Oktober sudah melewati lebih dari setengah perjalanannya. Dan sekarang belum hujan. Belum ada kenangan indah tercipta dengan hujanku.
Hari ini hanya ada rintik gerimis mengawali hari, bukan hujan. Aku mengawali hariku dengan berlari mengelilingi lapangan. Aku baru memulai kebiasaan ini kemarin. Lumayan untuk membakar lemak-lemak yang menempel di perutku.
Ini masih terlalu pagi untuk merusak mood. Tapi, yeah, i did it. Aku telah merusak moodku sendiri. Lagi, dan lagi, aku teringat akan masa laluku. Sebetulnya masa lalu yang indah dan menyenangkan, tetapi merusak moodku pagi ini.
Entah angin apa yang bertiup pagi ini. Sekonyong-konyong bertiup di pikiranku kenangan-kenangan di Jogja. Waktu itu kau masih berada di luar kota. Aku ingat kau meneleponku lama sekali. seolah kau benar-benar merindukanku. Dalam percakapan itu kau terus saja memintaku untuk ke kotamu. Aku memang akan ke sana mengunjungimu, tapi itu masih beberapa hari lagi. Kau terus merengek untuk segera bertemu.
Aku senang kau merindukanku. Aku senang kau menyayangiku, waktu itu.
Sekarang aku telah berada di kotamu. Tapi tak pernah lagi kau meneleponku, apalagi merindukanku.
Tapi...ya sudahlah. Hari ini tak harus menjadi hari yang buruk kan? Maka sebaiknya aku terus berlari dan berharap angin membawa kenangan akanmu pergi dari pikiranku. Kiranya angin juga menyampaikan kerinduanku padamu. Bukan aku menginginkanmu. Kau sudah menjadi miliknya. Aku hanya merindukanmu dalam kenanganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar