Kamis, 12 September 2013

Terima Kasih Atilla

"Atillaaaa..."
Aku memasuki rumah sahabatku ini dengan tak sabar. Kerinduanku pada anaknya yang belum genap berusia enam bulan yang menarikku ke rumah ini. Bukan sahabatku yang pertama kucari, melainkan anaknya.
"Coba liat, tante bawa apa buat kamu, sayang." Langsung kugendong Atilla dan kuberikan mainan kesukaannya. Dia tertawa. Rasanya aku sangat bahagia melihatnya tertawa.
Aku semakin sering berkunjung ke rumah ini sejak Atilla lahir. Mungkin ini pelarianku dari rasa kesepian seorang ibu. Tahun ini adalah tahun kelima pernikahanku. Selama itu pula aku selalu menantikan kehadiran tangis bayi. Pernah aku merasakan kehamilan, tapi hanya 3 bulan saja. Janin di rahimku tak berkembang. Aku pun harus belajar merelakannya.
Namun, aku masih beruntung. Suamiku mengerti keadaanku. Bukan salahku ataupun salahnya jika sampai sekarang kami belum bisa menimang anak kami. Semuanya sudah diatur. Begitu katanya.
Dan di sinilah aku sekarang. Tertawa bersama Atilla.
Beban-bebanku terasa hilang ketika aku melihat tingkah lucunya. Jiwaku terpuaskan oleh kasih tulus seorang bayi yang bahkan belum mengerti apa itu kasih.
Terima kasih Atilla.

Rabu, 11 September 2013

Abadi

Sekali lagi aku memandangimu. Tak pernah aku bosan. Tidak sekalipun.
Kali ini, aku melihatmu hanya berbaring seharian. Memejamkan mata walau tak bisa tertidur. Sesekali erangan kecil keluar dari bibirmu. Mungkin tubuh tuamu memang sudah lelah berjalan bersama waktu. Atau memang engkau sedang sangat merindukanku?
Hei, lihatlah, anakmu sedang bingung sekarang. Dari pagi kau tak menyentuh sama sekali makananmu. Pantaslah badanmu lemah. Kau pun tak menjawab setiap kata yang diucapkannya. Semoga kelemahan tubuhmu ini tak menjadi pintu masuk bagi penyakit. Aku tak ingin kau sakit. Kurasa usiamu sudah cukup menyiksamu, jadi jangan menambah bebanmu sendiri.
Bersabarlah, kekasihku. Kita pasti bertemu. Jangan mendahului sang waktu. Tetaplah kuat. Aku tak jauh darimu.
Aku, wanitamu ini, akan bersabar menantimu...di keabadian...

Sabtu, 10 Agustus 2013

Bandara, kenangan, kita.

Ada yang bilang, bandara adalah tempat yang penuh kenangan. Mungkin itu benar. Bandara selalu berhasil membuatku mengenang sesuatu. Kebanyakan masih kenangan indah, walaupun akhir dari kenangan tersebut masih terselip kesedihan.
Dan sekali lagi, bandara telah berhasil membentuk kenangan lucu, manis, tetapi cukup menyenangkan. Aku bertemu denganmu waktu itu. Ah, sebenarnya tak bisa dianggap pertemuan. Tak ada percakapan di antara kita. Bahkan tak ada perkenalan. Aku hanya melihatmu, dan kau pun melihatku.
Aku melihatmu pertama kali ketika boarding. Kau berada di depanku, jadi, mau tak mau aku pasti melihatmu. Waktu itu aku tak terlalu peduli. Hanya sebatas aku bisa mengingatmu sama seperti aku mengingat wajah orang yang menitipkan tasnya padaku sewaktu ia hendak ke toilet.
Kenangan mulai terbentuk ketika kita turun dari pesawat. Ternyata kau turun setelah hampir semua penumpang turun. Sama sepertiku. Mungkin kita adalah orang yang sama-sama malas berdiri berdesakan, jadi lebih memilih menunggu sebentar agar tidak berdesakan. Setelah turun dari pesawat, ternyata kita harus menunggu bus dulu.
Tapi ternyata malam sedang berbaik hati. Ia mengijinkan kita melihat bintangnya sambil menunggu bus. Tak ada awan yang menutupi. Bintang bertebaran indah sekali. Aku melihatmu mendongak ke atas untuk beberapa saat lamanya. Sepertinya kau menikmati pemandangan yang disuguhkan malam. Sama sepertiku. Mungkin kita sedang melihat bintang yang sama.
Akhirnya bus datang. Entah mengapa, kau seperti mendekatiku. Bediri di sampingku. Tapi, masih tanpa percakapan.
Ah, busnya ternyata tak muat menampung sisa penumpang yang ada. Ya, sudah, aku memilih menunggu bus yang berikutnya. Kulihat ke samping. Oh, kau pun memilih menunggu rupanya. Padahal kan kau bisa saja masuk ke bus tadi. Bawaanmu tak banyak. Kesempatan untuk masuk bus juga ada.
Bus yang selanjutnya datang, dan inilah yang membawa kita menuju terminal kedatangan. Aku mendapatkan tempat duduk, kau berdiri. Sempat aku mendapatimu melihat ke arahku seakan-akan memastikan aku ada di dalam bus itu. Ah, mungkin itu hanya rasa GR ku saja.
Sampai di terminal kedatangan. Tentu saja kau turun duluan karena kau berdiri di dekat pintu bus. Sedangkan aku masih duduk agak jauh dari pintu. Aku tak berpikir kau akan menungguku.
Entah angin mana yang membisikimu. Kau tidak langsung keluar. Tapi waktu itu aku berpikir kau sedang menunggu barang-barangmu yang masuk ke bagasi. Aku salah. Kau menungguku. Ah, tapi mungkin ini rasa GR yang semakin bertambah. Ah, tapi begitu kau melihatku dan aku sudah di sampingmu, kau melanjutkan perjalananmu, tidak menunggu barang. 
Tetap saja tak ada pembicaraan. Sampai akhirnya kita sudah di luar terminal kedatangan dan berpisah pun tak ada pembicaraan. Aku ke kanan, kau ke kiri. Kita berpisah.
Aku selalu tersenyum jika mengenang itu. Bandara memang sangat mahir dalam menciptakan kenangan. Seperti sekarang, dia tengah mengukir kenangan lain akan kita.
Kuambil cangkir kopiku, kusesap. Kau melihatku, aku tersenyum. Kuletakkan kopiku, ingin kuraih tanganmu. Ah, kau duluan yang mendapatkan tanganku. Memegangku erat. Seolah kau mengerti bahwa aku sedang mengenang perjumpaan kita. Memegangku erat. Karena kita akan memulai perjalanan hidup kita yang baru.

Jumat, 02 Agustus 2013

Karena malam mendengar kebencian

"Aku benciii!!!"
Aku berteriak kepada sunyi. Hanya malam yang mendengar. Ya, aku memang sedang bercerita kepada malam.
Lalu aku meringkuk. Menangis dalam dekapan angin dingin. Malam hanya berdiam.
Aku menumpahkan rasaku padanya. Rasa yang sama pekatnya dengan dirinya.
Mengapa aku membenci? Padahal aku hanya medengar, atau bahkan hanya membaca satu kata. Seolah kata itu adalah kunci yang bisa membuka peti berisi kemarahan, kedengkian, dan segala hal yang negatif.
Tapi malam hanya diam. Mungkin ia tak setuju denganku. Tapi mungkin dia ingin aku mengerti dengan jalanku sendiri.
Tunggu...ternyata malam sedang menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk menyeretku menuju gelap yang lebih pekat. Malam mengurungku dalam kesunyian dan kepekatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku meraba tapi tak kusentuh apa-apa. Aku berjalan, tapi rasanya tak ada pembatas untuk pekat ini. Sampai aku berlaripun, aku tak menabrak apapun.
Aku mulai panik. Apakah aku bisa keluar dari pekat ini? Atau aku akan terkurung untuk selamanya di sini?
Lelah aku mencari jalan. Akhirnya aku terduduk lemas. Samar aku mendengar ada yang berbisik memanggil namaku.
"Jingga..Jingga..."
Sontak aku mendongak, menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari asal suara. Bodohnya. Aku lupa aku sedang terkurung pekat. Mana mungkin aku dapat melihat wujud dari yang memanggilku. Akhirnya aku memutuskan untuk diam. Menunggunya memanggilku.
"Jingga..rasakanlah pekat ini. Ini adalah rasamu. Amarah yang bercampur kebencian. Seperti inilah rasamu. Pekat."
Aku terdiam.
"Nyamankah kamu dengan pekat ini? Kulihat kamu tak nyaman."
"Ya," jawabku singkat.
"Sekarang, tenangkan dirimu. Jangan membenci, karena kebencian hanya akan mengurungmu dalam kegelapan seperti ini. Carilah jalan keluarmu dengan mendengarkan tuntunan hatimu."
"Mengapa aku harus mendengarmu?"
"Karena aku adalah malam. Aku mendengar kebencian. Ia tak ingin berada bersamamu."

Rabu, 31 Juli 2013

Seharusnya..ah, ini hanya anganku..

Aku duduk di tengah keramaian manusia taman, bercengkerama dengan alam, menikmati tiupan lembut angin pantai. Sekelompok pemusik sedang menunaikan tugas yang telah menjadi hobi mereka. Bermusik menghibur penikmat alam. Suasana yang sempurna untuk mengantarku berjalan bersama anganku. Berjalan bersama kenangan. Ah, selalu saja kenangan.
Petikan gitar berpadu tabuhan drum membentuk harmoni mengiringi lagu-lagu romantis yang mengalun merdu. Ini menyenangkan jiwa. Sungguh, seharusnya ini menjadi menyenangkan. Seharusnya. Namun, tidak bagi jiwaku. Tidak untuk sekarang.
Tak usah tanya mengapa, karena aku pun tak akan bisa meberi jawabnya.
Seharusnya engkau ada di sini. Seharusnya ini menjadi kisah romantis kita. Seharusnya hati dan jiwa kita bersatu bersama lagu. Aku akan meletakkan kepalaku ke pundakmu. Engkau akan menggenggam erat jemariku. Suatu keyakinan akan kebersamaan yang tak akan lekang oleh waktu. Kita, lagu, dan waktu.
Ini hanya anganku. Angan yang terbang bebas membentangkan sayapnya. Angan yang akan berjalan seiring dengan kenangan.
Sampai jumpa wahai engkau dalam kenangan. Sampai jumpa ketika angan telah menjadi nyata.

Sabtu, 27 Juli 2013

Lelaki dengan sepeda tua

Hampir setiap hari aku melihatnya mengayuh sepedanya. Seorang anak kecil duduk di belakangnya. Dengan kekuatan yg sudah tidak muda lagi, ia mengayuh sepedanya menuju sebuah sekolah. Setiap hari, setiap cucunya bersekolah.
Tak pernah ia terburu-buru mengayuh sepedanya. Mungkin karena usia.
Ketika cucunya sudah masuk ke sekolah dasar, dibiarkannya si cucu berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Sedangkan dia, tetap setia mengayuh sepedanya mengantar cucunya yang lain.
Tak pernah kulihat kakek itu mengeluhkan pekerjaannya mengantar cucu-cucunya.
Waktu bergulir, cucu-cucu sudah beranjak besar. Tak ada yang perlu diantar. Namun, suatu ketika, aku melihatnya lagi mengayuh sepedanya ke sekolah dasar tempat cucunya bersekolah. Ternyata dia sedang menjemput cucunya yang kedua. Kulihat si cucu tidak dalam kondisi yang baik. Kakinya pincang. Ternyata cucunya baru saja kecelakaan sehingga tulang keringnya patah. Dan waktu itu kakinya belum pulih. Sang kakek dengan penuh kasih mengantar jemputnya dengan sepeda.
Bukan suatu hal yang mudah mengantar jemput si cucu dengan sepedanya. Dia harus berhati-hati benar agar cucunya tidak cedera lagi.
Ketika cucu-cucunya sudah tak perlu lagi diantar jemput, sang kakek masih kulihat sering mengendarai sepedanya. Ia sering pergi ke pasar membeli beberapa barang kesukaannya, untuk memenuhi hobinya.
Sekarang, ketika cucu-cucunya sudah beranjak dewasa, tak pernah lagi kulihat si kakek dan sepedanya. Pernah kudengar si kakek jatuh sakit. Sakit karena usia. Mungkin karena itulah keluarganya sudah tak memperbolehkannya mengayuh sepedanya.
Suatu waktu, aku pergi mengunjungi rumah si kakek. Ya, kakek memang tidak sesegar yang kulihat dulu. Namun, aku masih melihat semangatnya. Semangat yang terbungkus dalam tubuh rentanya. Aku menanyakan kabarnya. Dia mengatakan bahwa dirinya memang tak lagi muda, tak lagi bisa bersepeda. Ia juga sudah berpasrah diri kepada Yang Kuasa jika sewaktu-waktu Ia memanggilnya.
Lalu aku berkeliling di sekitar rumahnya. Aku melihat sepeda tuanya. Setua tuannya, serenta pengendaranya. Namun masih terlihat gagah.
Kakek dan sepeda tuanya, teruslah berjuang dalam semangatmu. Kenangan akanmu, tak akan hilang dalam ingatanku.

Minggu, 21 Juli 2013

Lelah Bukan Berarti Menyerah

Aku lelah, ya, aku lelah..
Bukan aku ingin menyerah, aku hanya lelah..

Aku menangis dalam malam-malamku,
Aku menangis dalam ingatanku,
Aku menangis dalam kasihku..

Aku lelah mencoba mengerti, 
Aku lelah mencoba memahami.

Aku tak bertemu dengan jawab.
Aku tak bertemu dengan logika.
Aku hanya bertemu dengan emosi.

Aku lelah, ya, aku lelah..
Bukan aku ingin menyerah, aku hanya lelah..

Rasanya tak masuk akal,
Rasanya tak masuk hitungan.

Yang pernah ditentang, sekarang malah dilakukan.
Yang pernah dilarang, sekarang malah dijalani.
Entahlah.

Aku...lelah...