Setiap orang Tuhan ciptakan
menurut apa yang Ia mau. Ada kulit putih, ada kulit hitam, ada kulit kuning,
ada juga kulit coklat. Tiap orang berbeda. Berbeda secara fisik, berbeda juga
cara berperilaku. Di tengah perbedaan itu, Tuhan juga memberi perlakuan yang
berbeda bagi kita. Tapi tau gak, Tuhan gak pernah bermaksud untuk lebih
mengasihi yang satu dan mengacuhkan yang lain dengan perlakuan yang berbeda
itu.
Seseorang kadang menganggap yang
lain lebih beruntung dari dirinya. Tapi percayalah, ada orang lain yang
menganggapnya lebih beruntung. Seorang yang kaya mungkin dianggap lebih
beruntung dari seorang miskin. Tapi mungkin juga ada orang kaya yang merasa si
miskin ini lebih beruntung darinya.
Yang ingin aku ceritakan di sini
bukanlah tentang hal-hal yang sangat rohani dan bersifat menggurui. Aku hanya
ingin berbagi apa yang telah memberkatiku dan membuatku bersyukur. Aku
membagikannya bukan untuk menunjukkan diriku hebat, aku hanya berharap orang
lain bisa terberkati dan mensyukuri apa yang ia alami.
Cerita ini berawal dari
persahabatanku dengan seorang yang kutemui pada masa kuliah dulu. Kami berbeda
jurusan, tetapi kami satu pelayanan dalam persekutuan di kampus kami. Setelah
kami lulus kuliah, kami sempat tidak berkomunikasi cukup lama. Ya, bisa
kumaklumi. Aku sibuk beradaptasi dengan lingkungan baruku, yaitu lingkungan
kerja di tempat baru. Demikian juga dirinya. Setelah beberapa lama, kami
kembali berkomunikasi, entah karena apa dahulu itu. Karena apa pun itu, kurasa tak terlalu penting.
Mungkin saja rasa rindu dari persahabatan kami yang membuat kami saling mencari
satu sama lain.
Dalam kesibukan kami, kami masih
cukup sering berinteraksi. Kadang melalui sosial media, kadang melalui
messenger, ataupun dengan bertelepon dan berkirim sms. Kami berbagi apa yang
kami alami. Sering sekali kami menceritakan banyak hal tetang masalah yang kami
alami. Bahkan masalah yang sekiranya orang lain tak mampu memahami, kami saling
mempercayai bahwa masing-masing dari kami akan memahami dan mengerti keadaan
kami. Misalnya, ketika menghadapi masalah keluarga, aku yakin tidak semua orang
akan mengerti posisi kami, tapi kami tetap membicarakannya dalam obrolan kami.
Kami percaya dengan membagikannya satu sama lain, yang lain akan menguatkan dan
mendoakannya.
Waktu berjalan. Dan sampailah
pada hari di mana dia terpilih mewakili Indonesia dalam seminar ke luar negeri.
Tak pernah dibayangkannya dia akan pergi ke luar negeri dengan momen seperti
ini, bahkan untuk mewakili Indonesia, dalam hal ini mewakili instansinya. Aku
berpikir, betapa hebatnya temanku yang satu ini. Ya, aku kagum dan bangga
padanya. Aku berpikir dia sangat beruntung. Dia lebih beruntung dari aku. Nah,
dari sini lah timbul pemikiran bahwa Tuhan telah menempatkan dan memperlakukan
manusia ciptaanNya secara berbeda menurut kehendaNya.
Di balik semua hal yang kunilai
merupakan keberuntungan ini, ternyata ada cerita lain yang membuatku bersyukur
akan apa yang aku alami dan miliki saat ini. Sahabatku ini adalah seorang yang
bercita-cita untuk meneruskan kuliah S2 nya di luar negeri. Namun, dalam
perjalanannya, Tuhan tidak mengijinkannya. Ada beberapa kejadian yang
membuatnya mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
Adiknya jatuh sakit, sehingga dia harus terus mendampingi keluarganya. Dan itu
berarti dia tidak mungkin meninggalkan keluarganya jauh-jauh. Mungkin waktu itu
dia tak berpikir bahwa nantinya dia akan tetap bisa ke luar negeri dengan
pengalaman yang luar biasa seperti sekarang ini.
Kisah ini tak cukup berhenti di
sini. Ternyata keberangkatannya ke luar negeri ini cukup mendadak. Bisa
dibilang tidak banyak waktu yang dimiliki untuk mempersiapkannya. Bahkan untuk
mengurus paspor biru.
Beruntungnya, sahabatku ini pernah secara iseng membuat paspor hijau, entah untuk tujuan apa. Selain itu,
dia merupakan salah satu dari sedikit karyawan yang mengajukan dirinya untuk
mengikuti seminar ke luar negeri ini. Mungkin banyak teman-teman sekantornya
yang tidak cukup percaya diri dengan kemampuan berbahasa asingnya sehingga banyak
di antaranya yang memilih untuk tidak mengajukan diri.
Keberangkatannya ke luar negeri
ini seperti sudah dipersiapkan Tuhan dari jauh-jauh hari. Mulai dari paspor,
kemampuan berbahasa, dan juga keinginannya untuk maju. Beruntungnya lagi, di
luar negeri, dia termasuk orang yang cepat mengikuti materi yang disajikan dan
juga dengan cepat bergaul dengan perwakilan-perwakilan negara lain dengan
kemampuan bergaul dan berbahasanya. Menurut ceritanya, ternyata tidak semua
peserta seminar itu mampu bergaul dengan baik dan mengikuti materi dengan
lancar karena terkendala bahasa. Beruntung baginya itu tak menghalanginya.
Dari ceritanya, aku jadi
mempunyai pemikiran lain. Ternyata, Tuhan menciptakan kita bukan tanpa rencana.
Tuhan punya rencana buat masing-masing kita. Dengan rencana dan tujuan yang
berbeda-beda, otomatis, Tuhan pun akan memperlakukan kita secara berbeda. Ada
orang yang ditempatkan Tuhan di tengah hutan. Di sana dia mengajar anak-anak
suku pedalaman. Menolong banyak orang dengan apa yang ia lakukan. Ada yang
Tuhan tempatkan di pusat-pusat pemerintahan, di perkotaan, di pedesaan, dan di
manapun. Tuhan memperlakukan berbeda masing-masing dari kita.
Untuk setiap tujuan rencanaNya
itu, Tuhan mempersiapkan masing-masing kita. Mungkin saat ini kita tak mengerti
apa yang sedang kita alami. Mungkin kita seringkali mengeluh dengan apa yang
sering kita sebut dengan penderitaan. Atau mungkin saat ini kita sedang iri dan
merasa banyak orang lebih beruntung dari kita. Satu hal yang bisa kukatakan,
percayalah rencanaNya adalah baik. Kita berada di tempat yang berbeda, berada
dalam kondisi berbeda, dan mengalami pengalaman yang berbeda. Semua itu tak
lepas dari rencana indahNya yang berbeda untuk masing-masing kita.
Inilah yang membuatku bersyukur
dengan apa yang aku punya dan aku alami sampai saat ini. Hal ini menyadarkanku
bahwa aku sedang disiapkan Tuhan untuk sesuatu.
Lalu aku teringat dengan suatu keinginanku
yang sudah lama tersimpan dalam hatiku. Keinginan tentang membuat sebuah rumah
tinggal bagi orang-orang tak mampu. Di sana, mereka dapat tinggal, belajar,
mengasah kemampuannya, mengembangkan bakatnya, dan pada akhirnya mereka dapat
meningkatkan taraf hidupnya. Tujuan akhir dari keinginanku adalah untuk
memajukan Indonesia. Aku begitu mencintai negeri ini. Dan aku sadar, aku ini
kecil jika dibandingkan negaraku. Mungkin aku tak bisa mengubah Indonesia ini
secara besar-besaran. Tapi setidaknya, ketika aku dapat mewujudkan mimpiku ini,
ada beberapa orang yang terangkat taraf hidupnya. Dan mereka ini lah yang aku
harapkan akan mengembangkan cita-citaku lebih luas lagi. Semakin berkembang,
semakin luas, maka akan semakin maju Indonesiaku.
Ah, ini hanya impianku. Tapi aku
masih punya pengharapan bahwa mimpiku ini akan terwujud.
Mungkin inilah rencana Tuhan
menempatkanku di tempat yang berbeda. Bagaimana denganmu?
Dan inilah tanggapan sahabatku
tentang tulisanku ini.
“Mimpi kita dicapai bukan pada
saat mimpi itu menjadi kenyataan, tapi pada saat kita menyerahkannya ke tangan
Tuhan. Karena saat kita menyerahkan mimpi kita kepada Tuhan, mimpi Tuhan lah
yang akan terjadi dalam kehidupan kita... dan percayalah
sahabatku, ngga akan pernah habisnya kamu bersyukur ketika mimpi Tuhan itu
menjadi kenyataan..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar