Senin, 09 Juli 2012

Tempat yang Berbeda


Setiap orang Tuhan ciptakan menurut apa yang Ia mau. Ada kulit putih, ada kulit hitam, ada kulit kuning, ada juga kulit coklat. Tiap orang berbeda. Berbeda secara fisik, berbeda juga cara berperilaku. Di tengah perbedaan itu, Tuhan juga memberi perlakuan yang berbeda bagi kita. Tapi tau gak, Tuhan gak pernah bermaksud untuk lebih mengasihi yang satu dan mengacuhkan yang lain dengan perlakuan yang berbeda itu.
Seseorang kadang menganggap yang lain lebih beruntung dari dirinya. Tapi percayalah, ada orang lain yang menganggapnya lebih beruntung. Seorang yang kaya mungkin dianggap lebih beruntung dari seorang miskin. Tapi mungkin juga ada orang kaya yang merasa si miskin ini lebih beruntung darinya.
Yang ingin aku ceritakan di sini bukanlah tentang hal-hal yang sangat rohani dan bersifat menggurui. Aku hanya ingin berbagi apa yang telah memberkatiku dan membuatku bersyukur. Aku membagikannya bukan untuk menunjukkan diriku hebat, aku hanya berharap orang lain bisa terberkati dan mensyukuri apa yang ia alami.
Cerita ini berawal dari persahabatanku dengan seorang yang kutemui pada masa kuliah dulu. Kami berbeda jurusan, tetapi kami satu pelayanan dalam persekutuan di kampus kami. Setelah kami lulus kuliah, kami sempat tidak berkomunikasi cukup lama. Ya, bisa kumaklumi. Aku sibuk beradaptasi dengan lingkungan baruku, yaitu lingkungan kerja di tempat baru. Demikian juga dirinya. Setelah beberapa lama, kami kembali berkomunikasi, entah karena apa dahulu itu. Karena apa pun itu, kurasa tak terlalu penting. Mungkin saja rasa rindu dari persahabatan kami yang membuat kami saling mencari satu sama lain.
Dalam kesibukan kami, kami masih cukup sering berinteraksi. Kadang melalui sosial media, kadang melalui messenger, ataupun dengan bertelepon dan berkirim sms. Kami berbagi apa yang kami alami. Sering sekali kami menceritakan banyak hal tetang masalah yang kami alami. Bahkan masalah yang sekiranya orang lain tak mampu memahami, kami saling mempercayai bahwa masing-masing dari kami akan memahami dan mengerti keadaan kami. Misalnya, ketika menghadapi masalah keluarga, aku yakin tidak semua orang akan mengerti posisi kami, tapi kami tetap membicarakannya dalam obrolan kami. Kami percaya dengan membagikannya satu sama lain, yang lain akan menguatkan dan mendoakannya.
Waktu berjalan. Dan sampailah pada hari di mana dia terpilih mewakili Indonesia dalam seminar ke luar negeri. Tak pernah dibayangkannya dia akan pergi ke luar negeri dengan momen seperti ini, bahkan untuk mewakili Indonesia, dalam hal ini mewakili instansinya. Aku berpikir, betapa hebatnya temanku yang satu ini. Ya, aku kagum dan bangga padanya. Aku berpikir dia sangat beruntung. Dia lebih beruntung dari aku. Nah, dari sini lah timbul pemikiran bahwa Tuhan telah menempatkan dan memperlakukan manusia ciptaanNya secara berbeda menurut kehendaNya.
Di balik semua hal yang kunilai merupakan keberuntungan ini, ternyata ada cerita lain yang membuatku bersyukur akan apa yang aku alami dan miliki saat ini. Sahabatku ini adalah seorang yang bercita-cita untuk meneruskan kuliah S2 nya di luar negeri. Namun, dalam perjalanannya, Tuhan tidak mengijinkannya. Ada beberapa kejadian yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Adiknya jatuh sakit, sehingga dia harus terus mendampingi keluarganya. Dan itu berarti dia tidak mungkin meninggalkan keluarganya jauh-jauh. Mungkin waktu itu dia tak berpikir bahwa nantinya dia akan tetap bisa ke luar negeri dengan pengalaman yang luar biasa seperti sekarang ini.
Kisah ini tak cukup berhenti di sini. Ternyata keberangkatannya ke luar negeri ini cukup mendadak. Bisa dibilang tidak banyak waktu yang dimiliki untuk mempersiapkannya. Bahkan untuk mengurus paspor biru. Beruntungnya, sahabatku ini pernah secara iseng membuat paspor hijau, entah untuk tujuan apa. Selain itu, dia merupakan salah satu dari sedikit karyawan yang mengajukan dirinya untuk mengikuti seminar ke luar negeri ini. Mungkin banyak teman-teman sekantornya yang tidak cukup percaya diri dengan kemampuan berbahasa asingnya sehingga banyak di antaranya yang memilih untuk tidak mengajukan diri.
Keberangkatannya ke luar negeri ini seperti sudah dipersiapkan Tuhan dari jauh-jauh hari. Mulai dari paspor, kemampuan berbahasa, dan juga keinginannya untuk maju. Beruntungnya lagi, di luar negeri, dia termasuk orang yang cepat mengikuti materi yang disajikan dan juga dengan cepat bergaul dengan perwakilan-perwakilan negara lain dengan kemampuan bergaul dan berbahasanya. Menurut ceritanya, ternyata tidak semua peserta seminar itu mampu bergaul dengan baik dan mengikuti materi dengan lancar karena terkendala bahasa. Beruntung baginya itu tak menghalanginya.
Dari ceritanya, aku jadi mempunyai pemikiran lain. Ternyata, Tuhan menciptakan kita bukan tanpa rencana. Tuhan punya rencana buat masing-masing kita. Dengan rencana dan tujuan yang berbeda-beda, otomatis, Tuhan pun akan memperlakukan kita secara berbeda. Ada orang yang ditempatkan Tuhan di tengah hutan. Di sana dia mengajar anak-anak suku pedalaman. Menolong banyak orang dengan apa yang ia lakukan. Ada yang Tuhan tempatkan di pusat-pusat pemerintahan, di perkotaan, di pedesaan, dan di manapun. Tuhan memperlakukan berbeda masing-masing dari kita.
Untuk setiap tujuan rencanaNya itu, Tuhan mempersiapkan masing-masing kita. Mungkin saat ini kita tak mengerti apa yang sedang kita alami. Mungkin kita seringkali mengeluh dengan apa yang sering kita sebut dengan penderitaan. Atau mungkin saat ini kita sedang iri dan merasa banyak orang lebih beruntung dari kita. Satu hal yang bisa kukatakan, percayalah rencanaNya adalah baik. Kita berada di tempat yang berbeda, berada dalam kondisi berbeda, dan mengalami pengalaman yang berbeda. Semua itu tak lepas dari rencana indahNya yang berbeda untuk masing-masing kita.
Inilah yang membuatku bersyukur dengan apa yang aku punya dan aku alami sampai saat ini. Hal ini menyadarkanku bahwa aku sedang disiapkan Tuhan untuk sesuatu.
Lalu aku teringat dengan suatu keinginanku yang sudah lama tersimpan dalam hatiku. Keinginan tentang membuat sebuah rumah tinggal bagi orang-orang tak mampu. Di sana, mereka dapat tinggal, belajar, mengasah kemampuannya, mengembangkan bakatnya, dan pada akhirnya mereka dapat meningkatkan taraf hidupnya. Tujuan akhir dari keinginanku adalah untuk memajukan Indonesia. Aku begitu mencintai negeri ini. Dan aku sadar, aku ini kecil jika dibandingkan negaraku. Mungkin aku tak bisa mengubah Indonesia ini secara besar-besaran. Tapi setidaknya, ketika aku dapat mewujudkan mimpiku ini, ada beberapa orang yang terangkat taraf hidupnya. Dan mereka ini lah yang aku harapkan akan mengembangkan cita-citaku lebih luas lagi. Semakin berkembang, semakin luas, maka akan semakin maju Indonesiaku.
Ah, ini hanya impianku. Tapi aku masih punya pengharapan bahwa mimpiku ini akan terwujud.
Mungkin inilah rencana Tuhan menempatkanku di tempat yang berbeda. Bagaimana denganmu?

Dan inilah tanggapan sahabatku tentang tulisanku ini.
Mimpi kita dicapai bukan pada saat mimpi itu menjadi kenyataan, tapi pada saat kita menyerahkannya ke tangan Tuhan. Karena saat kita menyerahkan mimpi kita kepada Tuhan, mimpi Tuhan lah yang akan terjadi dalam kehidupan kita... dan percayalah sahabatku, ngga akan pernah habisnya kamu bersyukur ketika mimpi Tuhan itu menjadi kenyataan..

Selasa, 26 Juni 2012

kepahitan yang manis


Siang ini aku duduk di depan komputerku. Awalnya aku ingin mengerjakan tugas yang harus terkumpul besok. Daripada sepi, pikirku, aku memutar lagu saja. Dan kuputarlah lagu-lagunya Christina Perri. Seketika aku seperti terbawa ke masa lalu. Ya, masa itu.
...
Tiba-tiba aku merasa getir di hatiku. Teringat rasa yang sendu.
Aku teringat bagaimana hari-hariku yang nampak kelabu walaupun sinar matahari dengan semangatnya sedang membakar bumi.
Aku teringat di mana hari-hariku dibasahi oleh tangisan malam.
Waktu itu aku hanya berteman sepi.
Angin dingin serasa mengikutiku ke manapun aku melangkah.
Malam selalu menjadi pelampiasan kegundahanku.
Kapalku kandas ditinggal pemiliknya.
Aku seperti berdiri di tepi pantai di tengah malam. Menunggu kapalku datang menjemputku.
Kembali angin pantai menghiburku. Tapi yang kurasa hanya dingin dan sepi.
Semakin lama aku berdiri di sana, semakin beku hatiku.
Aku merasakan pahit yang tak terobati.
Racun-racun kerinduan ini tak dapat ditawarkan lagi oleh hatiku yang telah beku.
Setiap kemanisan yang kurasa telah menjadi pahit oleh racun ini.
Lalu aku serasa mati dan menghitam ditelan kabut pagi.
 ...
Cukup…semua kepahitan ini telah kukenang menjadi manis…dan pagiku telah menjadi baru....

Selasa, 22 Mei 2012

Rasa Seorang Sahabat


Aku semakin tau bagaimana rasanya menjadi sahabat…
Malam ini terasa hening. Semua terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Kak Dinto sedang sibuk mengutak-atik sesuatu di meja kamarnya. Entah apa yang dirusakkannya lagi. Dia pikir dia sedang mencoba menciptakan sesuatu yang spektakuler. Tapi kenyataannya sudah setumpuk barang dirusakkannya dan dibiarkannya teronggok di kardus di pojok kamarnya.
Ibu sudah terlelap di tempat tidurnya. Sepertinya kegiatan baksos hari ini cukup menguras tenaganya. Ya, bisa kubayangkan betapa lelahnya ibu. Dia harus berjalan cukup jauh untuk mencapai lokasi baksos. Sebenarnya lokasinya tak jauh dari kota. Tapi untuk mencapai tempat itu, kami harus berjalan kaki cukup jauh karena jalanan tak memungkinkan dilewati kendaraan. Kami harus melewati semacam lereng yang cukup terjal. Bisa dibayangkan lah ya pas pulangnya butuh tenaga lebih karena harus menempuh jalan yang naik. Tapi aku senang. Senang melihat wajah ibu. Tersenyum penuh kedamaian.
Ayah sedang duduk di depan tv. Tapi di hadapannya ada setumpuk berkas yang harus dikerjakannya. Ya, ayah memang sering mengerjakan pekerjaannya di depan tv. Katanya biar ada yang nemenin. Setidaknya ada suara-suara yang mengusir sepi.
Sedangkan aku? Aku Cuma duduk-duduk di teras atas. Melepas lelah dengan segelas coklat hangat yang kucampur sedikit kopi. Minuman kesukaanku. Aku duduk memandangi langit. Melamun. Pikiranku mengembara. Mengingat setiap kejadian yang kualami beberapa hari lalu. Dan aku semakin tau bagaimana rasanya menjadi sahabat.
Ttrrrrtttt…..ttrrtttt….
Hp ku bergetar. Kulihat ada sebuah pesan masuk. Hmmm…dari Ony.
“Din..aku gak pengen bikin July kecewa. Tapi aku gak bsa nemeni dia nyari data buat bahan penelitiannya..padahal aku udah janji…sering pun aku ulangi janjiku itu…”
Huufftt…curhatan lagi, pikirku. Tapi aku bisa apa. Aku gak mungkin nolak kalo si Ony udah mulai cerita gini. Hatiku gak tega ngebiarin dia sendirian dalam masalahnya. Aku selalu ingin berada di dekatnya ketika dia memerlukan teman. Aku ingin selalu menjadi yang pertama dicarinya ketika dia merasa punya masalah. Dan memang itu yang selalu terjadi. Dia selalu mencariku.
Ony adalah sahabatku. Kami bertemu waktu SMP. Kebetulan sekelas. Dan sering sekelompok kalau ada guru yang memberi tugas kelompok. Kebetulan nomor absen kami berdekatan. Huruf depan nama kami yang membuat absen kami berdekatan. Dini Pratiwi Sudibyo dan Deony Adi Utama. Dari SMP kami mulai dekat. Dan persahabatan kami masih berlanjut sampai sekarang ini. Ketika kami sudah terpisah karena masing-masing dari kami punya pilihan untuk melanjutkan kuliah di kota yang berbeda. Aku memilih diam di kotaku. Sementara dia melanjutkan kuliah di ibu kota. Tapi bagi kami, jarak bukan halangan untuk tetap saling berkomunikasi dan bersahabat. Sempat sih, kami tak saling memberi kabar sampai beberapa lama karena kesibukan kami. Tapi akhir-akhir ini, rasanya hampir tiap hari kami saling terhubung. Entah itu melalui sms, telepon, atau chatting via messenger.
Aku selalu senang ketika dia menghubungiku. Rasanya itu menjadi momen di mana aku menjadi orang penting di hidupnya. Ah, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi, memang itulah yang kurasakan. Dan jika dia bercerita bahwa dirinya sedang dalam keadaan yang gak baik, entah kenapa, hatiku jadi ikutan sedih. Dan kadang ada rasa seperti cemburu ketika dia menceritakan tentang pacarnya. Ah, mungkin aku hanya tak ingin kehilangannya.
Seperti belakangan ini, dia sedang bingung dan tak ingin mengecewakan pacarnya. Aku merasa ada sesuatu di hatiku. Entah apa itu. Mungkin aku gak pengen digantikan oleh pacarnya. Mungkin aku masih pengen menjadi satu-satunya yang istimewa buat dia. Tapi…ada sesuatu yang menahanku meneruskan perasaanku itu. Mungkin itu adalah persahabatan kami. Persahabatan kami menahanku untuk tidak egois. Untuk bisa memposisikan diri sebagai sahabat. Menyemangati Ony ketika dia sedang tak bersemangat. Menemaninya ketika dia merasa sendiri. Medengarkannya ketika dia ingin bercerita. Memberinya penghiburan di saat dia sedih. Menguatkan ketika dia membutuhkan penguatan. Dan selalu mendoakannya.
Rasanya aku semakin mengerti bagaimana menjadi sahabat…
Aku tersenyum. Meneguk sisa minumanku. Malam ini aku mendapat pengertian baru. Rasa baru. Rasa seorang sahabat.

Aku mengasihimu sahabat.

Minggu, 20 Mei 2012

Langit Jingga


Sore ini begitu cantik. Aku menikmati kecantikannya dengan segelas teh dari atas awan.
Aku melihat cakrawala seperti terbakar. Jinggamu auramu. Membara dengan keindahan yang tak terkatakan.
Aku seperti di negeri antah berantah. Di kelilingi awan putih. Di latarbelakangi langit biru. Semburat jingga menjadi garis pembatas.
Seandainya aku bisa berjalan di atas awan, ingin aku berlari dan menari tanpa keterikatan, tanpa beban. Hanya perasaan bebas yang memenuhi hatiku.
Dan aku pun kembali berkhayal.
Aku ingin kau ada di sini bersamaku menikmati keindahan yang kunikmati sore ini.
Kau pasti akan merasakan hal yang sama.
Suka cita.
Atau mungkin cinta.
Ya, cinta.
Cinta yang sungguh indah dan tak terkatakan.
Hanya bisa dinikmati dengan melihatnya sendiri.
Matahari.
Matahari adalah peran terpenting dari lakon ini. Dia yang menciptakan jingga. Dia yang membakar cakrawala.
Namun keindahan ini tak akan lama. Matahari akan tertelan malam.
Namun, mentari tak akan lari. Dia akan menunggumu di balik malam.
Itulah mengapa aku ingin kau ada di sini bersamaku menikmati mentari bersama semburat jingganya yang hanya sementara.
Kau, aku, dan mentari.
Dalam waktu yang langka ini.
Indah. Seperti persahabatan kita. Cinta kita.
Jingga. Berbatas cakrawala.
Kadang seperti di antah berantah. Berkelana dengan liarnya imajinasi.
Kadang sedingin warna langit.
Kadang terasa samar tertutup awan.
Namun tetap ada mentari kita. Sang cinta. Dia yang membuat semua ini indah. Persahabatan kita.
Terkadang kita hanya terdiam tanpa kata. Tanpa pengungkapan. Tapi satu hal yang kita sama-sama tau. Aku tau kau menyayangiku, dan kau tau aku menyayangimu.
Seperti langit jingga sore ini.
Hanya keheningan yang mengungkapkan keindahannya.

·         Ditulis untuk yang membaca ini. Yang tau bahwa aku mengasihinya. Dan yang juga mengasihiku. Sahabat. Siapa pun.

Rabu, 09 Mei 2012

celoteh di malam hari..

Peri telah kembali tertunduk dan kembali merasakan hujan sebelum sempat terkena sinar mentari...
Mentari tak pernah tau...sahabat peri telah berlalu...menyisakan kelu...
Pergilah pergi...sisakan tangis tanpa kelegaan..lalu di mana bahagia berada?
Wangi bunga yang merasakan bahagia... Entah kini, entah nanti...semua tidaklah pasti.
Ini hanya dongeng... Biarlah malam membawanya dalam mimpi...
Hingga pagi datang bersama mentari.. Berbagi sesuatu yg pasti.. Kan indah suatu hari nanti..

Senin, 05 Maret 2012

kerisauan pagi

embun pagi ini menyapa dengan dingin pada setiap burung yang berkicau...
wangi kopi seakan tak mampu menandingi hiruk pikuknya pikiran ini...

aku datang pada bintang, malam kemarin...
aku tidur berselimut kelamnya malam..
tapi hari ini aku terbangun...meninggalkan gelap malam...meninggalkan mimpi yang tak terjadi...

aku tersenyum pada mentari...
hangatnya menyentuhku....namun dinginnya udara pagi tak mau menghilang dari sekitarku...

angin membelai rambutku...bermain-main dengan tiap helainya...
angin...dingin...

aku mencoba berlari demi medapati mu dalam rumah pohon kita...
namun aku tak tau arah...
aku hilang tertelan sunyi...
kesunyian yang timbul dari jarak yang tercipta oleh diammu...
kesunyian mu membeku...
mengeraskan hatiku dan memecahkannya menjadi serpihan..
merambat naik ke kepalaku...
otakku sudah tidak waras lagi olehmu...

aaahh....

cukup!!!

cukup kubilang...
aku akan menghentikan semua ini..
entah dengan apa..
jika perlu dengan membutakan mata...

ini hati...
remuk..
luka...
perih...
akan kusatukan dalam satu wangi kopi...
walau tak akan kuat wangi itu mengalahkan rasa ini, tapi akan ada wangi yang lain yang akan membuatku mampu berjalan menuju pagi yang hangat...benar benar hangat...bukan dalam mimpi...

Sabtu, 04 Februari 2012

kunyil


Kunyil, begitu teman-teman menyapanya, duduk di balkon kamarnya. Melipat lututnya, dan bersandar pada kursi malasnya. Bibirnya tersenyum. Bukan karena dia bahagia atau sedang merasa senang. Tapi senyum itu lebih menandakan dia mengerti sesuatu. Sesuatu yang telah terjadi, yang menyakitkan hatinya, namun akhirnya dia mengerti. Akhirnya, kunyil bersyukur telah mengalaminya.
Beberapa waktu lalu, keadaan jauh berbeda dengan saat ini. Dari fisiknya, kunyil terlihat mulai mengurus. Wajahnya seperti memancarkan luka dan kesedihan yang dalam. Ini dimulai sejak dia ditinggalkan oleh seseorang yang benar-benar ia sayangi. Seseorang yang tanpa kabar, menghilang begitu saja dari hidupnya. Tak benar-benar menghilang karena orang itu masih ada di sekitar kunyil. Tapi seperti ada jarak yang tak mampu diseberangi kunyil untuk sampai ke tempat orang itu.
Frosty. Ya, nama orang itu adalah frosty. Pemuda tampan dengan senyum yang selalu menghias di wajahnya. Entah mengapa hari-harinya mulai disibukkan dengan urusan bisnisnya. Bisnis kecil-kecilan yang didirikan dengan modal dari hasil tabungannya selama dia bekerja sambil kuliah itu mengalami kemajuan yang cukup pesat. Banyak orang puas dengan hasil pekerjaannya. Dan dia pun mulai tenggelam dalam pekerjaannya. Saking asyik dengan bisnis yang mulai naik itu, frosty sempat terhilang dari lingkaran pergaulannya. Dia mulai jarang kumpul bareng teman-temannya. Mulai jarang, bahkan tak pernah lagi sekedar mengirimkan sms atau telepon. Bahkan, dia membuka jejaring sosial hanya untuk yang berhubungan dengan pekerjaannya saja. Dia mulai hilang. Dan itu semua berujung dengan berakhirnya hubungannya dengan pacarnya.
Nama asli kunyil adalah nila. Teman-temannya lebih suka memanggilnya kunyil karena tingkah lucunya dan kegemarannya dengan warna kuning. Kuning-nila, awalnya disingkat kunil. Karena tingkahnya yang lucu, teman-temannya akhirnya memanggil kunyil.
Gadis itu tampak lebih baik sekarang. Rambutnya mulai terawat lagi. Perlahan, berat badannya pun kembali normal. Dan tawa riangnya sudah mulai sering terdengar.
...
Gadis itu diam. Merenung. Lama. Dan akhirnya dia tersenyum penuh syukur. Dia bersyukur ketika dia menyadari bahwa sakit hatinya sudah mulai sembuh. Luka akibat ditinggalkan frosty demi pekerjaan itu mulai kering. Dan dia semakin optimis bahwa sebentar lagi hidupnya akan kembali ceria. Kunyil bersyukur telah diijinkan mengalami sakit hati selama beberapa bulan, tapi akhirnya dapat memaafkan dan melupakan apa yang telah menyakitinya.
Tersenyum lagi. Kemudian diambilnya secangkir coklat panas di sebelahnya. Dihirupnya wangi coklat itu. Kemudian disesapnya. Kenikmatan yang luar biasa dari sebuah rasa syukur setelah sekian lama terkurung dalam kesakithatian.
Malam gelap, bintang terang…
Seorang gadis tenang dalam pelukan malaikat…