jika langit terlihat hitam pekat, seolah-olah akan terjadi badai, dan itu membuatmu takut...tak apa...
berusahalah untuk tetap percaya bahwa sinar cerah sang mentari akan menghilangkan kegelapannya...kehangatan mentari akan menyingkirkan dinginnya badai itu...
badai harus tetap kamu alami...badai harus tetap kamu rasakan...tapi percayalah...itu akan mebentukmu...menjadi sesuatu yang lebih baik...
kesakitanmu akan membantumu untuk lebih kuat...
keterbatasanmu akan mengajarmu untuk mengandalkanNya...
ketulusanmu akan membuatmu bertahan...
pengharapanmu tidak akan sia-sia sepanjang kamu berharap padaNya...
dan percayalah...
Tuhan yang Maha Kasih, yang akan meberi yang terbaik buat anakNya, sedang melakukan suatu rencana yang terbaik pula untukmu...
ingatlah...
kesakitanmu tak seberapa dibandingkan dengan kasihNya..
tetaplah berharap...
Tuhan memberkati...
setiap kata, setiap langkah, setiap peristiwa...semuanya memiliki cerita... semua mempunyai ruang dalam kotak kenangan... setiap air mata, setiap tawa, semua menghias pembungkusnya...
Sabtu, 08 Oktober 2011
Jumat, 07 Oktober 2011
kisah kopi pagi hari...
...
arrgghh....sakit sekali kepalaku...
aku berusaha membuka mataku pagi ini. Namun rasa pening ini membuatku mengurungkan niatku dan kembali memejamkan mataku. Kepalaku terlalu sakit untuk kupaksakan bangun. Dan akhirnya aku kembali memejamkan mataku dan berusaha untuk tertidur lagi.
...
hmm...sinar matahari sudah mulai masuk ke kamarku dari celah-celah gorden biruku. ternyata hari sudah mulai siang. dan kepalaku masih terasa sakit. tapi akhirnya aku memaksakan diriku untuk beranjak dari tempat tidurku. awalnya aku hanya duduk sambil menyesuaikan keseimbanganku sebelum mulai melangkah. dan sekarang aku sudah berada di dapur kecilku. aku membuka lemari gantung kecil di atas kompor. mengambil bbuk kopi kesukaanku, mengambil beberapa sendok teh bubuk tersebut dan menambahkan creamer dalam cangkirku.
bau harum kopi ini membuatku sedikit relaks. dan setidaknya mengurangi sedikit sakit di kepalaku.
aku duduk di kursi malasku dan mulai menikmati kopiku sambil mengingat-ingat kejadian semalam. kejadian yang kupikir menjadi salah satu sebab munculnya rasa sakit di kepalaku.
...
malam itu aku terlalu lelah untuk menunggu. menunggu seseorang yang sangat aku cintai pulang dari tempat kerjanya. seorang yang gila kerja. ya, kegilaan pada pekerjaannya itu lah salah satu pemicu pertengkaran kami.
kekasihku adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan ternama. dia adalah seorang yang rajin dalam melakukan pekerjaannya. dan saking rajinnya, dia sering sekali pulang larut bahkan pagi. huhh...menyebalkan.
bukan aku tak suka dia bekerja keras, tapi aku juga ingin mendapatkan sedikit dari waktunya untuk kebersamaan kami.
ah, ya...mungkin kau pikir aku ini seorang yang egois. tapi ini lah yang kurasa. kekasihku terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai aku merasa dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada hubungan kami.
bagaimana mungkin suatu hubungan akan terus berjalan jika tak ada komunikasi??
sudah beberapa hari ini kekasihku tak sempat meneleponku. sms pun dapat dihitung dengan jari. apalagi waktu untuk bertemu...jangan terlalu berharap.
dan semalam...adalah puncak dari kelelahanku menunggunya. aku sudah menunggu dengan kelelahanku untuk sebuah balasan sms darinya. tapi balasan itu mengecewakanku. dia hanya membalas bahwa dia sudah sampai di rumahnya dan tak bisa menelepon.
hahh??sia-sia lah aku menunggu.
padahal esok harinya adalah hari libur buat kami berdua. namun, libur kali ini pun akan dia habiskan bersama temannya.dan itu menjadi penyebab lain kekesalanku.
aku tak bisa melakukan apa pun dengan kekesalanku ini. aku hanya bisa mengirimkan sms untuknya dengan isi bahwa aku merasa sangat sedih karena dari 24 jam waktu nya, aku tak bisa mendapatkan 5 menit untuk mengobrol.
aku hanya bisa menangis di kamar. ditemani malam yang sepi. menangis untuk beberpa lama. menangis karena tak tau lagi harus berbuat apa. aku terlalu kesal. tetapi aku terlalu sayang kepada kekasihku ini.
dan pagi ini aku bangun dengan sisa-sisa tangisku semalam. sisa kesakitanku.
