Entah kapan terakhir kali aku makan bersama keluargaku, aku sudah tak ingat. Entah kapan terakhir ibuku mengecup keningku sebelum tidur, aku sudah tak ingat. Bahkan aku pun tak ingat kapan terakhir aku mencium tangan bapakku untuk berpamitan. Entah aku yang sudah lupa atau memang aku tak mau mengingatnya. Yang pasti, buatku kenangan manis itu, hanyalah tinggal kenangan. Tak pernah kucici lagi rasa manis itu.
Malam ini, aku kembali meneguk kopi pahitku. Rasanya sedikit terhibur. Rasanya seperti punya kawan dalam pekatnya segelas kopi. Rasanya pahitnya hidupku menyatu dengan pahit kopi yang akan terasa nikmat ketika kusesap sedikit demi sedikit.
Malam ini memang agak menyebalkan. Antara menyebalkan, atau memang aku sudah bosan dengan permasalahan keluargaku. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan bapakku. Adikku menangis lagi karena kelakuan bapakku. Ah, cengeng, pikirku. Aku tak mau menangis. Lebih baik kutelan kepahitan itu bersama kopiku.
Aku tenggelam di antara kopi dan lamunan. Dan di tengah-tengah kepahitan itu, tiba-tiba seseorang menaruh gula di hadapanku.
"Cobalah," katanya.
Aku hanya diam dengan tatapan bingung.
"Aku sering melihatmu di sini. Dan kamu selalu minum kopi tanpa gula."
Aku masih memandanginya dengan heran.
"Awalnya kupikir kamu menikmati kopi tanpa gulamu. Tapi lama-lama, kupikir kamu tak sedang menikmati kopimu. Kamu hanya menikmati pahitnya, bersama pahitmu."
"Aku menikmatinya kok. Ma kasih."
"Cobalah."
"Harus?"
"Cobalah. Sedikit saja. Berikan sedikit rasa manisnya dalam hidupmu."
"Kenapa?"
"Ah, aku bukan mau memaksa. Aku hanya menunjukkan sebuah pilihan. Gula ini ada di depanmu. Ada juga di hidupmu. Jangan terlena dengan pahitnya hidupmu. Ada pilihan untuk membuat hidupmu tetap manis. Tentu saja tak akan manis seratus persen. Seperti kopimu jika nanti kamu tambahi gula. Dia masih akan menyisakan rasa pahit di lidahmu, tapi coba rasakan manisnya juga. Rasanya lebih menyenangkan."
"Kenapa kamu peduli denganku?"
"Hahaha..aku tak mau mencampuri urusanmu kok. Aku hanya mencoba berbagi apa yang pernah kualami. Hidupku dulu juga terasa pahit. Tapi pilihan untuk memberi rasa manis itu masih ada. Tinggal aku mau atau gak menambahkan gula dalam hidupku."
Orang itu tersenyum, lalu meninggalkan mejaku.
Pilihan. Ya, manis dan pahit itu pilihan. Kuambil sebungkus gula di depanku, lalu kumasukkan ke dalam gelasku. Semoga hidupku pun ikut merasakan manisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar