Aku tak akan menjadi dia, dan dia tak akan menjadi aku. Seberapa dekatnya kami, seberapa seringnya kami bertemu, kami tak akan pernah bertukar tempat.
Tiga tahun kami tinggal bersama. Hampir semua hal kami bagi. Bukan hanya cerita, tetapi banyak hal. Kupikir, mungkin dialah orang yang paling tahu baik buruknya aku. Tahu tentang banyak cerita dalam hidupku. Bahkan yang keluargaku pun tak tahu.
Dulu, kupikir kami punya hati yang satu. Tapi tidak. Kami tak pernah satu. Aku baru menyadarinya. Aku bukan dirinya, dan dia bukan diriku.
Mungkin, dulu aku begitu egois, sehingga semua hal yang aku punya aku bagi dengannya. Dan untungnya dia mau menerimanya. Padahal seharusnya aku juga memberinya kesempatan untuk membagi bebannya denganku.
Sekarang, ketika tahun-tahun memisahkan kami, jiwa kami kembali bertemu. Mungkin waktu mengajakku untuk berubah. Mungkin waktu memaksaku untuk menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.
Mungkin inilah rasanya menjadi dia waktu dulu. Menjadi pendengarku tanpa kesempatan dariku untuk didengar. Aku sungguh egois.
Tapi aku tak akan menyalahkannya. Sekarang dia butuh didengar. Dia yang lebih butuh, bukan aku. Jadi sebaiknya aku mengurungkan niatku untuk membagi ceritaku. Membagi kepedihanku.
Mungkin ini rasanya menjadi dia yang selalu menahan perasaannya ketika aku ingin didengar. Dia yang selalu tersenyum menanggapiku. Dia yang sangat sabar terhadapku. Dia yang tampak baik-baik saja. Padahal mungkin dia sedang terluka. Padahal mungkin dia ingin kudengar.
Sekalipun saat ini aku mengerti rasanya menjadi dia, aku tak akan menjadi dia, dan dia tak akan menjadi aku. Kami hanya belajar untuk saling mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar