adalah kamu. Kamu yang sekarang bukanlah kamu yang dulu. Dan kita sedang berada di alam sekarang, bukan alam terdahulu. Kalo kamu mau tau perasaanku, sebenarnya aku juga menaruh rasa sayang yang cukup besar terhadapmu. Mungkin rasa cinta. Mungkin itu sebabnya aku masih percaya bahwa kamu bukan gay, kamu normal. Tapi…kita beda Fa…kita berada dalam koridor keagamaan yang berbeda. Kita harus tau itu. Kita tak boleh membiarkan cinta kita menjadi buta….Kita udah sama-sama gede Fa…pastinya kalo kita pacaran bukan untuk main-main. Pasti kita berpikir ke arah pernikahan. Dan menurutku, pernikahan harus dibangun dengan dasar yang sama… Aku juga sedih kalo akhirnya kita mempunyai rasa yang sama tapi tak bisa bersatu…tapi…aku pikir mungkin kita lebih baik menjadi sahabat Fa. Dan percayalah, kita pasti menemukan orang yang tepat, yang dapat berjalan bersama-sama. Tetaplah menjadi sahabatku, Fa.  Biarlah cinta kita ini kita simpan sebagai rasa persahabatan, karena jalan kita tak akan pernah bersatu..”
Kami berpelukan cukup lama. Kami sama-sama menangis. Kami sama-sama tau betapa kami saling menyayangi. Tapi kami juga sadar bahwa jalan kami berbeda dan tak akan pernah menjadi satu.
Bulan dan bintang…
Pantai dan ombak…
Aku dan kamu…
Biarlah kita mengambil jalan kita…
Berjalan beriring dengan jalan berbeda…
Di ujung sana, kebahagiaan telah menunggu kita…

Senin, 09 Juli 2012

Tempat yang Berbeda


Setiap orang Tuhan ciptakan menurut apa yang Ia mau. Ada kulit putih, ada kulit hitam, ada kulit kuning, ada juga kulit coklat. Tiap orang berbeda. Berbeda secara fisik, berbeda juga cara berperilaku. Di tengah perbedaan itu, Tuhan juga memberi perlakuan yang berbeda bagi kita. Tapi tau gak, Tuhan gak pernah bermaksud untuk lebih mengasihi yang satu dan mengacuhkan yang lain dengan perlakuan yang berbeda itu.
Seseorang kadang menganggap yang lain lebih beruntung dari dirinya. Tapi percayalah, ada orang lain yang menganggapnya lebih beruntung. Seorang yang kaya mungkin dianggap lebih beruntung dari seorang miskin. Tapi mungkin juga ada orang kaya yang merasa si miskin ini lebih beruntung darinya.
Yang ingin aku ceritakan di sini bukanlah tentang hal-hal yang sangat rohani dan bersifat menggurui. Aku hanya ingin berbagi apa yang telah memberkatiku dan membuatku bersyukur. Aku membagikannya bukan untuk menunjukkan diriku hebat, aku hanya berharap orang lain bisa terberkati dan mensyukuri apa yang ia alami.
Cerita ini berawal dari persahabatanku dengan seorang yang kutemui pada masa kuliah dulu. Kami berbeda jurusan, tetapi kami satu pelayanan dalam persekutuan di kampus kami. Setelah kami lulus kuliah, kami sempat tidak berkomunikasi cukup lama. Ya, bisa kumaklumi. Aku sibuk beradaptasi dengan lingkungan baruku, yaitu lingkungan kerja di tempat baru. Demikian juga dirinya. Setelah beberapa lama, kami kembali berkomunikasi, entah karena apa dahulu itu. Karena apa pun itu, kurasa tak terlalu penting. Mungkin saja rasa rindu dari persahabatan kami yang membuat kami saling mencari satu sama lain.
Dalam kesibukan kami, kami masih cukup sering berinteraksi. Kadang melalui sosial media, kadang melalui messenger, ataupun dengan bertelepon dan berkirim sms. Kami berbagi apa yang kami alami. Sering sekali kami menceritakan banyak hal tetang masalah yang kami alami. Bahkan masalah yang sekiranya orang lain tak mampu memahami, kami saling mempercayai bahwa masing-masing dari kami akan memahami dan mengerti keadaan kami. Misalnya, ketika menghadapi masalah keluarga, aku yakin tidak semua orang akan mengerti posisi kami, tapi kami tetap membicarakannya dalam obrolan kami. Kami percaya dengan membagikannya satu sama lain, yang lain akan menguatkan dan mendoakannya.
Waktu berjalan. Dan sampailah pada hari di mana dia terpilih mewakili Indonesia dalam seminar ke luar negeri. Tak pernah dibayangkannya dia akan pergi ke luar negeri dengan momen seperti ini, bahkan untuk mewakili Indonesia, dalam hal ini mewakili instansinya. Aku berpikir, betapa hebatnya temanku yang satu ini. Ya, aku kagum dan bangga padanya. Aku berpikir dia sangat beruntung. Dia lebih beruntung dari aku. Nah, dari sini lah timbul pemikiran bahwa Tuhan telah menempatkan dan memperlakukan manusia ciptaanNya secara berbeda menurut kehendaNya.
Di balik semua hal yang kunilai merupakan keberuntungan ini, ternyata ada cerita lain yang membuatku bersyukur akan apa yang aku alami dan miliki saat ini. Sahabatku ini adalah seorang yang bercita-cita untuk meneruskan kuliah S2 nya di luar negeri. Namun, dalam perjalanannya, Tuhan tidak mengijinkannya. Ada beberapa kejadian yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Adiknya jatuh sakit, sehingga dia harus terus mendampingi keluarganya. Dan itu berarti dia tidak mungkin meninggalkan keluarganya jauh-jauh. Mungkin waktu itu dia tak berpikir bahwa nantinya dia akan tetap bisa ke luar negeri dengan pengalaman yang luar biasa seperti sekarang ini.
Kisah ini tak cukup berhenti di sini. Ternyata keberangkatannya ke luar negeri ini cukup mendadak. Bisa dibilang tidak banyak waktu yang dimiliki untuk mempersiapkannya. Bahkan untuk mengurus paspor biru. Beruntungnya, sahabatku ini pernah secara iseng membuat paspor hijau, entah untuk tujuan apa. Selain itu, dia merupakan salah satu dari sedikit karyawan yang mengajukan dirinya untuk mengikuti seminar ke luar negeri ini. Mungkin banyak teman-teman sekantornya yang tidak cukup percaya diri dengan kemampuan berbahasa asingnya sehingga banyak di antaranya yang memilih untuk tidak mengajukan diri.
Keberangkatannya ke luar negeri ini seperti sudah dipersiapkan Tuhan dari jauh-jauh hari. Mulai dari paspor, kemampuan berbahasa, dan juga keinginannya untuk maju. Beruntungnya lagi, di luar negeri, dia termasuk orang yang cepat mengikuti materi yang disajikan dan juga dengan cepat bergaul dengan perwakilan-perwakilan negara lain dengan kemampuan bergaul dan berbahasanya. Menurut ceritanya, ternyata tidak semua peserta seminar itu mampu bergaul dengan baik dan mengikuti materi dengan lancar karena terkendala bahasa. Beruntung baginya itu tak menghalanginya.
Dari ceritanya, aku jadi mempunyai pemikiran lain. Ternyata, Tuhan menciptakan kita bukan tanpa rencana. Tuhan punya rencana buat masing-masing kita. Dengan rencana dan tujuan yang berbeda-beda, otomatis, Tuhan pun akan memperlakukan kita secara berbeda. Ada orang yang ditempatkan Tuhan di tengah hutan. Di sana dia mengajar anak-anak suku pedalaman. Menolong banyak orang dengan apa yang ia lakukan. Ada yang Tuhan tempatkan di pusat-pusat pemerintahan, di perkotaan, di pedesaan, dan di manapun. Tuhan memperlakukan berbeda masing-masing dari kita.
Untuk setiap tujuan rencanaNya itu, Tuhan mempersiapkan masing-masing kita. Mungkin saat ini kita tak mengerti apa yang sedang kita alami. Mungkin kita seringkali mengeluh dengan apa yang sering kita sebut dengan penderitaan. Atau mungkin saat ini kita sedang iri dan merasa banyak orang lebih beruntung dari kita. Satu hal yang bisa kukatakan, percayalah rencanaNya adalah baik. Kita berada di tempat yang berbeda, berada dalam kondisi berbeda, dan mengalami pengalaman yang berbeda. Semua itu tak lepas dari rencana indahNya yang berbeda untuk masing-masing kita.
Inilah yang membuatku bersyukur dengan apa yang aku punya dan aku alami sampai saat ini. Hal ini menyadarkanku bahwa aku sedang disiapkan Tuhan untuk sesuatu.
Lalu aku teringat dengan suatu keinginanku yang sudah lama tersimpan dalam hatiku. Keinginan tentang membuat sebuah rumah tinggal bagi orang-orang tak mampu. Di sana, mereka dapat tinggal, belajar, mengasah kemampuannya, mengembangkan bakatnya, dan pada akhirnya mereka dapat meningkatkan taraf hidupnya. Tujuan akhir dari keinginanku adalah untuk memajukan Indonesia. Aku begitu mencintai negeri ini. Dan aku sadar, aku ini kecil jika dibandingkan negaraku. Mungkin aku tak bisa mengubah Indonesia ini secara besar-besaran. Tapi setidaknya, ketika aku dapat mewujudkan mimpiku ini, ada beberapa orang yang terangkat taraf hidupnya. Dan mereka ini lah yang aku harapkan akan mengembangkan cita-citaku lebih luas lagi. Semakin berkembang, semakin luas, maka akan semakin maju Indonesiaku.
Ah, ini hanya impianku. Tapi aku masih punya pengharapan bahwa mimpiku ini akan terwujud.
Mungkin inilah rencana Tuhan menempatkanku di tempat yang berbeda. Bagaimana denganmu?

Dan inilah tanggapan sahabatku tentang tulisanku ini.
Mimpi kita dicapai bukan pada saat mimpi itu menjadi kenyataan, tapi pada saat kita menyerahkannya ke tangan Tuhan. Karena saat kita menyerahkan mimpi kita kepada Tuhan, mimpi Tuhan lah yang akan terjadi dalam kehidupan kita... dan percayalah sahabatku, ngga akan pernah habisnya kamu bersyukur ketika mimpi Tuhan itu menjadi kenyataan..

Selasa, 26 Juni 2012

kepahitan yang manis


Siang ini aku duduk di depan komputerku. Awalnya aku ingin mengerjakan tugas yang harus terkumpul besok. Daripada sepi, pikirku, aku memutar lagu saja. Dan kuputarlah lagu-lagunya Christina Perri. Seketika aku seperti terbawa ke masa lalu. Ya, masa itu.
...
Tiba-tiba aku merasa getir di hatiku. Teringat rasa yang sendu.
Aku teringat bagaimana hari-hariku yang nampak kelabu walaupun sinar matahari dengan semangatnya sedang membakar bumi.
Aku teringat di mana hari-hariku dibasahi oleh tangisan malam.
Waktu itu aku hanya berteman sepi.
Angin dingin serasa mengikutiku ke manapun aku melangkah.
Malam selalu menjadi pelampiasan kegundahanku.
Kapalku kandas ditinggal pemiliknya.
Aku seperti berdiri di tepi pantai di tengah malam. Menunggu kapalku datang menjemputku.
Kembali angin pantai menghiburku. Tapi yang kurasa hanya dingin dan sepi.
Semakin lama aku berdiri di sana, semakin beku hatiku.
Aku merasakan pahit yang tak terobati.
Racun-racun kerinduan ini tak dapat ditawarkan lagi oleh hatiku yang telah beku.
Setiap kemanisan yang kurasa telah menjadi pahit oleh racun ini.
Lalu aku serasa mati dan menghitam ditelan kabut pagi.
 ...
Cukup…semua kepahitan ini telah kukenang menjadi manis…dan pagiku telah menjadi baru....