Minggu, 15 September 2013

Buah Yang Manis

Kompetisi kadang memang memaksa manusia untuk berusaha. Sama seperti yang kami lakukan. Kami adalah kelompok paduan suara yang masih belum mempunyai banyak anggota. Sudah tak banyak anggotanya, masing-masing anggota ada orang yang cukup sibuk pula.
Di suatu waktu di bulan Agustus, kami ingin sekali mengikuti lomba vocal group. Ya, namanya juga kompetisi, kami pasti berharap menang. Namun, kesibukan ternyata menjadi penghalang utama kami untuk melakukan latihan secara full team. Terpaksalah kami berlatih seadanya anggota.
Beberapa hari sebelum hari H, kami mulai pesimis. Lagu yang seharusnya kami bawakan tanpa partitur, belum bisa kami hafal dengan sempurna. Belum lagi gerakan yang harus dilatin agar tidak terlihat kaku. Di beberapa bagian lagu, juga masih butuh polesan dan latihan agar terdengar bagus dan tidak fals. Namun, meskipun kami pesimis, kami tetap semangat berlatih. Yang penting memberi yang terbaik. Sisanya serahkan pada Tuhan.
Tibalah hari yang membuat kami deg-degan. Kami belum hafal seluruh bagian lagu. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa partitur. Kami tahu, itu akan mengurangi nilai, walaupun tidak ada aturan lomba yang melarangnya. Kami bernyanyi dan memberi yang terbaik yang bisa kami beri. Kami menyanyi dari hati kami.
Selesai menyanyi, kami merasa lega luar biasa. Entah karena apa.
Waktu itu, kami tak berpikir menjadi juara pertama. Kami sadar diri. Dengan membawa partitur dan melihat penampilan kelompok lain, kami merasa kemungkinan besar bukan kami pemenangnya. Tapi harapan untuk menang masih ada. Perpaduan suara kami cukup harmoni, dan aransemen lagu kami lain dari lagu-lagu yang dibawakan oleh kelompok lain.
Saat pengumuman pemenang tiba, kami kaget luar biasa. Ternyata kami juara pertama. Bagi kami, ini anugerah. Sesuatu yang dilakukan dengan hati yang tulus, akan membuahkan sesuatu yang manis. Kalaupun kami tak mendapatkan juara malam itu, kami pasti masih bisa merasakan manisnya perjuangan kami karena kami melakukannya dengan hati kami.


Sabtu, 14 September 2013

Wanita-wanita Tangguh

Ketika Indonesia telah mengakui emansipasi wanita, mungkin itu juga berlaku bagi semua pekerjaan.
Hari ini, aku berkunjung ke dusun Alengkong, Songan. Sebuah dusun di daerah Kintamani, Bali. Dan aku bertemu dengan emansipasi.
Di balik gemerlapnya Bali, di balik eksotisnya Bali, ternyata masih menyimpan kondisi yang sangat jauh dari suasana "menyenangkan". Untuk mencapai dusun Alengkong, kami berkendara sampai danau Kintamani dengan mobil biasa. Setelah itu, kami harus beralih ke mobil pick up, dan sebagian harus naik motor. Ternyata dusun tersebut berada di kawasan yang cukup sulit dijangkau. Jalan yang kami lalui sempit dan berliku. Ditambah berpasir dan berdebu. Mobil kami sempat terhenti karena salah satu mobil tidak sanggup melalui medannya.
Dalam perhentian itu, aku bertemu salah satu bentuk emansipasi, mungkin. Aku melihat beberapa wanita tangguh. Mereka sedang mengaduk semen. Ya, mengaduk semen. Di jalan berliku, menanjak, dan berdebu. Sekali lagi, beberapa, bukan hanya satu. Itu berarti cukup lazim menggunakan tenaga perempuan untuk membangun suatu proyek.
Aku tak tahu mengapa mereka mau bekerja sebagai tukang bangunan. Dan, aku tak mau sok tahu. Mungkin memang sudah lazim. Tapi mungkin juga mereka terpaksa melakukannya.
Yah, apa pun alasannya, bagiku mereka wanita tangguh. Tak hanya berperan sebagai ibu, tetapi juga berperan sebagai pencari nafkah. Salut untuk kalian, wanita-wanita tangguh.

Jumat, 13 September 2013

Lagu Untukmu

Gadis cantik itu datang lagi. Tak seperti biasanya, kali ini dia datang bersama teman-temannya. Sepertinya sedang merayakan ulang tahun salah satu dari mereka.
Aku petik gitarku. Kulantunkan sebuah lagu romantis. Memang ini pekerjaanku, tapi malam ini, dan seperti malam-malam ketika dia hadir di sini, aku menyanyikannya dari hatiku untuknya.
Kulihat dia terdiam di tengah ramainya canda dan tawa teman-temannya. Mungkin dia sedang mendengar laguku. Semoga. Ah, dia tersenyum. Hatiku bergetar. Mungkin dia merasakan rasaku. Mungkin dia mendengar nyanyian hatiku.
Seandainya aku bisa duduk bersamanya. Ini akan menyenangkan. Pantai, angin, dan musik. Romantis.
Kulantunkan lagi sebuah lagu. Kepada angin. Kepada ombak. Teruntuk gadis cantikku.

Kamis, 12 September 2013

Terima Kasih Atilla

"Atillaaaa..."
Aku memasuki rumah sahabatku ini dengan tak sabar. Kerinduanku pada anaknya yang belum genap berusia enam bulan yang menarikku ke rumah ini. Bukan sahabatku yang pertama kucari, melainkan anaknya.
"Coba liat, tante bawa apa buat kamu, sayang." Langsung kugendong Atilla dan kuberikan mainan kesukaannya. Dia tertawa. Rasanya aku sangat bahagia melihatnya tertawa.
Aku semakin sering berkunjung ke rumah ini sejak Atilla lahir. Mungkin ini pelarianku dari rasa kesepian seorang ibu. Tahun ini adalah tahun kelima pernikahanku. Selama itu pula aku selalu menantikan kehadiran tangis bayi. Pernah aku merasakan kehamilan, tapi hanya 3 bulan saja. Janin di rahimku tak berkembang. Aku pun harus belajar merelakannya.
Namun, aku masih beruntung. Suamiku mengerti keadaanku. Bukan salahku ataupun salahnya jika sampai sekarang kami belum bisa menimang anak kami. Semuanya sudah diatur. Begitu katanya.
Dan di sinilah aku sekarang. Tertawa bersama Atilla.
Beban-bebanku terasa hilang ketika aku melihat tingkah lucunya. Jiwaku terpuaskan oleh kasih tulus seorang bayi yang bahkan belum mengerti apa itu kasih.
Terima kasih Atilla.

Rabu, 11 September 2013

Abadi

Sekali lagi aku memandangimu. Tak pernah aku bosan. Tidak sekalipun.
Kali ini, aku melihatmu hanya berbaring seharian. Memejamkan mata walau tak bisa tertidur. Sesekali erangan kecil keluar dari bibirmu. Mungkin tubuh tuamu memang sudah lelah berjalan bersama waktu. Atau memang engkau sedang sangat merindukanku?
Hei, lihatlah, anakmu sedang bingung sekarang. Dari pagi kau tak menyentuh sama sekali makananmu. Pantaslah badanmu lemah. Kau pun tak menjawab setiap kata yang diucapkannya. Semoga kelemahan tubuhmu ini tak menjadi pintu masuk bagi penyakit. Aku tak ingin kau sakit. Kurasa usiamu sudah cukup menyiksamu, jadi jangan menambah bebanmu sendiri.
Bersabarlah, kekasihku. Kita pasti bertemu. Jangan mendahului sang waktu. Tetaplah kuat. Aku tak jauh darimu.
Aku, wanitamu ini, akan bersabar menantimu...di keabadian...

Sabtu, 10 Agustus 2013

Bandara, kenangan, kita.

Ada yang bilang, bandara adalah tempat yang penuh kenangan. Mungkin itu benar. Bandara selalu berhasil membuatku mengenang sesuatu. Kebanyakan masih kenangan indah, walaupun akhir dari kenangan tersebut masih terselip kesedihan.
Dan sekali lagi, bandara telah berhasil membentuk kenangan lucu, manis, tetapi cukup menyenangkan. Aku bertemu denganmu waktu itu. Ah, sebenarnya tak bisa dianggap pertemuan. Tak ada percakapan di antara kita. Bahkan tak ada perkenalan. Aku hanya melihatmu, dan kau pun melihatku.
Aku melihatmu pertama kali ketika boarding. Kau berada di depanku, jadi, mau tak mau aku pasti melihatmu. Waktu itu aku tak terlalu peduli. Hanya sebatas aku bisa mengingatmu sama seperti aku mengingat wajah orang yang menitipkan tasnya padaku sewaktu ia hendak ke toilet.
Kenangan mulai terbentuk ketika kita turun dari pesawat. Ternyata kau turun setelah hampir semua penumpang turun. Sama sepertiku. Mungkin kita adalah orang yang sama-sama malas berdiri berdesakan, jadi lebih memilih menunggu sebentar agar tidak berdesakan. Setelah turun dari pesawat, ternyata kita harus menunggu bus dulu.
Tapi ternyata malam sedang berbaik hati. Ia mengijinkan kita melihat bintangnya sambil menunggu bus. Tak ada awan yang menutupi. Bintang bertebaran indah sekali. Aku melihatmu mendongak ke atas untuk beberapa saat lamanya. Sepertinya kau menikmati pemandangan yang disuguhkan malam. Sama sepertiku. Mungkin kita sedang melihat bintang yang sama.
Akhirnya bus datang. Entah mengapa, kau seperti mendekatiku. Bediri di sampingku. Tapi, masih tanpa percakapan.
Ah, busnya ternyata tak muat menampung sisa penumpang yang ada. Ya, sudah, aku memilih menunggu bus yang berikutnya. Kulihat ke samping. Oh, kau pun memilih menunggu rupanya. Padahal kan kau bisa saja masuk ke bus tadi. Bawaanmu tak banyak. Kesempatan untuk masuk bus juga ada.
Bus yang selanjutnya datang, dan inilah yang membawa kita menuju terminal kedatangan. Aku mendapatkan tempat duduk, kau berdiri. Sempat aku mendapatimu melihat ke arahku seakan-akan memastikan aku ada di dalam bus itu. Ah, mungkin itu hanya rasa GR ku saja.
Sampai di terminal kedatangan. Tentu saja kau turun duluan karena kau berdiri di dekat pintu bus. Sedangkan aku masih duduk agak jauh dari pintu. Aku tak berpikir kau akan menungguku.
Entah angin mana yang membisikimu. Kau tidak langsung keluar. Tapi waktu itu aku berpikir kau sedang menunggu barang-barangmu yang masuk ke bagasi. Aku salah. Kau menungguku. Ah, tapi mungkin ini rasa GR yang semakin bertambah. Ah, tapi begitu kau melihatku dan aku sudah di sampingmu, kau melanjutkan perjalananmu, tidak menunggu barang. 
Tetap saja tak ada pembicaraan. Sampai akhirnya kita sudah di luar terminal kedatangan dan berpisah pun tak ada pembicaraan. Aku ke kanan, kau ke kiri. Kita berpisah.
Aku selalu tersenyum jika mengenang itu. Bandara memang sangat mahir dalam menciptakan kenangan. Seperti sekarang, dia tengah mengukir kenangan lain akan kita.
Kuambil cangkir kopiku, kusesap. Kau melihatku, aku tersenyum. Kuletakkan kopiku, ingin kuraih tanganmu. Ah, kau duluan yang mendapatkan tanganku. Memegangku erat. Seolah kau mengerti bahwa aku sedang mengenang perjumpaan kita. Memegangku erat. Karena kita akan memulai perjalanan hidup kita yang baru.

Jumat, 02 Agustus 2013

Karena malam mendengar kebencian

"Aku benciii!!!"
Aku berteriak kepada sunyi. Hanya malam yang mendengar. Ya, aku memang sedang bercerita kepada malam.
Lalu aku meringkuk. Menangis dalam dekapan angin dingin. Malam hanya berdiam.
Aku menumpahkan rasaku padanya. Rasa yang sama pekatnya dengan dirinya.
Mengapa aku membenci? Padahal aku hanya medengar, atau bahkan hanya membaca satu kata. Seolah kata itu adalah kunci yang bisa membuka peti berisi kemarahan, kedengkian, dan segala hal yang negatif.
Tapi malam hanya diam. Mungkin ia tak setuju denganku. Tapi mungkin dia ingin aku mengerti dengan jalanku sendiri.
Tunggu...ternyata malam sedang menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk menyeretku menuju gelap yang lebih pekat. Malam mengurungku dalam kesunyian dan kepekatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku meraba tapi tak kusentuh apa-apa. Aku berjalan, tapi rasanya tak ada pembatas untuk pekat ini. Sampai aku berlaripun, aku tak menabrak apapun.
Aku mulai panik. Apakah aku bisa keluar dari pekat ini? Atau aku akan terkurung untuk selamanya di sini?
Lelah aku mencari jalan. Akhirnya aku terduduk lemas. Samar aku mendengar ada yang berbisik memanggil namaku.
"Jingga..Jingga..."
Sontak aku mendongak, menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari asal suara. Bodohnya. Aku lupa aku sedang terkurung pekat. Mana mungkin aku dapat melihat wujud dari yang memanggilku. Akhirnya aku memutuskan untuk diam. Menunggunya memanggilku.
"Jingga..rasakanlah pekat ini. Ini adalah rasamu. Amarah yang bercampur kebencian. Seperti inilah rasamu. Pekat."
Aku terdiam.
"Nyamankah kamu dengan pekat ini? Kulihat kamu tak nyaman."
"Ya," jawabku singkat.
"Sekarang, tenangkan dirimu. Jangan membenci, karena kebencian hanya akan mengurungmu dalam kegelapan seperti ini. Carilah jalan keluarmu dengan mendengarkan tuntunan hatimu."
"Mengapa aku harus mendengarmu?"
"Karena aku adalah malam. Aku mendengar kebencian. Ia tak ingin berada bersamamu."