Selasa, 17 September 2013

Bukan Akhir

Hari ini adalah hari terakhir kita bertemu di dunia ini. Memang jiwamu telah meninggalkanku beberapa hari lalu, tapi jasadmu baru akan meninggalkanku hari ini. Hari ini akan diadakan upacara ngaben untukmu. Jasadmu akan kembali menjadi debu. Tenang saja, kau tak akan merasakan sakit lagi. Penyakitmu akan terbakar. Jiwamu pun akan tenang.
Jangan lagi mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja.
Seperti katamu, kematian bukanlah akhir. Dan aku akan menyimpan itu dalam benakku. Aku tak akan mengakhiri rasaku padamu. Rasa itu akan selalu ada. Masih akan sama seperti dulu, atau sekarang. Akan kusimpan dengan rapi segala kenangan tentangmu. Akan kubuatkan kotak kenangan khusus untukmu. Kutempatkan di tempat istimewa. Dan kupastikan tak akan ada yang menggesernya.
Jangan takut aku akan sendirian. Aku tak akan merasa sendiri. Bukankah engkau telah menjadi debu dan kembali ke tanah? Jika memang demikian, engkau akan selalu bersamaku. Bersama langkahku yang memijak tanah. Bersama hatiku yang telah kutanam ke dalamnya. Oh, kalau kau masih tak percaya aku tak sendirian, lihatlah, betapa banyaknya orang-orang yang mengiring bukur untukmu. Mereka pasti akan bersamaku. Percayalah.
Jangan menangis melihatku. Kau lihat, kan, aku tak menangis? Aku pastikan aku akan bahagia. Karena bahagiaku adalah bahagiamu. Dan aku tak ingin kau tak bahagia.
Percayalah, aku akan baik-baik saja. Sama seperti aku mempercayai kata-katamu, bahwa ini bukan akhir.
Sampai ketemu, kekasihku.

*bukur: tempat meletakkan peti biasanya berbentuk lembu atau vihara, ada pula yang menyebutnya wadah, terbuat dari kayu dan kertas. (sumber: wikipedia)

Senin, 16 September 2013

Biar Saja

Tadi pagi hujan. Sisa-sisa rintiknya masih setia membasahi bumi. Tidak deras, tapi cukup membuatku sakit, kurasa. Atau mungkin, sakit ini bukan karen hujan? Entahlah. Biar saja hujan menyentuku. Aku hanya mau menutup kepalaku saja. Atau mungkin sebenarnya aku ingin menutup otakku dari pikiran-piran yang mengganggu ini?
Aku masih harus menapaki jalan ini untuk sampai tujuanku. Dua orang temanku sudah di depan. Biar saja. Aku ingin menikmati setiap langkah kakiku. Berat memang. Tapi harus kulangkahkan demi tujuanku.
Mendung masih menggantung.Cukup pekat untuk menurunkan hujan secara tiba-tiba. Ah, biar saja. Aku tak mau berkejaran dengannya. Dia temanku. Setidaknya, pekatnya menggambarkan isi hatiku. Jika dia mau menurunkan hujannya, ya sudah, aku akan menyambutnya.
Dinginnya udara pegunungan ini makin menusuk. Sama seperti hatiku yang telah menjadi dingin. Biar saja. Kami sama-sama dingin.
Jika aku bisa berhenti sekarang, aku ingin berhenti. Jika aku bisa meringkuk sekarang, aku pun ingin melakukannya. Tapi, alam hanya teman. Teman yang megningatkan. Teman yang tak mengijinkanku terpuruk dalam dingin dan gelap. Ia menyuuhku tetap berjalan, walau terseok. Ia menyuruhku tetap berdiri, walau kurasakan berat menopang tubuh ini.
Biar saja. Biar saja pikiran ini mengembara. Biar saja kenangan buruk menyiksa jiwa. Biar saja dingin membekukan hati. Biar saja mendung menurunkan hujannya. Karena setelah ini akan ada pelangi.

Minggu, 15 September 2013

Buah Yang Manis

Kompetisi kadang memang memaksa manusia untuk berusaha. Sama seperti yang kami lakukan. Kami adalah kelompok paduan suara yang masih belum mempunyai banyak anggota. Sudah tak banyak anggotanya, masing-masing anggota ada orang yang cukup sibuk pula.
Di suatu waktu di bulan Agustus, kami ingin sekali mengikuti lomba vocal group. Ya, namanya juga kompetisi, kami pasti berharap menang. Namun, kesibukan ternyata menjadi penghalang utama kami untuk melakukan latihan secara full team. Terpaksalah kami berlatih seadanya anggota.
Beberapa hari sebelum hari H, kami mulai pesimis. Lagu yang seharusnya kami bawakan tanpa partitur, belum bisa kami hafal dengan sempurna. Belum lagi gerakan yang harus dilatin agar tidak terlihat kaku. Di beberapa bagian lagu, juga masih butuh polesan dan latihan agar terdengar bagus dan tidak fals. Namun, meskipun kami pesimis, kami tetap semangat berlatih. Yang penting memberi yang terbaik. Sisanya serahkan pada Tuhan.
Tibalah hari yang membuat kami deg-degan. Kami belum hafal seluruh bagian lagu. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa partitur. Kami tahu, itu akan mengurangi nilai, walaupun tidak ada aturan lomba yang melarangnya. Kami bernyanyi dan memberi yang terbaik yang bisa kami beri. Kami menyanyi dari hati kami.
Selesai menyanyi, kami merasa lega luar biasa. Entah karena apa.
Waktu itu, kami tak berpikir menjadi juara pertama. Kami sadar diri. Dengan membawa partitur dan melihat penampilan kelompok lain, kami merasa kemungkinan besar bukan kami pemenangnya. Tapi harapan untuk menang masih ada. Perpaduan suara kami cukup harmoni, dan aransemen lagu kami lain dari lagu-lagu yang dibawakan oleh kelompok lain.
Saat pengumuman pemenang tiba, kami kaget luar biasa. Ternyata kami juara pertama. Bagi kami, ini anugerah. Sesuatu yang dilakukan dengan hati yang tulus, akan membuahkan sesuatu yang manis. Kalaupun kami tak mendapatkan juara malam itu, kami pasti masih bisa merasakan manisnya perjuangan kami karena kami melakukannya dengan hati kami.


Sabtu, 14 September 2013

Wanita-wanita Tangguh

Ketika Indonesia telah mengakui emansipasi wanita, mungkin itu juga berlaku bagi semua pekerjaan.
Hari ini, aku berkunjung ke dusun Alengkong, Songan. Sebuah dusun di daerah Kintamani, Bali. Dan aku bertemu dengan emansipasi.
Di balik gemerlapnya Bali, di balik eksotisnya Bali, ternyata masih menyimpan kondisi yang sangat jauh dari suasana "menyenangkan". Untuk mencapai dusun Alengkong, kami berkendara sampai danau Kintamani dengan mobil biasa. Setelah itu, kami harus beralih ke mobil pick up, dan sebagian harus naik motor. Ternyata dusun tersebut berada di kawasan yang cukup sulit dijangkau. Jalan yang kami lalui sempit dan berliku. Ditambah berpasir dan berdebu. Mobil kami sempat terhenti karena salah satu mobil tidak sanggup melalui medannya.
Dalam perhentian itu, aku bertemu salah satu bentuk emansipasi, mungkin. Aku melihat beberapa wanita tangguh. Mereka sedang mengaduk semen. Ya, mengaduk semen. Di jalan berliku, menanjak, dan berdebu. Sekali lagi, beberapa, bukan hanya satu. Itu berarti cukup lazim menggunakan tenaga perempuan untuk membangun suatu proyek.
Aku tak tahu mengapa mereka mau bekerja sebagai tukang bangunan. Dan, aku tak mau sok tahu. Mungkin memang sudah lazim. Tapi mungkin juga mereka terpaksa melakukannya.
Yah, apa pun alasannya, bagiku mereka wanita tangguh. Tak hanya berperan sebagai ibu, tetapi juga berperan sebagai pencari nafkah. Salut untuk kalian, wanita-wanita tangguh.

Jumat, 13 September 2013

Lagu Untukmu

Gadis cantik itu datang lagi. Tak seperti biasanya, kali ini dia datang bersama teman-temannya. Sepertinya sedang merayakan ulang tahun salah satu dari mereka.
Aku petik gitarku. Kulantunkan sebuah lagu romantis. Memang ini pekerjaanku, tapi malam ini, dan seperti malam-malam ketika dia hadir di sini, aku menyanyikannya dari hatiku untuknya.
Kulihat dia terdiam di tengah ramainya canda dan tawa teman-temannya. Mungkin dia sedang mendengar laguku. Semoga. Ah, dia tersenyum. Hatiku bergetar. Mungkin dia merasakan rasaku. Mungkin dia mendengar nyanyian hatiku.
Seandainya aku bisa duduk bersamanya. Ini akan menyenangkan. Pantai, angin, dan musik. Romantis.
Kulantunkan lagi sebuah lagu. Kepada angin. Kepada ombak. Teruntuk gadis cantikku.

Kamis, 12 September 2013

Terima Kasih Atilla

"Atillaaaa..."
Aku memasuki rumah sahabatku ini dengan tak sabar. Kerinduanku pada anaknya yang belum genap berusia enam bulan yang menarikku ke rumah ini. Bukan sahabatku yang pertama kucari, melainkan anaknya.
"Coba liat, tante bawa apa buat kamu, sayang." Langsung kugendong Atilla dan kuberikan mainan kesukaannya. Dia tertawa. Rasanya aku sangat bahagia melihatnya tertawa.
Aku semakin sering berkunjung ke rumah ini sejak Atilla lahir. Mungkin ini pelarianku dari rasa kesepian seorang ibu. Tahun ini adalah tahun kelima pernikahanku. Selama itu pula aku selalu menantikan kehadiran tangis bayi. Pernah aku merasakan kehamilan, tapi hanya 3 bulan saja. Janin di rahimku tak berkembang. Aku pun harus belajar merelakannya.
Namun, aku masih beruntung. Suamiku mengerti keadaanku. Bukan salahku ataupun salahnya jika sampai sekarang kami belum bisa menimang anak kami. Semuanya sudah diatur. Begitu katanya.
Dan di sinilah aku sekarang. Tertawa bersama Atilla.
Beban-bebanku terasa hilang ketika aku melihat tingkah lucunya. Jiwaku terpuaskan oleh kasih tulus seorang bayi yang bahkan belum mengerti apa itu kasih.
Terima kasih Atilla.

Rabu, 11 September 2013

Abadi

Sekali lagi aku memandangimu. Tak pernah aku bosan. Tidak sekalipun.
Kali ini, aku melihatmu hanya berbaring seharian. Memejamkan mata walau tak bisa tertidur. Sesekali erangan kecil keluar dari bibirmu. Mungkin tubuh tuamu memang sudah lelah berjalan bersama waktu. Atau memang engkau sedang sangat merindukanku?
Hei, lihatlah, anakmu sedang bingung sekarang. Dari pagi kau tak menyentuh sama sekali makananmu. Pantaslah badanmu lemah. Kau pun tak menjawab setiap kata yang diucapkannya. Semoga kelemahan tubuhmu ini tak menjadi pintu masuk bagi penyakit. Aku tak ingin kau sakit. Kurasa usiamu sudah cukup menyiksamu, jadi jangan menambah bebanmu sendiri.
Bersabarlah, kekasihku. Kita pasti bertemu. Jangan mendahului sang waktu. Tetaplah kuat. Aku tak jauh darimu.
Aku, wanitamu ini, akan bersabar menantimu...di keabadian...