Rabu, 09 Oktober 2013

Aku Tak Akan Menjadi Dia, Dia Tak Akan Menjadi Aku

Aku tak akan menjadi dia, dan dia tak akan menjadi aku. Seberapa dekatnya kami, seberapa seringnya kami bertemu, kami tak akan pernah bertukar tempat.

Tiga tahun kami tinggal bersama. Hampir semua hal kami bagi. Bukan hanya cerita, tetapi banyak hal. Kupikir, mungkin dialah orang yang paling tahu baik buruknya aku. Tahu tentang banyak cerita dalam hidupku. Bahkan yang keluargaku pun tak tahu.
Dulu, kupikir kami punya hati yang satu. Tapi tidak. Kami tak pernah satu. Aku baru menyadarinya. Aku bukan dirinya, dan dia bukan diriku.
Mungkin, dulu aku begitu egois, sehingga semua hal yang aku punya aku bagi dengannya. Dan untungnya dia mau menerimanya. Padahal seharusnya aku juga memberinya kesempatan untuk membagi bebannya denganku.
Sekarang, ketika tahun-tahun memisahkan kami, jiwa kami kembali bertemu. Mungkin waktu mengajakku untuk berubah. Mungkin waktu memaksaku untuk menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.
Mungkin inilah rasanya menjadi dia waktu dulu. Menjadi pendengarku tanpa kesempatan dariku untuk didengar. Aku sungguh egois.
Tapi aku tak akan menyalahkannya. Sekarang dia butuh didengar. Dia yang lebih butuh, bukan aku. Jadi sebaiknya aku mengurungkan niatku untuk membagi ceritaku. Membagi kepedihanku.
Mungkin ini rasanya menjadi dia yang selalu menahan perasaannya ketika aku ingin didengar. Dia yang selalu tersenyum menanggapiku. Dia yang sangat sabar terhadapku. Dia yang tampak baik-baik saja. Padahal mungkin dia sedang terluka. Padahal mungkin dia ingin kudengar.

Sekalipun saat ini aku mengerti rasanya menjadi dia, aku tak akan menjadi dia, dan dia tak akan menjadi aku. Kami hanya belajar untuk saling mengerti.

Rabu, 25 September 2013

Sepi pun ikut bernyanyi

Dalam hening aku bernyanyi,
Lagu cinta yang abadi.

Aku memetik gitar,
Membayangkan engkau mendengar.
Aku tau kau tak di sini,
Aku tau kau tak merasa sepi.
Sepi hanya temanku.
Sepi hanya kerinduanku.

Gitar ini milikmu
Hati ini milikmu
Jiwa ini milikmu
Maka kucipta lagu untukmu

Dengar, dengarlah
Sepi pun ikut bernyanyi

Selasa, 24 September 2013

Menjemput Ibu

Malam yang dingin. Tapi tidak di hati ibu itu. Ibu itu selalu bahagia ketika anak kesayangannya memilih menjemputnya dari pada nongkrong bersama temannya.

Seperti malam-malam sebelumnya, ibu harus pulang lebih lama. Sudah seminggu ini ibu lembur. Aku tau, itu semua karena aku. Aku harus mengikuti ujian praktek bulan depan. Itu berarti aku harus membeli beberapa barang untuk mendukung ujianku. Dan, keuangan kami yang pas-pasan, membuat ibu harus menambah jam kerjanya agar dapat tambahan uang.
Hari ini, teman baikku berulang tahun. Ia mengajakku merayakan ulang tahunnya. Ah, temanku pasti mengerti, ibuku lebih membutuhkanku.

Aku bersyukur atas seorang anak yang Kau titipkan padaku. Seorang anak yang baik, yang mau mengerti kondisiku. Suamiku sudah tiada. Aku harus berjuang sendiri menghidupi diriku dan anakku. Dari hasil kerjaku, aku berhasil membeli motor untuk anakku. Di sini, kalau tak punya motor, serasa tak punya kaki. Tak bisa ke mana-mana. Syukurlah, anakku tak memakainya untuk keliling-keliling tak jelas.
Aku bersyukur ketika anakku masih mengingat untuk menjemputku. Aku tahu, hari ini ulang tahun sahabatnya. Seharusnya dia bisa memintaku untuk pulang sendiri. Tapi tak dilakukannya. Maaf jika ibu harus pulang malam beberapa hari ini. Maaf, waktumu untuk berkumpul bersama teman-temanmu jadi berkurang. Ibu janji, ibu akan terus bekerja dan berjuang untukmu, nak. Ibu akan berusaha memenuhi kebutuhanmu. Ibu sayang kamu, nak.

Senin, 23 September 2013

Pasar Malam

Pernah ke pasar malam? Dulu aku sering diajak ke pasar malam. Dulu, waktu masih kecil.
Dulu, rasanya sangat senang ketika diajak ke pasar malam. Senang karena suasana ramainya, senang karena banyak yang bisa dilihat, senang karena bisa tpkeluar di malam hari.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan ke pasar malam sudah tak menarik lagi bagiku. Malas berdesakan dengan banyak orang. Banyak tugas sekolah. Dan juga banyak hiburan yang bisa kudapat tanpa aku harus keluar rumah.
Beberapa waktu lalu aku pergi bersama temanku ke pasar malam, tepatnya di pesta kesenian Bali. Aku senang. Sudah lama tak merasakan suasana seperti ini. Banyak orang berjualan. Banyak permainan yang menurutku sudah jarang aku temui, contohnya bianglala ini.
Lalu aku berpikir, bagaimana seandainya pasar malam sudah tak ada lagi? Bagaimana nasib orang-orang yang menggantungkan hidupnya dengan menjual tenaga untuk permainan-permainan di pasar malam?
Aku melihat sekitarku. Masih banyak tawa di sini, di pasar malam ini. Banyak anak kecil yang mungkin sama sepertiku dulu, sangat bersemangat ketika diajak ke pasar malam. Ya, orang-orang inilah yang akan menjaga pasar malam. Semoga, mereka tidak tergerus arus modernisasi.

Minggu, 22 September 2013

Belajar Menjadi Dirigen

Ok, kali ini agak melenceng dari tema people around us. Kali ini adalah foto saya sendiri yang tentunya diambil oleh orang lain, walaupun diambil dengan kamera hp saya.

Jadi, ceritanya, saya hari ini dikasi tugas jadi dirigen. Ini pertama kali buat saya. Eh, sebelum cerita, mungkin ada baiknya kalau saya memberi tahu bahwa saya adalah salah satu anggota paduan suara gereja. Baru beberapa bulan ini kami punya pelatih baru. Secara kualitas, pelatih baru ini lebih banyak ilmunya dari pelatih yang dulu. Dan cara mengajarnya pun agak berbeda. Jika dulu gak pernah diajari caranya memimpin nyanyi, sekarang sang pelatih mulai menunjuk dan memberikan ilmu tentang menjadi seorang dirigen.
Penunjukan menjadi dirigen ini terjadi minggu lalu waktu latihan rutin terakhir. Kaget, takut, seneng, semua deh nyampur jadi satu. Kaget karena gak nyangka bakal ikutan ditunjuk. Takut, tepatnya takut salah karena ini pertama kalinya dan saya ngerasa belum pernah belajar menjadi dirigen. Seneng karena itu berarti saya bisa belajar hal baru. Mana tau, saya punya kemampuan di situ.
Hari ini lah saatnya saya maju dan memimpin paduan suara dan jemaat dalam ibadah. Sebelum ibadah dimulai, kami janjian berkumpul dua jam sebelumnya. Sayangnya, salah satu dari dirigen yang ditunjuk gak bisa datang karena mendadak pulang kampung. Dan tugas itu dialihkan ke saya. Matilah saya.
Jujur, saya sudah cukup stres ketika saya harus mimpin satu lagu. Ini malah ditambah satu lagi. Ternyata kejutan gak sampai di situ. Ada dua lagu ysng mendadak ditambahkan ke saya untuk saya pimpin.
Entahlah. Saya gak tau lagi bagaimana mengekspresikan perasaan saya. Saya pengen nangis. Beneran. Tapi anehnya, saya gak bisa nolak, dan saya pun gak bisa nangis, malah ketawa-ketawa.
Entah kerasukan apa tadi itu, saya maju-maju saja. Mimpin seperti yang sudah diajarkan. Setiap gerakan harus tegas. Bagian akhir harus jelas. Cara mengajak bernyanyi, cara berhenti, tanda permata, rit. Aaaah...pusing saya. Tapi ya sudahlah. Untung semua bisa saya lalui. Saya bersyukur. Lebih bersyukur lagi, ternyata saya mendapat ilmu. Besok-besok saya akan belajar lebih baik lai, Bu Pelatih. Selamat hari minggu.

Sabtu, 21 September 2013

Merenung

Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Otakku terasa kacau.

Seharusnya sekarang ini aku sedang berdiskusi dengan kelompokku. Seharusnya aku memberi ide dan pemikiran tentang topik diskusi malam ini. Tapi apa yang terjadi? Otakku kacau. Pikiranku tak di sini. Seperti ada benang kusut di kepalaku.
Aku tak bisa berpikir. Dari pada aku meracau, lebih baik aku diam. Lalu kuputuskan untuk merenung. Mengingat kembali akar masalahku. Mencoba mengurai benang-benang kusut di kepalaku. Satu-satu kuluruskan. Satu-satu kubuka simpulnya.

Lama aku merenung. Perlahan benang kusutku pun mulai terurai.


Kamis, 19 September 2013

Lelah

Pagi ini mendung. Cuaca yang sangat enak untuk melanjutkan tidur. Tapi tidak untuknya. Dia harus bangun pagi. Dan hari ini, dia bangun lebih pagi dari biasanya. Segera dia memasak untuk suami dan anaknya. Masakan yang disertai bumbu kasih sayang. Pasti lezat.
Usai memasak, ia lantas mengendarai motornya menuju pasar. Dia harus membeli bahan masakan untuk besok. Tak mudah menentukan akan memasak apa. Jika terlalu sering memasak satu jenis masakan, pasti ada rasa bosan. Apalagi dia memasak bukan untuknya sendiri. Harus tahu selera suami dan anaknya.
Sampai di rumah, segera dia mandi. Belum sempat dia bersiap-siap ke kantor, anaknya sudah bangun. Dia harus memandikanya dan mempersiapkan anaknya untuk sekolah. Akan bertambah lama jika anaknya rewel. Setelah dirinya dan anaknya wangi dan rapi, biasanya dia akan ke pura untuk sembahyang. Menghadap Yang Maha Kuasa dan menyerahkan harinya ke dalam rencana-Nya. Ritual yang seharusnya dilakukan oleh semua orang sebagai ucapan syukur atas hidupnya.
Setelah semua dilakukannya, barulah dia bisa berangkat ke kantor.
Hey, ini masih setengah delapan, dan wanita ini telah melakukan banyak sekali aktivitas. Pantaslah jika ia sekarang kelelahan. Mungkin semalam ia tak bisa tidur karena anaknya. Mungkin pagi ini dia beraktivitas lebih dari biasanya karena asisten rumah tangganya belum datang. Entahlah. Yang pasti dia butuh istirahat. Ibu muda yang hebat, beristirahatlah, karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.