Minggu, 22 September 2013

Belajar Menjadi Dirigen

Ok, kali ini agak melenceng dari tema people around us. Kali ini adalah foto saya sendiri yang tentunya diambil oleh orang lain, walaupun diambil dengan kamera hp saya.

Jadi, ceritanya, saya hari ini dikasi tugas jadi dirigen. Ini pertama kali buat saya. Eh, sebelum cerita, mungkin ada baiknya kalau saya memberi tahu bahwa saya adalah salah satu anggota paduan suara gereja. Baru beberapa bulan ini kami punya pelatih baru. Secara kualitas, pelatih baru ini lebih banyak ilmunya dari pelatih yang dulu. Dan cara mengajarnya pun agak berbeda. Jika dulu gak pernah diajari caranya memimpin nyanyi, sekarang sang pelatih mulai menunjuk dan memberikan ilmu tentang menjadi seorang dirigen.
Penunjukan menjadi dirigen ini terjadi minggu lalu waktu latihan rutin terakhir. Kaget, takut, seneng, semua deh nyampur jadi satu. Kaget karena gak nyangka bakal ikutan ditunjuk. Takut, tepatnya takut salah karena ini pertama kalinya dan saya ngerasa belum pernah belajar menjadi dirigen. Seneng karena itu berarti saya bisa belajar hal baru. Mana tau, saya punya kemampuan di situ.
Hari ini lah saatnya saya maju dan memimpin paduan suara dan jemaat dalam ibadah. Sebelum ibadah dimulai, kami janjian berkumpul dua jam sebelumnya. Sayangnya, salah satu dari dirigen yang ditunjuk gak bisa datang karena mendadak pulang kampung. Dan tugas itu dialihkan ke saya. Matilah saya.
Jujur, saya sudah cukup stres ketika saya harus mimpin satu lagu. Ini malah ditambah satu lagi. Ternyata kejutan gak sampai di situ. Ada dua lagu ysng mendadak ditambahkan ke saya untuk saya pimpin.
Entahlah. Saya gak tau lagi bagaimana mengekspresikan perasaan saya. Saya pengen nangis. Beneran. Tapi anehnya, saya gak bisa nolak, dan saya pun gak bisa nangis, malah ketawa-ketawa.
Entah kerasukan apa tadi itu, saya maju-maju saja. Mimpin seperti yang sudah diajarkan. Setiap gerakan harus tegas. Bagian akhir harus jelas. Cara mengajak bernyanyi, cara berhenti, tanda permata, rit. Aaaah...pusing saya. Tapi ya sudahlah. Untung semua bisa saya lalui. Saya bersyukur. Lebih bersyukur lagi, ternyata saya mendapat ilmu. Besok-besok saya akan belajar lebih baik lai, Bu Pelatih. Selamat hari minggu.

Sabtu, 21 September 2013

Merenung

Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Otakku terasa kacau.

Seharusnya sekarang ini aku sedang berdiskusi dengan kelompokku. Seharusnya aku memberi ide dan pemikiran tentang topik diskusi malam ini. Tapi apa yang terjadi? Otakku kacau. Pikiranku tak di sini. Seperti ada benang kusut di kepalaku.
Aku tak bisa berpikir. Dari pada aku meracau, lebih baik aku diam. Lalu kuputuskan untuk merenung. Mengingat kembali akar masalahku. Mencoba mengurai benang-benang kusut di kepalaku. Satu-satu kuluruskan. Satu-satu kubuka simpulnya.

Lama aku merenung. Perlahan benang kusutku pun mulai terurai.


Kamis, 19 September 2013

Lelah

Pagi ini mendung. Cuaca yang sangat enak untuk melanjutkan tidur. Tapi tidak untuknya. Dia harus bangun pagi. Dan hari ini, dia bangun lebih pagi dari biasanya. Segera dia memasak untuk suami dan anaknya. Masakan yang disertai bumbu kasih sayang. Pasti lezat.
Usai memasak, ia lantas mengendarai motornya menuju pasar. Dia harus membeli bahan masakan untuk besok. Tak mudah menentukan akan memasak apa. Jika terlalu sering memasak satu jenis masakan, pasti ada rasa bosan. Apalagi dia memasak bukan untuknya sendiri. Harus tahu selera suami dan anaknya.
Sampai di rumah, segera dia mandi. Belum sempat dia bersiap-siap ke kantor, anaknya sudah bangun. Dia harus memandikanya dan mempersiapkan anaknya untuk sekolah. Akan bertambah lama jika anaknya rewel. Setelah dirinya dan anaknya wangi dan rapi, biasanya dia akan ke pura untuk sembahyang. Menghadap Yang Maha Kuasa dan menyerahkan harinya ke dalam rencana-Nya. Ritual yang seharusnya dilakukan oleh semua orang sebagai ucapan syukur atas hidupnya.
Setelah semua dilakukannya, barulah dia bisa berangkat ke kantor.
Hey, ini masih setengah delapan, dan wanita ini telah melakukan banyak sekali aktivitas. Pantaslah jika ia sekarang kelelahan. Mungkin semalam ia tak bisa tidur karena anaknya. Mungkin pagi ini dia beraktivitas lebih dari biasanya karena asisten rumah tangganya belum datang. Entahlah. Yang pasti dia butuh istirahat. Ibu muda yang hebat, beristirahatlah, karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.

Kapan Pulang

Bahagianya mereka. Turun dari kereta dengan hati yang penuh kerinduan. Sebentar lagi, mungkin mereka sudah bisa makan bersama keluarganya.
Bapak, kapan pulang?
Seorang nenek turun dari kereta bersama dua orang cucu dan seorang anak perempuannya. Mungkin mereka akan mengunjungi sanak saudaranya. Di tempat lain, sebuah keluarga tengah kerepotan membawa barang-barangnya. Mungkin akan banyak oleh-oleh yang dibagikan. Mungkin, mereka sedang pulang dari perantauan.
Bapak, kapan pulang?
Rindu ini sudah tersimpan selama bertahun-tahun. Aku masih mencoba menjaganya agar tak usang. Entahlah. Mungkin tahun ini aku akan mengakhiri kerinduanku. Kerinduan yang selalu kuselipkan dalam mimpiku. Kerinduan yang selalu membuatku bertanya, "Kapan pulang."

Rabu, 18 September 2013

Kenangan

Ah, sudah jam segini. Sepertinya aku agak terlambat malam ini. Tempat ini sudah sepi, dan selalu sepi ketika aku di sini. Tak ada orang. Hanya aku sendiri.
Kali ini aku duduk di pojok ruangan. Tak ada pelayan mendatangiku. Tak ada menu ditawarkan padaku. Yang kulakukan hanya melamun. Apa lagi yang kulamunkan selain kenangan hidupku.
Tempat makan ini cukup unik. Didesain dengan tampilan yang akan menimbulkan kenangan dari orang yang datang. Itulah sebabnya aku sekarang ini duduk di sini. Terperangkap oleh kenangan. Lebih tepatnya menjatuhkan diri dalam perangkap kenangan.

Sayup-sayup kudengar suara ayam berkokok. Menyadarkanku bahwa aku harus segera beranjak dari sini. Aku tak mau matahari membakarku dan melenyapkanku.
Besok, ketika semua orang sudah meninggalkan tempat ini, aku akan duduk kembali di sini. Tenang saja, kau tak akan melihatku.

Selasa, 17 September 2013

Bukan Akhir

Hari ini adalah hari terakhir kita bertemu di dunia ini. Memang jiwamu telah meninggalkanku beberapa hari lalu, tapi jasadmu baru akan meninggalkanku hari ini. Hari ini akan diadakan upacara ngaben untukmu. Jasadmu akan kembali menjadi debu. Tenang saja, kau tak akan merasakan sakit lagi. Penyakitmu akan terbakar. Jiwamu pun akan tenang.
Jangan lagi mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja.
Seperti katamu, kematian bukanlah akhir. Dan aku akan menyimpan itu dalam benakku. Aku tak akan mengakhiri rasaku padamu. Rasa itu akan selalu ada. Masih akan sama seperti dulu, atau sekarang. Akan kusimpan dengan rapi segala kenangan tentangmu. Akan kubuatkan kotak kenangan khusus untukmu. Kutempatkan di tempat istimewa. Dan kupastikan tak akan ada yang menggesernya.
Jangan takut aku akan sendirian. Aku tak akan merasa sendiri. Bukankah engkau telah menjadi debu dan kembali ke tanah? Jika memang demikian, engkau akan selalu bersamaku. Bersama langkahku yang memijak tanah. Bersama hatiku yang telah kutanam ke dalamnya. Oh, kalau kau masih tak percaya aku tak sendirian, lihatlah, betapa banyaknya orang-orang yang mengiring bukur untukmu. Mereka pasti akan bersamaku. Percayalah.
Jangan menangis melihatku. Kau lihat, kan, aku tak menangis? Aku pastikan aku akan bahagia. Karena bahagiaku adalah bahagiamu. Dan aku tak ingin kau tak bahagia.
Percayalah, aku akan baik-baik saja. Sama seperti aku mempercayai kata-katamu, bahwa ini bukan akhir.
Sampai ketemu, kekasihku.

*bukur: tempat meletakkan peti biasanya berbentuk lembu atau vihara, ada pula yang menyebutnya wadah, terbuat dari kayu dan kertas. (sumber: wikipedia)

Senin, 16 September 2013

Biar Saja

Tadi pagi hujan. Sisa-sisa rintiknya masih setia membasahi bumi. Tidak deras, tapi cukup membuatku sakit, kurasa. Atau mungkin, sakit ini bukan karen hujan? Entahlah. Biar saja hujan menyentuku. Aku hanya mau menutup kepalaku saja. Atau mungkin sebenarnya aku ingin menutup otakku dari pikiran-piran yang mengganggu ini?
Aku masih harus menapaki jalan ini untuk sampai tujuanku. Dua orang temanku sudah di depan. Biar saja. Aku ingin menikmati setiap langkah kakiku. Berat memang. Tapi harus kulangkahkan demi tujuanku.
Mendung masih menggantung.Cukup pekat untuk menurunkan hujan secara tiba-tiba. Ah, biar saja. Aku tak mau berkejaran dengannya. Dia temanku. Setidaknya, pekatnya menggambarkan isi hatiku. Jika dia mau menurunkan hujannya, ya sudah, aku akan menyambutnya.
Dinginnya udara pegunungan ini makin menusuk. Sama seperti hatiku yang telah menjadi dingin. Biar saja. Kami sama-sama dingin.
Jika aku bisa berhenti sekarang, aku ingin berhenti. Jika aku bisa meringkuk sekarang, aku pun ingin melakukannya. Tapi, alam hanya teman. Teman yang megningatkan. Teman yang tak mengijinkanku terpuruk dalam dingin dan gelap. Ia menyuuhku tetap berjalan, walau terseok. Ia menyuruhku tetap berdiri, walau kurasakan berat menopang tubuh ini.
Biar saja. Biar saja pikiran ini mengembara. Biar saja kenangan buruk menyiksa jiwa. Biar saja dingin membekukan hati. Biar saja mendung menurunkan hujannya. Karena setelah ini akan ada pelangi.