Senin, 22 Juni 2015

Diam

"...melagu tanpa berkata, seperti syair tak beraksara..."-Setapak Sriwedari, Maliq & D'essentials.

Perang dingin kita, berakhir. Entah untuk sementara, entah untuk selamanya.
Ah, mungkin bukan perang dingin kita. Mungkin hanya aku yang mendiamkanmu.

Akhirnya aku memberanikan diri mengalahkan egoku. Aku mengirim pesan kepadamu. Awalnya aku hanya iseng. Keisengan yang memerlukan keberanian jika akhirnya aku merasa tertolak lagi olehmu.

"Ting!"

Pesanku terbalas. Ajakanku kamu terima. Senja itu kita pergi bersama.

Kita hanya duduk menikmati laut dan mentari senja. Tak banyak bicara. Namun tak ada kecanggungan. Mungkin kita hanya terlena oleh senja. Atau mungkin kita tak perlu kata untuk bicara.
Ada sesuatu yang hangat menyesap masuk ke dalam hatiku.

Senja yang hangat berlanjut kepada makan malam romantis. Entah kenapa aku menyebutnya romantis. Padahal tak ada kata romantis, tak ada tindakan romantis. Mungkin aku hanya terbawa suasana. Aku senang bisa makan malam beratapkan bintang, diterangi lilin, diiringi lagu yang tenang. Mungkin karena itulah aku menyebutnya romantis.

Lagi-lagi kita hanya diam.
Mungkin di antara kita sudah tak perlu kata.

"...seperti syair tak beraksara, seperti puisi tanpa rima, seperti itu aku padamu.."

Rabu, 15 April 2015

Karena Kita

"Aku capek"
"Hei"
"..."
Aku tersenyum.
"Apa?"
"Ingatlah kita"
"Tapi bagaimana dengan orang tuaku?"
"Ingatkah kamu ketika aku takut bilang ke orang tuaku bahwa aku tak mau dijodohkan? Bukankah kamu menyuruhku mengingat kita?"
"Tapi aku bisa apa? Masa depanku sudah gelap."
"Bukan masa depanmu, tapi kita. Dan kurasa tak akan gelap."
"Aku kehilangan pekerjaan."
"Tapi aku masih bisa bekerja. Kita masih bisa makan."
"Bagaimana mungkin aku menyuruhmu menjadi tulang punggung keluarga?"
"Bukan aku, tapi kita."
"Kakiku cacat."
"Tapi aku masih bisa menolongmu berjalan, dan kita akan tetap berjalan bersama."
"Tapi aku tak sanggup melihatmu menderita."
"Aku pun demikian. Jika harus menderita, bukan aku atau kamu, tetapi kita."
"Tapi..."
"Ingatlah kita. Ingatlah perasaan ketika kita berjuang melawan pertentangan keluarga kita. Kita sanggup kan? Bukan aku atau kamu yang sanggup, tapi kita. Ingat dan rasakan bagaimana melewatinya. Ketika akhirnya dengan lembut engkau mengecup keningku dan meminangku. Itu kita."
"Tapi aku tak tahu harus berbuat apa."
"Tak perlu. Kita akan menemukan jalannya."

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Kotak Itu Terbuka Lagi


Sore yang berbeda ketika akh melewati jalan ini lagi. Ini tepat ketika senja merekah seperti waktu itu. Waktu kita jalan bersama.
Sudah lima tahun. Sedah banyak yang berubah di sini. Jalanan tak serimbun dulu. Waktuku pun terus terburu oleh pekerjaan. Jarang sekali aku menikmati matahari ketika aku melewati jalan ini. Biasanya sudah gelap.
Kali ini senja tersenyum. Sama seperti dulu. Seolah mengingatkan aku akan persahabatan kita. Tentang cintaku yang tak pernah bersambut gayung. Tentang doa-doa tiap malam yang kupanjatkan. Tentang harapan dan cita-cita yang sering kita bagi bersama. Lalu aku ingat sebuah puisi yang sampai beberapa bulan kusimpan dalam dompetku. Puisi tentang kita. Tentang janji bahwa kita tak akan saling meninggalkan. Janji untuk selalu ada bersama dalam doa.
Kertas itu telah usang. Kini telah masuk ke dalam kotak bersama seluruh kenangan bersamamu. Namun, senja kalk ini berhasil menemukan kunci untuk membuka kembali kotak itu. Kenanglah, kawan. Kenanglah dalam ingatan.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Minggu, 12 April 2015

Selamat pagi, kamu yang selalu terbang

Memandangmu terbang, menyenangkan.
Menunggumu hinggap dan berceloteh, menyenangkan.
Hanya membayangkan saja, menyenangkan.

Aku ini dahan yang tak akan terbang. Tak mungkin.
Sekalinya aku merasa terbang adalah ketika engkau hinggap dan berkicau.
Mendengar kicaumu, serasa terbang.
Ceritamu, membuatku berangan.
Namun, aku tetap terkekang dalam indukku.

Hai, kamu yang selalu terbang..apakah tak lelah?
Tak maukah kamu membangun sarang?

Pagiku datang kembali.
Membawa angan dan tanya, akankah kamu hinggap lagi?

Aku, sang dahan, yang tak mungkin kamu bawa terbang.
Hinggap dan buatlah sarang.


*) terinspirasi dari lagu "Aku dan Burung" oleh Dialog Dini Hari

Jumat, 13 Maret 2015

Untuk Kamu Yang Sombong

Aku merindukanmu dengan cara tertawamu yang sombong
Aku merindukanmu dengan cara bicaramu yang sombong
Aku merindukanmu dengan cara mengasihimu yang sombong

Caramu menceritakan diri bukanlah kesombongan tetapi kepercayaan terhadap dirimu
Caramu melihat segala sesuatu bukanlah kesombongan tetapi pandangan dari sisi lain
Caramu berekspresi bukanlah kesombongan tetapi spontanitas tanpa maksud lain

Aku menantikanmu di sini
Aku menunggu seperti ketika dulu aku memintamu menemuiku dengan segera
Aku masih di sini

Jika jiwa ini dapat terbang, aku pastikan kamu yang pertama ia tuju
Jika hati ini bisa berbicara, aku pastikan hatimulah yang akan diajak bicara

Aku tau, kamu tak sombong
Aku tau, kamu tak seperti yang terlihat secara sekilas mata
Dan yang terlebih penting...
Aku tau, aku masih mengasihimu

Minggu, 15 Februari 2015

Aku Ingin Tidur

Aku ingin tidur. Biar tak ada lagi yang kupikirkan. Tak akan aku ingat lagi perkataan yang menyakitkan.

Punya ingatan yang kuat kadang menjadi menyebalkan ketika teringat akan hal-hal yang tidak mengenakkan. Dan aku masih dengan jelas mengingat setiap detil percakapan siang itu. Percakapan yang pada awalnya menyenangkan karena terjadi di antara teman seangkatan dan lama tak dilakukan menjadi menyebalkan.

Aku hanya ingin tidur.
Biar lupa.
Biar tenang.
Biar senang.

Rabu, 21 Januari 2015

Zombie Pagi Ini

Aku di pagi ini seperti zombie. Badan di depan komputer, setengah nyawa terbawa kantuk, setengah semangat tertelan sepi, setengah hati tertinggal di alam mimpi.
Mengapa mata tak mau terpejam ketika dia sudah lelah? Mengapa otak menahan kantuk untuk bersemayam dalam tidur?
Hati. Salahkan hati. Dia yang punya andil paling besar di antara mereka. Dia yang membanjiri mata dengan air. Dia yang memenuhi otak dengan pemikiran.
Tapi hati menyangkal. Salahkan juga mata. Mengapa mata mau terhasut olehku? Itu salahnya sendiri. Siapa suruh mata nekad terbuka untuk melihat sesuatu yang tak perlu.
Salahku? Aku hanya diperintah otak. Tugasku meneruskan kemauan si otak. Salahkan dia. Mana mungkin aku berkuasa atas diriku. Otak yang salah. Mengapa dia terus ingin tahu. Mengapa dia terus berpikir. Aku pun terganggu ketika tiba-tiba dalam tidurku otak membangunkanku dengan mimpi buruknya. Salahku kah?
Terus saja menyalahkanku. Terus saja berkata aku yang punya kendali. Tak tahu kah kalian bahwa aku berpikir karena diintimidasi oleh hati? Aku tak punya rasa. Jika aku ingin tahu, siapa yang membuatku merasakan? Bukankah hati? Aku pun lelah. Mengapa aku harus berpikir? Mengapa aku harus merasa?
...
Kita memang salah. Kita yang membuatnya seperti zombie. Lihatlah matanya. Menghitam di seputarannya. Lihatlah hatinya. Sekali sentuh pasti akan hancur. Lihatlah otaknya. Tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Otaknya memikirkan hatinya. Dia adalah kita.
...
Hati, otak, mata, bekerja samalah, aku mohon.

Minggu, 30 November 2014

Hujan Lagi, Aku Butuh Kopi



Sore itu langit mulai gelap. Aku masih dalam perjalanan pulang. Rintik hujan dengan riangnya mulai berjatuhan. Spontan aku berlari mencari tempat berteduh. Tanpa pikir panjang aku masuk ke sebuah kafe dan mencari tempat duduk.
Hujan tak mau kompromi. Semakin ditunggu, semakin lebat ia turun.  Aku butuh sesuatu yang hangat untuk tubuhku. Aku memesan kopi dan camilan.
“Ting! Ting!”, ada pesan masuk dari ponselku.
“Aku rasa, aku tak dapat meneruskan hubungan kita. Tak perlu mencariku lagi,” begitu bunyi pesan yang masuk. Singkat, jelas, dan begitu menusuk. Beberapa saat aku membeku. Aku seperti berada dalam ruangan gelap tanpa jalan keluar. Dan ketika aku tersadar kembali, aku mencoba menghubungi nomor yang mengirimiku pesan itu. Tak bisa tersambung. Aku tak tahu harus bagaimana. Yang kutahu hanya menyesap kopiku. Merasakan pahitnya.
Beberapa bulan berlalu. Masih tak berkabar. Tak dapat ditemukan. Seperti sengaja terhilang.
Hari-hariku menjadi pahit. Aku butuh sesuatu yang pahit untuk berbagi. Tak ada manusia dapat merasakan pahitku. Hari-hariku hanya ditemani kopi. Kopi pahit tanpa gula. Obat bagi hatiku yang pahit.
Sore ini hujan turun lagi. Hujan turun dengan segala kepahitanku. Aku butuh kopiku.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Tulisan Pendek Cerita #DiBalikSecangkirKopi yang diselenggarakan oleh NESCAFE Indonesia. 

Kamis, 10 Juli 2014

Biarkan aku menangis malam ini

: Biarkan aku menangis malam ini.
: Ya, silakan.

Tapi ya untukmu tak selalu berarti ya.
Jawaban "Ya" darimu malam ini hanya untuk menenangkanku. Membuatku tak merasa dikekang. Tak merasa untuk dipaksa kuat.
Ya darimu malam ini bermakna bahwa kau tau aku hanya manusia yang tak selalu kuat. Hanya terlihat kuat. Dan mungkin itu bagi orang lain. Tidak terlihat cukup kuat untukmu.

: tak perlu merasa patah kan..
: tak perlu, tapi tiba-tiba patah..
: biarkan saja, nanti akan tiba-tiba utuh kembali..

Ya, aku janji, nanti akan utuh kembali. Bahkan akan berbunga. Beri aku waktu untuk membuktikan janjiku.
Tunggulah, aku akan berbunga, akan utuh.

Terima kasih mencoba mengalihkan perhatianku.
Terima kasih telah menghiburku.
Terima kasih telah mengajakku menertawakan apa yang awalnya akan kutangisi. Menertawakan diriku sendiri.
Terima kasih telah menjadi sahabatku.

Minggu, 15 Juni 2014

Hai, Pak!

Hai, Pak!
Apa kabarmu?

Ini suratku yang ke sepuluh. Seperti biasa, aku cuma pengen ngasi tau kalau sebentar lagi anakmu ini ulang tahun.
Iya, kalau saja Bapak di sini, pasti Bapak gak akan lupa delapan hari lagi aku ulang tahun.

Pak, aku kangen Bapak. Tapi Pak, jujur, sebenernya aku lupa gimana rupa bapak. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku denger Bapak ngomong.
Maafkan aku, Pak. Aku jahat. Tapi aku bener-bener gak inget. Tapi beneran deh Pak, aku kangen banget sama Bapak.

Pak, apa Bapak gak kangen aku?
Mau gak Bapak mampir ke mimpiku? Nanti, pas aku ulang tahun, mampir ke mimpiku dan kasih aku satu pelukan ya, Pak. Sebentar saja.

Pak, aku pengen cerita banyak hal ke Bapak. Tapi, ah, sudahlah, Pak. Aku gak pengen sedih kali ini. :)

Pak, jangan bosen dengan suratku ya. Isinya selalu sama. Minta hadiah ulang tahun. Habisnya Bapak gak pernah ngasih yang kuminta sih, hehehe.. Semoga kali ini Bapak bisa mampir.

Sampai ketemu, Pak.
Aku sayang Bapak.

Selasa, 01 April 2014

Surat untuk mantan

Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara

Dear, kamu..
Lama tak jumpa, tapi aku tau ini baik buat kita.
Mungkin kamu gak akan ngira aku bakal nulis ini, tapi yah, inilah aku, yang lebih mampu memperlihatkan rasaku lewat tulisan.
Tiga tahun tak bertemu, bukan berarti aku melupakanmu. Aku masih menyimpan banyak kenangan baik tentangmu dalam memoriku. Dan, kamu tau kan apa yang kusebut kotak kenangan, aku menyimpan semua barang yang berhubungan denganmu di sana. Belum kukuburkan hingga sekarang ini. Itulah mengapa aku menulis surat ini. Aku ingin menguburkan kotak itu. Tentu saja aku akan menguburnya di tempat kenangan kita. Biar mereka menyatu.
Kalau dirasa-rasa, ternyata lama juga ya aku menyimpannya. Selama itulah aku belum bisa mengembalikan rasaku ke rasa semula ketika kita belum bertemu. Rasa di mana tak ada cinta, tak ada rindu, tak ada benci, tak ada kemarahan. Aku ingin menguburkan kenangan dengan rasa yang netral.
Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan. Semoga ini juga bisa menetralkan sikap kita jika suatu saat nanti kita bertemu.
Aku ingin minta maaf. Maaf ketika kita berpisah dalam keadaan yang tidak baik. Dalam kemarahan. Dalam kemunafikan. Aku ingin mengaku bahwa aku munafik. Aku masih bisa tersenyum kala itu. Tapi sesungguhnya, kemarahan dan kebencianku padamu sangat besar. Aku minta maaf telah membencimu.
Tiga tahun ini aku belajar banyak. Aku sengaja menghilang darimu. Aku ingin menguji diriku apakah aku ini benar-benar anak manja. Itu kulakukan untuk membuktikan bahwa alasanmu ingin berpisah denganku hanyalah mengada-ada. Tapi proses pembuktian itu malah justru mengubahku menjadi seorang yang tak perlu membuktikan apa pun. Hidupku tiga tahun ini justru menjadi berat. Kehilanganmu, kehilangan anggota keluarga yang kusayang, kehilangan banyak fasilitas membuatku belajar untuk kreatif dalam bertahan hidup. Aku lupa tentang pembuktian kepadamu. Memang, sebenarnya tak perlu membuktikan apa pun. Maafkan aku, aku telah menuduhmu mencari-cari alasan untuk berpisah denganku. Sebenarnya itu hakmu.
Maafkan aku, jika aku menyakiti hatimu.
Maafkan aku jika aku sengaja tidak mau dihubungi olehmu.
Maafkan aku untuk semua hal yang pernah aku lakukan.
Terakhir, dan yang paling penting, aku ingin berterima kasih padamu. Kamu menjadi satu batu loncatan dalam proses hidupku. Terima kasih untuk segala hal yang kau beri. Terima kasih untuk segala yang telah kamu lakukan buatku. Terima kasih untuk cinta yang pernah ada.

Sekarang, aku sudah siap berteman kembali denganmu.
Salam.

Rabu, 29 Januari 2014

Seseorang Menungguku

Seseorang menungguku
Seseorang yang bukan saudaraku
Katanya aku telah lama pergi
Padahal aku hanya bersembunyi

Seseorang menungguku
Rindu, katanya
Akupun punya sebongkah rindu
Tapi air mataku menahanku

Seseorang menungguku
Dan aku hanya bisa melihatnya tanpa aku bisa mendekatinya
Aku masih bersembunyi dibalik senyumku

Seseorang menungguku
Tapi aku tak bisa membawa duka padanya
Maka kutahan langkahku

Seseorang menungguku
Wahai kamu, maafkan aku

Seseorang menungguku
Aku menyebutnya sahabat
Tapi pantaskah aku disebut sahabat?

Kamis, 28 November 2013

Kerinduan daun kepada rintik hujan

Sore itu aku duduk di bangku taman seperti yang biasa kulakukan ketika aku sedang mempunyai waktu luang. Kebetulan, waktu itu habis hujan. Udara masih cukup dingin jika kau hanya duduk berdiam. Aku mengenakan jaketku. Ah, aku tiba-tiba teringat akan dia. Sudahlah, jangan terlalu dituruti ingatanku ini.

Buku yang kupegang memang terbuka, tapi mataku malah tertuju pada daun-daun yang terlihat segar setelah disiram hujan. Sayup-sayup kudengar ada yang berbincang. Aku mencoba menajamkan telingaku. Mungkin saja aku salah dengar karena di situ tidak ada siapa-siapa. Rupanya daun sedang berbincang dengan setetes air yang menggenang di tulangnya.

"Terima kasih rintik, sudah menyegarkanku."
"Semua daun mendapatkan haknya dari sang hujan."
"Ah, bukan hujan yang membuatku segar, tetapi kamu."
"Tapi aku berasal dari hujan."
"Hujan hanya pengantar. Ia memang mengantarkanmu. Dan itu membuatku segar."
"Memang. Itu tugasnya, itu tugas kami. Memberi kesegaran."
"Ah, sebenarnya bukan hujan yang menyegarkanku, tapi kamu. Berapa kali lagi harus kubilang? Kamu yang menyegarkanku."
"..."
"Aku merasa segar karena aku dapat melepaskan rinduku padamu ketika hujan turun."
"Tapi sebentar lagi pasti aku sudah mengihilang. Apakah yang sebentar itu menyegarkan?"
"Tentu saja. Rindu memang terkumpul dalam waktu lama. Bahkan mungkin tak bisa ditentukan sampai kapan. Tapi hanya butuh melihat sejenak, rindu itu sirna."

Deg. Jantungku serasa dihantam. Tembok-tembok pertahanan yang kubangun untuk menghalangi sang rindu masuk telah runtuh. Runtuh hanya karena percakapan daun yang menyadarkanku bahwa aku merindukannya. Runtuh. Dan sekejap saja rindu sudah menyerbu memenuhi hatiku.

Aku tahu, rinduku ini tak terbatas waktu. Tak akan tahu kapan berakhirnya. Tak akan tahu kapan terpuaskannya. Dan aku takut menyadarinya.

Minggu, 10 November 2013

Pahit atau manis?

Sudah lama aku menyukai kopi pahit. Mungkin sejak pertama aku mengenal minuman ini. Mungkin ini penggambaran hidupku. Hidup yang pahit. Entahlah, terasa berlebihan mungkin. Yang pasti, hidupku tidak mudah.
Entah kapan terakhir kali aku makan bersama keluargaku, aku sudah tak ingat. Entah kapan terakhir ibuku mengecup keningku sebelum tidur, aku sudah tak ingat. Bahkan aku pun tak ingat kapan terakhir aku mencium tangan bapakku untuk berpamitan. Entah aku yang sudah lupa atau memang aku tak mau mengingatnya. Yang pasti, buatku kenangan manis itu, hanyalah tinggal kenangan. Tak pernah kucici lagi rasa manis itu.
Malam ini, aku kembali meneguk kopi pahitku. Rasanya sedikit terhibur. Rasanya seperti punya kawan dalam pekatnya segelas kopi. Rasanya pahitnya hidupku menyatu dengan pahit kopi yang akan terasa nikmat ketika kusesap sedikit demi sedikit.
Malam ini memang agak menyebalkan. Antara menyebalkan, atau memang aku sudah bosan dengan permasalahan keluargaku. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan bapakku. Adikku menangis lagi karena kelakuan bapakku. Ah, cengeng, pikirku. Aku tak mau menangis. Lebih baik kutelan kepahitan itu bersama kopiku.
Aku tenggelam di antara kopi dan lamunan. Dan di tengah-tengah kepahitan itu, tiba-tiba seseorang menaruh gula di hadapanku.
"Cobalah," katanya.
Aku hanya diam dengan tatapan bingung.
"Aku sering melihatmu di sini. Dan kamu selalu minum kopi tanpa gula."
Aku masih memandanginya dengan heran.
"Awalnya kupikir kamu menikmati kopi tanpa gulamu. Tapi lama-lama, kupikir kamu tak sedang menikmati kopimu. Kamu hanya menikmati pahitnya, bersama pahitmu."
"Aku menikmatinya kok. Ma kasih."
"Cobalah."
"Harus?"
"Cobalah. Sedikit saja. Berikan sedikit rasa manisnya dalam hidupmu."
"Kenapa?"
"Ah, aku bukan mau memaksa. Aku hanya menunjukkan sebuah pilihan. Gula ini ada di depanmu. Ada juga di hidupmu. Jangan terlena dengan pahitnya hidupmu. Ada pilihan untuk membuat hidupmu tetap manis. Tentu saja tak akan manis seratus persen. Seperti kopimu jika nanti kamu tambahi gula. Dia masih akan menyisakan rasa pahit di lidahmu, tapi coba rasakan manisnya juga. Rasanya lebih menyenangkan."
"Kenapa kamu peduli denganku?"
"Hahaha..aku tak mau mencampuri urusanmu kok. Aku hanya mencoba berbagi apa yang pernah kualami. Hidupku dulu juga terasa pahit. Tapi pilihan untuk memberi rasa manis itu masih ada. Tinggal aku mau atau gak menambahkan gula dalam hidupku."
Orang itu tersenyum, lalu meninggalkan mejaku.
Pilihan. Ya, manis dan pahit itu pilihan. Kuambil sebungkus gula di depanku, lalu kumasukkan ke dalam gelasku. Semoga hidupku pun ikut merasakan manisnya.

Sabtu, 19 Oktober 2013

17.45

Ve
Seperti biasa, sore ini aku duduk di bangku kesukaanku di sebuah teras kafe. Mungkin pelayan di tempat ini sudah hafal denganku saking seringnya aku duduk di sini. Tak ada alasan khusus mengapa aku suka duduk di sini. Entahlah, aku hanya suka. Mungkin di bangku ini cukup sepi untuk menikmati bacaanku. Tak banyak orang yang berseliweran di sekitar bangku ini karena letaknya di pojok.
Sore ini, aku memilih menikmati warna jingga langit. Memang aku masih memegang bukuku, tetapi mataku tertuju ke arah langit. Tidak perlu mendongak, pemandangan kangit jingga ini sudah tersaji di depanku.
Angin sore ini sejuk sekali. Serasa bertiup sampai ke hati. Aku begitu menikmati perpaduan langit jingga dengan angin sore. Seolah seperti sepasang kekasih yang dipertemukan oleh waktu. Serasi. Namun sayang, angin sore dan langit jingga tak selalu bertemu. Kadang angin terlalu cepat berhembus. Kadang langit terlalu cepat tertidur dan bersembunyi di balik cakrawala.
Tiba-tiba angin menjadi dingin. Sore menjadi sunyi. Seakan waktu berhenti. Hatiku seperti tersentak. Seolah ada sesuatu yang kuat yang melewati jiwaku. Aku merasakan hangatnya. Aku merasa sesuatu itu seperti cinta. Seorang lelaki berkaca mata, sedang membaca buku yang sama denganku, ada di hadapanku. Aku tak mengenal dia. Tapi aku merasa dekat dengannya. Mungkin dialah cinta.
Aku melirik jam di tanganku. Sudah pukul 17.45. Dan seketika itu juga, waktu serasa kembali berjalan. Kutatap lurus ke depan. Tak ada lelaki berkaca mata. Hanya langit jingga yang mulai turun menuju cakrawala.

Re
Ah, buku ini memang menarik. Rasanya tak bosan aku duduk berjam-jam di sini. Untung aku tak diusir oleh pemilik kedai ini.
Aku begitu menikmati bacaanku sore ini, sampai-sampai aku tak menghiraukan yang terjadi di sekitarku. Aku masih bisa mendengar ada anak kecil yang merengek, ada beberapa anak sekolah yang bergosip, tapi aku tak menghiraukannya. Aku menganggapnya seperti angin. Angin yang selalu lewat dalam diamnya.
Aku tersenyum ketika aku berhasil menyelesaikan bacaanku. Ada rasa puas. Dan ketika aku hendak beranjak dari tempat dudukku, aku seperti tertahan. Angin yang selalu diam seperti membisikkan sesuatu kepadaku. Lalu aku berdiam, mencoba mendengar apa kata angin. Namun angin tetap diam. Ah, mungkin dia bukan berbisik. Mungkin dia sedang membuatku menyadari sesuatu.
Tiba-tiba dadaku menjadi sesak. Sepertinya angin mencoba masuk ke dalam hatiku dan meninggalkan sesuatu. Kupegang dadaku, terasa hangatnya. Lalu aku melihat di depanku seorang wanita dengan rambut diikat ke belakang. Di tangannya ada buku yang kubaca. Namun dia tak sedang membacanya. Sepertinya dia sedang menikmati apa yang dilihatnya. Wajahnya bercahaya ditimpa warna jingga. Cantik. Seketika aku jatuh cinta.
Ketika aku hendak menyapanya, dia menghilang. Ternyata semua hanya di anganku. Ada sedikit kecewa, tapi cinta itu tetap ada.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 17.45. Aku harus segera bergegas.
Senja, kau telah memberi cinta di hatiku, dan kutinggalkan untuknya di bangku ini.

Rabu, 09 Oktober 2013

Aku Tak Akan Menjadi Dia, Dia Tak Akan Menjadi Aku

Aku tak akan menjadi dia, dan dia tak akan menjadi aku. Seberapa dekatnya kami, seberapa seringnya kami bertemu, kami tak akan pernah bertukar tempat.

Tiga tahun kami tinggal bersama. Hampir semua hal kami bagi. Bukan hanya cerita, tetapi banyak hal. Kupikir, mungkin dialah orang yang paling tahu baik buruknya aku. Tahu tentang banyak cerita dalam hidupku. Bahkan yang keluargaku pun tak tahu.
Dulu, kupikir kami punya hati yang satu. Tapi tidak. Kami tak pernah satu. Aku baru menyadarinya. Aku bukan dirinya, dan dia bukan diriku.
Mungkin, dulu aku begitu egois, sehingga semua hal yang aku punya aku bagi dengannya. Dan untungnya dia mau menerimanya. Padahal seharusnya aku juga memberinya kesempatan untuk membagi bebannya denganku.
Sekarang, ketika tahun-tahun memisahkan kami, jiwa kami kembali bertemu. Mungkin waktu mengajakku untuk berubah. Mungkin waktu memaksaku untuk menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.
Mungkin inilah rasanya menjadi dia waktu dulu. Menjadi pendengarku tanpa kesempatan dariku untuk didengar. Aku sungguh egois.
Tapi aku tak akan menyalahkannya. Sekarang dia butuh didengar. Dia yang lebih butuh, bukan aku. Jadi sebaiknya aku mengurungkan niatku untuk membagi ceritaku. Membagi kepedihanku.
Mungkin ini rasanya menjadi dia yang selalu menahan perasaannya ketika aku ingin didengar. Dia yang selalu tersenyum menanggapiku. Dia yang sangat sabar terhadapku. Dia yang tampak baik-baik saja. Padahal mungkin dia sedang terluka. Padahal mungkin dia ingin kudengar.

Sekalipun saat ini aku mengerti rasanya menjadi dia, aku tak akan menjadi dia, dan dia tak akan menjadi aku. Kami hanya belajar untuk saling mengerti.

Rabu, 25 September 2013

Sepi pun ikut bernyanyi

Dalam hening aku bernyanyi,
Lagu cinta yang abadi.

Aku memetik gitar,
Membayangkan engkau mendengar.
Aku tau kau tak di sini,
Aku tau kau tak merasa sepi.
Sepi hanya temanku.
Sepi hanya kerinduanku.

Gitar ini milikmu
Hati ini milikmu
Jiwa ini milikmu
Maka kucipta lagu untukmu

Dengar, dengarlah
Sepi pun ikut bernyanyi

Selasa, 24 September 2013

Menjemput Ibu

Malam yang dingin. Tapi tidak di hati ibu itu. Ibu itu selalu bahagia ketika anak kesayangannya memilih menjemputnya dari pada nongkrong bersama temannya.

Seperti malam-malam sebelumnya, ibu harus pulang lebih lama. Sudah seminggu ini ibu lembur. Aku tau, itu semua karena aku. Aku harus mengikuti ujian praktek bulan depan. Itu berarti aku harus membeli beberapa barang untuk mendukung ujianku. Dan, keuangan kami yang pas-pasan, membuat ibu harus menambah jam kerjanya agar dapat tambahan uang.
Hari ini, teman baikku berulang tahun. Ia mengajakku merayakan ulang tahunnya. Ah, temanku pasti mengerti, ibuku lebih membutuhkanku.

Aku bersyukur atas seorang anak yang Kau titipkan padaku. Seorang anak yang baik, yang mau mengerti kondisiku. Suamiku sudah tiada. Aku harus berjuang sendiri menghidupi diriku dan anakku. Dari hasil kerjaku, aku berhasil membeli motor untuk anakku. Di sini, kalau tak punya motor, serasa tak punya kaki. Tak bisa ke mana-mana. Syukurlah, anakku tak memakainya untuk keliling-keliling tak jelas.
Aku bersyukur ketika anakku masih mengingat untuk menjemputku. Aku tahu, hari ini ulang tahun sahabatnya. Seharusnya dia bisa memintaku untuk pulang sendiri. Tapi tak dilakukannya. Maaf jika ibu harus pulang malam beberapa hari ini. Maaf, waktumu untuk berkumpul bersama teman-temanmu jadi berkurang. Ibu janji, ibu akan terus bekerja dan berjuang untukmu, nak. Ibu akan berusaha memenuhi kebutuhanmu. Ibu sayang kamu, nak.

Senin, 23 September 2013

Pasar Malam

Pernah ke pasar malam? Dulu aku sering diajak ke pasar malam. Dulu, waktu masih kecil.
Dulu, rasanya sangat senang ketika diajak ke pasar malam. Senang karena suasana ramainya, senang karena banyak yang bisa dilihat, senang karena bisa tpkeluar di malam hari.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan ke pasar malam sudah tak menarik lagi bagiku. Malas berdesakan dengan banyak orang. Banyak tugas sekolah. Dan juga banyak hiburan yang bisa kudapat tanpa aku harus keluar rumah.
Beberapa waktu lalu aku pergi bersama temanku ke pasar malam, tepatnya di pesta kesenian Bali. Aku senang. Sudah lama tak merasakan suasana seperti ini. Banyak orang berjualan. Banyak permainan yang menurutku sudah jarang aku temui, contohnya bianglala ini.
Lalu aku berpikir, bagaimana seandainya pasar malam sudah tak ada lagi? Bagaimana nasib orang-orang yang menggantungkan hidupnya dengan menjual tenaga untuk permainan-permainan di pasar malam?
Aku melihat sekitarku. Masih banyak tawa di sini, di pasar malam ini. Banyak anak kecil yang mungkin sama sepertiku dulu, sangat bersemangat ketika diajak ke pasar malam. Ya, orang-orang inilah yang akan menjaga pasar malam. Semoga, mereka tidak tergerus arus modernisasi.

Minggu, 22 September 2013

Belajar Menjadi Dirigen

Ok, kali ini agak melenceng dari tema people around us. Kali ini adalah foto saya sendiri yang tentunya diambil oleh orang lain, walaupun diambil dengan kamera hp saya.

Jadi, ceritanya, saya hari ini dikasi tugas jadi dirigen. Ini pertama kali buat saya. Eh, sebelum cerita, mungkin ada baiknya kalau saya memberi tahu bahwa saya adalah salah satu anggota paduan suara gereja. Baru beberapa bulan ini kami punya pelatih baru. Secara kualitas, pelatih baru ini lebih banyak ilmunya dari pelatih yang dulu. Dan cara mengajarnya pun agak berbeda. Jika dulu gak pernah diajari caranya memimpin nyanyi, sekarang sang pelatih mulai menunjuk dan memberikan ilmu tentang menjadi seorang dirigen.
Penunjukan menjadi dirigen ini terjadi minggu lalu waktu latihan rutin terakhir. Kaget, takut, seneng, semua deh nyampur jadi satu. Kaget karena gak nyangka bakal ikutan ditunjuk. Takut, tepatnya takut salah karena ini pertama kalinya dan saya ngerasa belum pernah belajar menjadi dirigen. Seneng karena itu berarti saya bisa belajar hal baru. Mana tau, saya punya kemampuan di situ.
Hari ini lah saatnya saya maju dan memimpin paduan suara dan jemaat dalam ibadah. Sebelum ibadah dimulai, kami janjian berkumpul dua jam sebelumnya. Sayangnya, salah satu dari dirigen yang ditunjuk gak bisa datang karena mendadak pulang kampung. Dan tugas itu dialihkan ke saya. Matilah saya.
Jujur, saya sudah cukup stres ketika saya harus mimpin satu lagu. Ini malah ditambah satu lagi. Ternyata kejutan gak sampai di situ. Ada dua lagu ysng mendadak ditambahkan ke saya untuk saya pimpin.
Entahlah. Saya gak tau lagi bagaimana mengekspresikan perasaan saya. Saya pengen nangis. Beneran. Tapi anehnya, saya gak bisa nolak, dan saya pun gak bisa nangis, malah ketawa-ketawa.
Entah kerasukan apa tadi itu, saya maju-maju saja. Mimpin seperti yang sudah diajarkan. Setiap gerakan harus tegas. Bagian akhir harus jelas. Cara mengajak bernyanyi, cara berhenti, tanda permata, rit. Aaaah...pusing saya. Tapi ya sudahlah. Untung semua bisa saya lalui. Saya bersyukur. Lebih bersyukur lagi, ternyata saya mendapat ilmu. Besok-besok saya akan belajar lebih baik lai, Bu Pelatih. Selamat hari minggu.