Aku berteriak kepada sunyi. Hanya malam yang mendengar. Ya, aku memang sedang bercerita kepada malam.
Lalu aku meringkuk. Menangis dalam dekapan angin dingin. Malam hanya berdiam.
Aku menumpahkan rasaku padanya. Rasa yang sama pekatnya dengan dirinya.
Mengapa aku membenci? Padahal aku hanya medengar, atau bahkan hanya membaca satu kata. Seolah kata itu adalah kunci yang bisa membuka peti berisi kemarahan, kedengkian, dan segala hal yang negatif.
Tapi malam hanya diam. Mungkin ia tak setuju denganku. Tapi mungkin dia ingin aku mengerti dengan jalanku sendiri.
Tunggu...ternyata malam sedang menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk menyeretku menuju gelap yang lebih pekat. Malam mengurungku dalam kesunyian dan kepekatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku meraba tapi tak kusentuh apa-apa. Aku berjalan, tapi rasanya tak ada pembatas untuk pekat ini. Sampai aku berlaripun, aku tak menabrak apapun.
Aku mulai panik. Apakah aku bisa keluar dari pekat ini? Atau aku akan terkurung untuk selamanya di sini?
Lelah aku mencari jalan. Akhirnya aku terduduk lemas. Samar aku mendengar ada yang berbisik memanggil namaku.
"Jingga..Jingga..."
Sontak aku mendongak, menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari asal suara. Bodohnya. Aku lupa aku sedang terkurung pekat. Mana mungkin aku dapat melihat wujud dari yang memanggilku. Akhirnya aku memutuskan untuk diam. Menunggunya memanggilku.
"Jingga..rasakanlah pekat ini. Ini adalah rasamu. Amarah yang bercampur kebencian. Seperti inilah rasamu. Pekat."
Aku terdiam.
"Nyamankah kamu dengan pekat ini? Kulihat kamu tak nyaman."
"Ya," jawabku singkat.
"Sekarang, tenangkan dirimu. Jangan membenci, karena kebencian hanya akan mengurungmu dalam kegelapan seperti ini. Carilah jalan keluarmu dengan mendengarkan tuntunan hatimu."
"Mengapa aku harus mendengarmu?"
"Karena aku adalah malam. Aku mendengar kebencian. Ia tak ingin berada bersamamu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar