Minggu, 20 Mei 2012

Langit Jingga


Sore ini begitu cantik. Aku menikmati kecantikannya dengan segelas teh dari atas awan.
Aku melihat cakrawala seperti terbakar. Jinggamu auramu. Membara dengan keindahan yang tak terkatakan.
Aku seperti di negeri antah berantah. Di kelilingi awan putih. Di latarbelakangi langit biru. Semburat jingga menjadi garis pembatas.
Seandainya aku bisa berjalan di atas awan, ingin aku berlari dan menari tanpa keterikatan, tanpa beban. Hanya perasaan bebas yang memenuhi hatiku.
Dan aku pun kembali berkhayal.
Aku ingin kau ada di sini bersamaku menikmati keindahan yang kunikmati sore ini.
Kau pasti akan merasakan hal yang sama.
Suka cita.
Atau mungkin cinta.
Ya, cinta.
Cinta yang sungguh indah dan tak terkatakan.
Hanya bisa dinikmati dengan melihatnya sendiri.
Matahari.
Matahari adalah peran terpenting dari lakon ini. Dia yang menciptakan jingga. Dia yang membakar cakrawala.
Namun keindahan ini tak akan lama. Matahari akan tertelan malam.
Namun, mentari tak akan lari. Dia akan menunggumu di balik malam.
Itulah mengapa aku ingin kau ada di sini bersamaku menikmati mentari bersama semburat jingganya yang hanya sementara.
Kau, aku, dan mentari.
Dalam waktu yang langka ini.
Indah. Seperti persahabatan kita. Cinta kita.
Jingga. Berbatas cakrawala.
Kadang seperti di antah berantah. Berkelana dengan liarnya imajinasi.
Kadang sedingin warna langit.
Kadang terasa samar tertutup awan.
Namun tetap ada mentari kita. Sang cinta. Dia yang membuat semua ini indah. Persahabatan kita.
Terkadang kita hanya terdiam tanpa kata. Tanpa pengungkapan. Tapi satu hal yang kita sama-sama tau. Aku tau kau menyayangiku, dan kau tau aku menyayangimu.
Seperti langit jingga sore ini.
Hanya keheningan yang mengungkapkan keindahannya.

·         Ditulis untuk yang membaca ini. Yang tau bahwa aku mengasihinya. Dan yang juga mengasihiku. Sahabat. Siapa pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar