Denpasar begitu panas siang ini. Matahari serasa tengah beria-ria, memancarkan senyumnya ke seluruh bagian kota. Sejenak aku menghentikan sepedaku di bawah pohon yang cukup besar. Ah, segar sekali rasanya di sini. Bayangan pohon begitu baiknya meneduhkanku. Aku melepas topi pemberian sahabatku yang selalu kupakai ketika aku mengerjakan tugasku. Aku beristirahat sejenak sambil mengira-ngira berapa jumlah uang yang kudapat hari ini. Koranku sudah habis di tengah hari ini. Aku bersyukur sambil tersenyum.
Aku berniat meninggalkan tempatku beristirahat tadi ketika tiba-tiba ada anak kecil berlari menghampiriku. Dia tersenyum. Aku merasa aneh. Aku tidak mengenalnya, tapi mengapa ia tersenyum ke arahku. Lalu anak itu langsung duduk di sebelahku tanpa rasa takut.
"Kakak mau permen?", katanya riang sambil menyodorkan sebungkus permen dari kantongnya.
"Kakakku sangat suka permen ini. Kakak pasti juga suka" tambahnya lagi.
Karena merasa tak enak, akhirnya aku mengambilnya.
"Kakak mau gak, jadi kakaknya Adel?"
"Memangnya kakaknya Adel ke mana? Apa dia gak marah kalo kakak jadi kakaknya Adel?"
"Itu kakak Adel" jawabnya sambil menunjuk ke arah sebelahku. "Tapi kakak gak pernah mau main lagi sama Adel. Kakak cuma diem aja. Cuma senyum dan duduk bareng Adel aja kalo Adel lagi main."
Aku menengok ke arah yang ditunjuk anak itu. Aku tak melihat siapa pun ada di sana. Tiba-tiba aku merinding. Tapi anehnya, aku tak ingin beranjak dari tempat itu. Aku merasa tak ingin meninggalkan Adel.
"Kak, boncengin Adel dong."
Perkataannya membangunkanku dari lamunan.
"Adel mau ke mana?"
"Ke situ kak. Adel mau ke tempat Nora."
Lalu aku memboncengkan Adel dengan sepedaku. Ia duduk di belakangku sambil bersenandung. Rasanya aku sering mendengar senandung itu, tapi aku tak tahu apa yang dinyanyikannya.
Tiba-tiba, "Brakk.."
Aku menengok ke belakang. Ke arah pohon tempat aku beristirahat tadi. Sebuah pick up menabrak pohon itu. Aku kaget bukan main. Beberapa menit yang lalu aku masih ada di sana. Jika bukan karena Adel minta diantar ke tempat Nora, aku mungkin saja belum beranjak dari sana.
Setelah beberapa detik, aku tersadar dari kekagetanku. Aku menengok ke boncengan sepedaku untuk memastikan Adel baik-baik saja. Tapi tak kudapati dia di sana atau di manapun. Semakin aku bingung bercampur kaget. Ada rasa takut terselip di sana.
Aku memutuskan untuk membeli minuman di warung dekat aku berhenti tadi. Seorang anak perempuan sebayaku melayaniku. Dia masih memakai seragam sekolahnya. Dia memandangku dengan tatapan sedikit khawatir. Mungkin wajahku yang pucat membuatnya membernaikan diri bertanya.
"Kamu tak apa-apa?"
"Ah, ehm, iya, tak apa. Aku hanya kaget saja. Aku tadi baru dari pohon itu sebelum pick up itu menabraknya."
"Kalo bagitu, duduklah dulu di sini sambil menenagkan hatimu. Aku masuk dulu ya, mau ganti baju. Nanti aku temani kamu."
Dia pun beranjak masuk. Tak sengaja aku membaca nama di bajunya, "Nora Adiarti".
ya pantas saja kakaknya gak mau main lagi sama si adel,,, karena memang gak bisa.
BalasHapussimpel, nyata. keren kak. =)