...
kembali meneguk kopiku dan mulai berpikir...ternyata suatu hubungan tidak cukup hanya didasarkan oleh cinta, tetapi juga komunikasi yang baik dan waktu yang berkualitas.
...
tegukan terakhir dari kopiku membuatku sadar. aku tak boleh hanya duduk di sini. aku harus mengambil keputusan. meninggalkan sakitku dan meninggalkannya. berhenti untuk mengharapkan waktunya. atau tetap berusaha mengertinya.
...
aahh...ternyata cinta membutuhkan banyak pengorbanan...
tapi aku tetap mencintaimu, kekasihku..
arrgghh....sakit sekali kepalaku...
aku berusaha membuka mataku pagi ini. Namun rasa pening ini membuatku mengurungkan niatku dan kembali memejamkan mataku. Kepalaku terlalu sakit untuk kupaksakan bangun. Dan akhirnya aku kembali memejamkan mataku dan berusaha untuk tertidur lagi.
...
hmm...sinar matahari sudah mulai masuk ke kamarku dari celah-celah gorden biruku. ternyata hari sudah mulai siang. dan kepalaku masih terasa sakit. tapi akhirnya aku memaksakan diriku untuk beranjak dari tempat tidurku. awalnya aku hanya duduk sambil menyesuaikan keseimbanganku sebelum mulai melangkah. dan sekarang aku sudah berada di dapur kecilku. aku membuka lemari gantung kecil di atas kompor. mengambil bbuk kopi kesukaanku, mengambil beberapa sendok teh bubuk tersebut dan menambahkan creamer dalam cangkirku.
bau harum kopi ini membuatku sedikit relaks. dan setidaknya mengurangi sedikit sakit di kepalaku.
aku duduk di kursi malasku dan mulai menikmati kopiku sambil mengingat-ingat kejadian semalam. kejadian yang kupikir menjadi salah satu sebab munculnya rasa sakit di kepalaku.
...
malam itu aku terlalu lelah untuk menunggu. menunggu seseorang yang sangat aku cintai pulang dari tempat kerjanya. seorang yang gila kerja. ya, kegilaan pada pekerjaannya itu lah salah satu pemicu pertengkaran kami.
kekasihku adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan ternama. dia adalah seorang yang rajin dalam melakukan pekerjaannya. dan saking rajinnya, dia sering sekali pulang larut bahkan pagi. huhh...menyebalkan.
bukan aku tak suka dia bekerja keras, tapi aku juga ingin mendapatkan sedikit dari waktunya untuk kebersamaan kami.
ah, ya...mungkin kau pikir aku ini seorang yang egois. tapi ini lah yang kurasa. kekasihku terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai aku merasa dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada hubungan kami.
bagaimana mungkin suatu hubungan akan terus berjalan jika tak ada komunikasi??
sudah beberapa hari ini kekasihku tak sempat meneleponku. sms pun dapat dihitung dengan jari. apalagi waktu untuk bertemu...jangan terlalu berharap.
dan semalam...adalah puncak dari kelelahanku menunggunya. aku sudah menunggu dengan kelelahanku untuk sebuah balasan sms darinya. tapi balasan itu mengecewakanku. dia hanya membalas bahwa dia sudah sampai di rumahnya dan tak bisa menelepon.
hahh??sia-sia lah aku menunggu.
padahal esok harinya adalah hari libur buat kami berdua. namun, libur kali ini pun akan dia habiskan bersama temannya.dan itu menjadi penyebab lain kekesalanku.
aku tak bisa melakukan apa pun dengan kekesalanku ini. aku hanya bisa mengirimkan sms untuknya dengan isi bahwa aku merasa sangat sedih karena dari 24 jam waktu nya, aku tak bisa mendapatkan 5 menit untuk mengobrol.
aku hanya bisa menangis di kamar. ditemani malam yang sepi. menangis untuk beberpa lama. menangis karena tak tau lagi harus berbuat apa. aku terlalu kesal. tetapi aku terlalu sayang kepada kekasihku ini.
dan pagi ini aku bangun dengan sisa-sisa tangisku semalam. sisa kesakitanku.
...
kembali meneguk kopiku dan mulai berpikir...ternyata suatu hubungan tidak cukup hanya didasarkan oleh cinta, tetapi juga komunikasi yang baik dan waktu yang berkualitas.
...
tegukan terakhir dari kopiku membuatku sadar. aku tak boleh hanya duduk di sini. aku harus mengambil keputusan. meninggalkan sakitku dan meninggalkannya. berhenti untuk mengharapkan waktunya. atau tetap berusaha mengertinya.
...
aahh...ternyata cinta membutuhkan banyak pengorbanan...
tapi aku tetap mencintaimu, kekasihku..
Kamis, 30 Juni 2011
gadis bodoh-tangis dalam hujan
tap....tap...tap....tap...brakkk.....
suara kaki yang berlari menaiki tangga dan diakhiri dengan bantingan pintu itu cukup menggambarkan suasana hati eva malam itu.
hatinya hancur. bukan, bukan karna perbuatan oran lain yang membuatnya hancur. eva sadar hati nya yang sakit malam itu adalah hasil perbuatannya sendiri. konsekuensi dari keputusannya.
beberapa bulan yang lalu, eva mengenal seorang pria. pria yang tak banyak bicara seperti kebanyakan pria lain yang eva kenal yang suka membangga-banggakan dirinya. seorang pria dengan pemikiran dan pergaulan yang cukup luas dibalik pembawaannya yang kalem. dan eva mulai menaruh perhatian kepada pria tersebut.
seiring waktu berjalan, eva semakin dekat dengan pria ini. ody nama pria ini. sering jalan bareng, makan bareng, cerita-cerita tentang apa pun. dan itu membuat eva semakin tau tentang ody. ternyata ody cukup menyenangkan diajak berbagi cerita. ternyata ody cukup dewasa jika dibandingkan dirinya yang masih suka manja dan kekanak-kanakan.
eva mulai menaruh hati pada ody. makin hari, eva merasa semakin menyayangi ody. eva ingin memberi banyak hal kepada ody.
tpi...eva selalu dibayangii ketakutan di dalam hatinya. pengalaman buruknya mencintai seseorang membuat dirinya sangat protektif terhadap hatinya. eva sangat takut untuk merasakan sakit hati lagi. dia selalu berpikir dirinya adalah objek yang tak diinginkan oleh orang lain. tak pantas menerima cinta dari seseorang.
dan sore itu, eva telah mengambil keputusan. sebuah keputusan yang timbul karena kerendahan dirinya. ya, sampai sore itu, eva tak pernah merasa percaya diri untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada ody. dia terlalu takut ditolak. dan akhirnya, sore itu dia memutuskan untuk menjauhi ody. untuk melupakan ody.
sore itu, langit nampak mendung. eva mencoba menghubungi ody. karena takut mengganggu, eva hanya mengirimkan pesan singkat. sms nya pun dibalas ody. mereka sepakat untuk bertemu malam ini.
malam pun datang.
namun hujan.
eva bertemu ody seperti yang dijanjikan. kemudian eva mengungkapkan perasaannya kepada ody.
berhenti sejenak, mengambil nafas, eva langsung meneruskan perkataannya dan menyampaikan keputusan yang telah dibuatnya hari itu.
ody belum sempat berkata sepatah kata pun ketika dia melihat eva berdiri dan langsung pergi meninggalkannya.
hening.
tanpa kata.
menyisakan kebingungan di hati ody.
dan lihatlah sekarang. eva sedang menangis di kamarnya. menangis karena keputusannya.
tapi eva adalah seorang yang keras kepala. sekali dia memutuskan, dia pasti melakukannya, walaupun itu menyakitkan hatinya.
ah...kau bodoh, eva. sangat bodoh.
lihatlah di luar sana. seorang pria menangis di bawah hujan. dia mencintaimu. tapi dia sadar, sekarang dia sudah tak dapat berbuat apa pun karena kamu telah memutuska untuk meninggalkannya, eva. meninggalkan nya hanya karena ketakutan bodohmu.
dan cerita cinta pun berrakhir sampai di sini....menyisakan ketakutan di dalam seorang gadis bodoh dan tangisan seorang pria dalam hujan
suara kaki yang berlari menaiki tangga dan diakhiri dengan bantingan pintu itu cukup menggambarkan suasana hati eva malam itu.
hatinya hancur. bukan, bukan karna perbuatan oran lain yang membuatnya hancur. eva sadar hati nya yang sakit malam itu adalah hasil perbuatannya sendiri. konsekuensi dari keputusannya.
beberapa bulan yang lalu, eva mengenal seorang pria. pria yang tak banyak bicara seperti kebanyakan pria lain yang eva kenal yang suka membangga-banggakan dirinya. seorang pria dengan pemikiran dan pergaulan yang cukup luas dibalik pembawaannya yang kalem. dan eva mulai menaruh perhatian kepada pria tersebut.
seiring waktu berjalan, eva semakin dekat dengan pria ini. ody nama pria ini. sering jalan bareng, makan bareng, cerita-cerita tentang apa pun. dan itu membuat eva semakin tau tentang ody. ternyata ody cukup menyenangkan diajak berbagi cerita. ternyata ody cukup dewasa jika dibandingkan dirinya yang masih suka manja dan kekanak-kanakan.
eva mulai menaruh hati pada ody. makin hari, eva merasa semakin menyayangi ody. eva ingin memberi banyak hal kepada ody.
tpi...eva selalu dibayangii ketakutan di dalam hatinya. pengalaman buruknya mencintai seseorang membuat dirinya sangat protektif terhadap hatinya. eva sangat takut untuk merasakan sakit hati lagi. dia selalu berpikir dirinya adalah objek yang tak diinginkan oleh orang lain. tak pantas menerima cinta dari seseorang.
dan sore itu, eva telah mengambil keputusan. sebuah keputusan yang timbul karena kerendahan dirinya. ya, sampai sore itu, eva tak pernah merasa percaya diri untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada ody. dia terlalu takut ditolak. dan akhirnya, sore itu dia memutuskan untuk menjauhi ody. untuk melupakan ody.
sore itu, langit nampak mendung. eva mencoba menghubungi ody. karena takut mengganggu, eva hanya mengirimkan pesan singkat. sms nya pun dibalas ody. mereka sepakat untuk bertemu malam ini.
malam pun datang.
namun hujan.
eva bertemu ody seperti yang dijanjikan. kemudian eva mengungkapkan perasaannya kepada ody.
berhenti sejenak, mengambil nafas, eva langsung meneruskan perkataannya dan menyampaikan keputusan yang telah dibuatnya hari itu.
ody belum sempat berkata sepatah kata pun ketika dia melihat eva berdiri dan langsung pergi meninggalkannya.
hening.
tanpa kata.
menyisakan kebingungan di hati ody.
dan lihatlah sekarang. eva sedang menangis di kamarnya. menangis karena keputusannya.
tapi eva adalah seorang yang keras kepala. sekali dia memutuskan, dia pasti melakukannya, walaupun itu menyakitkan hatinya.
ah...kau bodoh, eva. sangat bodoh.
lihatlah di luar sana. seorang pria menangis di bawah hujan. dia mencintaimu. tapi dia sadar, sekarang dia sudah tak dapat berbuat apa pun karena kamu telah memutuska untuk meninggalkannya, eva. meninggalkan nya hanya karena ketakutan bodohmu.
dan cerita cinta pun berrakhir sampai di sini....menyisakan ketakutan di dalam seorang gadis bodoh dan tangisan seorang pria dalam hujan
Sabtu, 28 Mei 2011
kita akan bertemu lagi
tergolek lemah di tempat tidurku membuatku banyak berpikir. berpikir tentang hal menyenangkan yang pernah kulalui dulu, berpikir tentang sakit yang kualami, bahkan tidak jarang aku berpikir untuk mengakhiri hidupku.
ini tahun ke 4 ku aku tidak dapat beraktivitas seperti manusia normal. beberapa waktu sebelumnya aku masih bisa berjalan keluar rumah. namun sekarang....untuk duduk saja aku harus dibantu. makan disuapi. mandi, dimandikan. aku tak mampu melakukan hal-hal kecil yang biasa dilakukan orang normal.
sakit ini kadang membuatku marah. aku harus tergantung orang lain, tapi tak jarang orang lain tak mengerti apa yang aku mau. aku ingin menikmati udara segar di luar sana, bukan tergolek lemah di tempat tidur ini. aku ingin melihat cucuku melakukan aktivitasnya, bercanda dan tertawa bersamaku. aku ingin melihat orang lalu lalang di jalan. aku ingin...aku ingin kembali seperti dulu...manusia normal yang melakukan aktivitasnya...
rasanya sepi sekali di tempat tidur ini sendiri. rasanya sedih sekali ketika mengetahui cucuku tertawa tapi aku tak bisa ikut tertawa bersama mereka.
tapi...aku sadar...mereka manusia normal. mereka punya aktivitasnya. mereka tak bisa terus menerus ada di sampingku, menemaniku, bercerita padaku, atau hanya sekedar duduk diam di sampingku.
mungkin aku telah menjadi beban mereka. penyakit tuaku ini membuatku tak bisa berbuat apa-apa. hanya pasrah.
hal yang kunanti-nantikan adalah ketika ada orang yang menjengukku. entah itu anakku, cucuku, tetanggaku, ataupun orang-orang dari gereja. walaupun tak lama, tapi aku merasakan ada semarak di dadaku. seakan bangkit kembali semangatku untuk melanjutka hidupku.
aku ingat ketika cucuku pulang dari tempat nya merantau dan membawakanku kue. rasa kue itu enak sekali. enak bukan karena kuenya, tapi karena cinta kasihnya yang kurasakan.
aku ingat ketika cucuku berpamitan pulang, ada uang yang dia tinggalkan untukku. aku tau aku tak bisa memakainya. aku pun tau cucuku mengerti akan hal itu. tapi aku senang menerimanya karena itu bentuk perhatiannya.
satu hal yang terus membuatku kembali untuk bersemangat dan melanjutkan hidupku ketika aku mulai berpikir untuk mengakhiri hidupku adalah cinta dari suamiku. suami yang sangat setia menemaniku. suami yang sangat sabar menolongku dan merawatku. suami...yang pasti mencintaiku.
aku pun mencintaimu, suamiku. meskipun kadang, ah sering kali aku memarahimu dan membentakmu karena kamu tidak mendengar perkataanku. aku tau, kamu tak sengaja melakukannya. itu karena pendengaranmu mulai berkurang akibat dimakan usia.
aku ingat kamu selalu memandikanku, menyisirku, menyuapiku, bercerita untukku, dan banyak hal lain yang telah kamu lakukan untukku.
tetapi sekarang....
mungkin waktuku di dunia ini cukup sampai sekarang saja. mungkin ragaku harus beristirahat untuk selamanya. mungkin mataku harus tertutup. ya, mungkin inilah saatnya aku kembali ke rumah Bapa.
jangan bersedih suamiku. aku memang meninggalkanmu saat ini, tapi kita pasti berjumpa di rumah Bapa.
jika kamu mulai kesepian, ingatlah, kita akan bertemu lagi.
jika kamu mulai merindukanku, ingatlah, kita akan bertemu lagi.
itu saja...ingatlah kita akan bertemu lagi.
anakku, cucu-cucu ku...
jangan sedih kutinggalkan. kita akan bertemu lagi.
terima kasih untuk setiap cinta dan perrhatian yang kalian beri. aku akan meninggalkan kalian. tapi ingatlah, kita akan bertemu lagi.
ini tahun ke 4 ku aku tidak dapat beraktivitas seperti manusia normal. beberapa waktu sebelumnya aku masih bisa berjalan keluar rumah. namun sekarang....untuk duduk saja aku harus dibantu. makan disuapi. mandi, dimandikan. aku tak mampu melakukan hal-hal kecil yang biasa dilakukan orang normal.
sakit ini kadang membuatku marah. aku harus tergantung orang lain, tapi tak jarang orang lain tak mengerti apa yang aku mau. aku ingin menikmati udara segar di luar sana, bukan tergolek lemah di tempat tidur ini. aku ingin melihat cucuku melakukan aktivitasnya, bercanda dan tertawa bersamaku. aku ingin melihat orang lalu lalang di jalan. aku ingin...aku ingin kembali seperti dulu...manusia normal yang melakukan aktivitasnya...
rasanya sepi sekali di tempat tidur ini sendiri. rasanya sedih sekali ketika mengetahui cucuku tertawa tapi aku tak bisa ikut tertawa bersama mereka.
tapi...aku sadar...mereka manusia normal. mereka punya aktivitasnya. mereka tak bisa terus menerus ada di sampingku, menemaniku, bercerita padaku, atau hanya sekedar duduk diam di sampingku.
mungkin aku telah menjadi beban mereka. penyakit tuaku ini membuatku tak bisa berbuat apa-apa. hanya pasrah.
hal yang kunanti-nantikan adalah ketika ada orang yang menjengukku. entah itu anakku, cucuku, tetanggaku, ataupun orang-orang dari gereja. walaupun tak lama, tapi aku merasakan ada semarak di dadaku. seakan bangkit kembali semangatku untuk melanjutka hidupku.
aku ingat ketika cucuku pulang dari tempat nya merantau dan membawakanku kue. rasa kue itu enak sekali. enak bukan karena kuenya, tapi karena cinta kasihnya yang kurasakan.
aku ingat ketika cucuku berpamitan pulang, ada uang yang dia tinggalkan untukku. aku tau aku tak bisa memakainya. aku pun tau cucuku mengerti akan hal itu. tapi aku senang menerimanya karena itu bentuk perhatiannya.
satu hal yang terus membuatku kembali untuk bersemangat dan melanjutkan hidupku ketika aku mulai berpikir untuk mengakhiri hidupku adalah cinta dari suamiku. suami yang sangat setia menemaniku. suami yang sangat sabar menolongku dan merawatku. suami...yang pasti mencintaiku.
aku pun mencintaimu, suamiku. meskipun kadang, ah sering kali aku memarahimu dan membentakmu karena kamu tidak mendengar perkataanku. aku tau, kamu tak sengaja melakukannya. itu karena pendengaranmu mulai berkurang akibat dimakan usia.
aku ingat kamu selalu memandikanku, menyisirku, menyuapiku, bercerita untukku, dan banyak hal lain yang telah kamu lakukan untukku.
tetapi sekarang....
mungkin waktuku di dunia ini cukup sampai sekarang saja. mungkin ragaku harus beristirahat untuk selamanya. mungkin mataku harus tertutup. ya, mungkin inilah saatnya aku kembali ke rumah Bapa.
jangan bersedih suamiku. aku memang meninggalkanmu saat ini, tapi kita pasti berjumpa di rumah Bapa.
jika kamu mulai kesepian, ingatlah, kita akan bertemu lagi.
jika kamu mulai merindukanku, ingatlah, kita akan bertemu lagi.
itu saja...ingatlah kita akan bertemu lagi.
anakku, cucu-cucu ku...
jangan sedih kutinggalkan. kita akan bertemu lagi.
terima kasih untuk setiap cinta dan perrhatian yang kalian beri. aku akan meninggalkan kalian. tapi ingatlah, kita akan bertemu lagi.
Kamis, 26 Mei 2011
perjalanan kenangan
entah akan hujan, entah tidak...tpi rasanya malam ini langit terang...terlihat bintang bersinar memancarkan senyumnya. senyum cemerlangnya...
aku duduk di balkon rumahku, tempat favoritku jika ingin sendiri..
menikmati angin sejuk, agak dingin...
entah akan hujan, entah tidak...tapi kupikir malam ini tak akan menjadi malam yang gerah...
angin malam berkejaran memberikan tariannya, tarian semilirnya...
aku duduk memandang langit, memandang bintang..
langit hitam namun cantik...cantik karena sinar manis sang bintang...
aku duduk ditemani segelas kopi yang akan menjaga mataku tetap terbuka sambil memandangi bintang satu per satu...mencoba menghitung, namun aku tau tak akan dapat kuhitung...
pikiranku kemudian berlari menjelajah alam ingatanku, menyusuri liku-liku kenangan yang terbentuk..
kadang lariku kuperlambat...terlihat anak kecil berlari-lari riang berkejaran dengan impiannya...
kemudian kakiku berhenti di sebuah gedung tua tempat menimba ilmu, dan waktu itu hujan...ah, hujan..hujan dan kenangan...
tiba-tiba aku sudah tiba di sebuah taman penuh bunga, dan aku mencium wangi bunga yang sangat kusuka...wangi yang kuidentifikasikan dengan wangi yang manis..
sejenak aku berhenti, menikmati aroma manis yang mempesona...
tapi kemudian sesuatu jatuh dan menimpa kepalaku...cukup sakit, tapi aku rasa aku baik-baik saja...
aku lihat benda yang baru saja jatuh menimpaku itu...oh, ternyata buah kering yang jatuh dari rantingnya...
aku kembali meneruskan perjalanan kenanganku...
aku sampai di sebuah mata air...sejuk sekali rasanya jika aku bisa berendam di sana..
lalu kuputuskan untuk berendam sejenak, melepas lelahku dan menyegarkan badanku...
senang...tenang...
tapi itu tak lama...
sesuatu memaksaku naik ke tepian..entah sesuatu itu apa, tapi aku merasa takut berada di dalam air itu...
aku segera beranjak dan menjauh dari mata air itu..
kembali menyusuri jalanku...
kemudian aku tiba di depan sebuah kerajaan...
megah sekali..
kokoh sekali..
sangat mengagumkan..
dan tiba-tiba...
seseoarang memanggilku dari dalam..
aku seperti mengenal suaranya, suara yang sangat kusayangi..
ah...ternyata itu kamu..
memanggilku dari dalam rumah dan menyuruhku masuk..
hmm...baiklah...sampai di sini petualangan kenanganku...
tak menunggu untuk dipanggil ketiga kalinya, aku pun masuk menyongsongmu yang baru saja pulang dari tempatmu bekerja..
aku duduk di balkon rumahku, tempat favoritku jika ingin sendiri..
menikmati angin sejuk, agak dingin...
entah akan hujan, entah tidak...tapi kupikir malam ini tak akan menjadi malam yang gerah...
angin malam berkejaran memberikan tariannya, tarian semilirnya...
aku duduk memandang langit, memandang bintang..
langit hitam namun cantik...cantik karena sinar manis sang bintang...
aku duduk ditemani segelas kopi yang akan menjaga mataku tetap terbuka sambil memandangi bintang satu per satu...mencoba menghitung, namun aku tau tak akan dapat kuhitung...
pikiranku kemudian berlari menjelajah alam ingatanku, menyusuri liku-liku kenangan yang terbentuk..
kadang lariku kuperlambat...terlihat anak kecil berlari-lari riang berkejaran dengan impiannya...
kemudian kakiku berhenti di sebuah gedung tua tempat menimba ilmu, dan waktu itu hujan...ah, hujan..hujan dan kenangan...
tiba-tiba aku sudah tiba di sebuah taman penuh bunga, dan aku mencium wangi bunga yang sangat kusuka...wangi yang kuidentifikasikan dengan wangi yang manis..
sejenak aku berhenti, menikmati aroma manis yang mempesona...
tapi kemudian sesuatu jatuh dan menimpa kepalaku...cukup sakit, tapi aku rasa aku baik-baik saja...
aku lihat benda yang baru saja jatuh menimpaku itu...oh, ternyata buah kering yang jatuh dari rantingnya...
aku kembali meneruskan perjalanan kenanganku...
aku sampai di sebuah mata air...sejuk sekali rasanya jika aku bisa berendam di sana..
lalu kuputuskan untuk berendam sejenak, melepas lelahku dan menyegarkan badanku...
senang...tenang...
tapi itu tak lama...
sesuatu memaksaku naik ke tepian..entah sesuatu itu apa, tapi aku merasa takut berada di dalam air itu...
aku segera beranjak dan menjauh dari mata air itu..
kembali menyusuri jalanku...
kemudian aku tiba di depan sebuah kerajaan...
megah sekali..
kokoh sekali..
sangat mengagumkan..
dan tiba-tiba...
seseoarang memanggilku dari dalam..
aku seperti mengenal suaranya, suara yang sangat kusayangi..
ah...ternyata itu kamu..
memanggilku dari dalam rumah dan menyuruhku masuk..
hmm...baiklah...sampai di sini petualangan kenanganku...
tak menunggu untuk dipanggil ketiga kalinya, aku pun masuk menyongsongmu yang baru saja pulang dari tempatmu bekerja..
Kamis, 16 Desember 2010
Satu Hujan Untuk Tiga Cinta
Dua orang gadis terpisah oleh jarak yang cukup jauh. Mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda. Mempunyai kegiatan yang berbeda. Namun keduanya mencintai pria yang sama. Pria dengan tampang tak terlalu tampan. Pria dengan kepribadian yang menarik.
Gadis I
Pagi yang cerah. Aku bersemangat menjalani hariku.
Hari ini adalah hariku mengajar. Ya, aku harus mengajar les beberapa anak untuk menambah uang sakuku. Tapi aku senang. Aku suka anak-anak dan aku juga suka mengajar, jadi pekerjaan ini bukanlah hal yang harus dikeluhkan. Justru aku sangat menunggu-nunggu hari-hari di mana aku harus mengajar.
Namun ternyata hariku tak secerah bayanganku. Aku mendapatkan sms dari seseorang yang aku cintai. Sms yang membuatku sedih. Sangat sedih. Sms yang memberiku pengertian bahwa tak seharusnya aku menunggunya. Seseorang yang kucintai sedang tertarik dengan seorang gadis di seberang sana. Ya..seharusnya memang aku tak menunggunya. Dulu memang dia pernah memberiku harapan, tapi kini dia sudah berada jauh di seberang pulau. Dan mungkin kini dia telah menemukan seseorang yang bisa mengisi hatinya. Seseorang yang menarik untuknya.
Pagiku yang cerah kini menjadi sore yang hujan.
Gadis II
Sore ini hujan. Mendung gelap menggelantung.
Aku duduk di depan laptopku. Menjelajah dunia maya di tengah kesibukan otakku yang sudah lelah dengan rutinitasnya. Kelelahan otak karena tugas-tugasku yang menumpuk.
Iseng-iseng aku membuka facebook. Dan akupun membuka akunmu. Aku melihat ada nama gadis itu. Iseng aku membukanya. Aku lihat wallnya. Aku membaca beberapa statusnya. Aku melihat foto-fotonya. Aku melihatmu di sana bersamanya. Mesra.
Dari status-statusnya akhir-akhir ini, nampaknya dia sedang patah hati. Gadis di seberang...apakah kau terluka? Apakah kau patah hati karna nya?
Pria unik yang menarik...apakah kau membuatnya patah hati?
Sempat aku merasa GR. Aku pikir itu karena aku. Tapi lalu aku menjauhkan pikiranku itu. Aku ingat beberapa hari yang lalu, aku melihatmu sedang bercanda dengan seorang gadis. Kau tampak senang sekali. Dan hari berikutnya, aku melihatmu menjemput gadis itu.
Sore ini hujan. Tapi aku berharap esokku menjadi cerah.
Pria
Aku berada di persimpangan. Di antara tiga makhluk Tuhan yang luar biasa. Dan aku pun bingung menentukan ke arah mana kakiku melangkah. Apakah aku akan kembali bersamanya yang menungguku di seberang sana...ataukah aku harus berjalan bersama seseorang yang juga menarik dan juga mencintaiku di sini...atau aku harus mengejar gadis cantik yang belum tentu punya rasa terhadapku?
Hujan sore ini...akankah kau menjawabnya?
Gadis I
Pagi yang cerah. Aku bersemangat menjalani hariku.
Hari ini adalah hariku mengajar. Ya, aku harus mengajar les beberapa anak untuk menambah uang sakuku. Tapi aku senang. Aku suka anak-anak dan aku juga suka mengajar, jadi pekerjaan ini bukanlah hal yang harus dikeluhkan. Justru aku sangat menunggu-nunggu hari-hari di mana aku harus mengajar.
Namun ternyata hariku tak secerah bayanganku. Aku mendapatkan sms dari seseorang yang aku cintai. Sms yang membuatku sedih. Sangat sedih. Sms yang memberiku pengertian bahwa tak seharusnya aku menunggunya. Seseorang yang kucintai sedang tertarik dengan seorang gadis di seberang sana. Ya..seharusnya memang aku tak menunggunya. Dulu memang dia pernah memberiku harapan, tapi kini dia sudah berada jauh di seberang pulau. Dan mungkin kini dia telah menemukan seseorang yang bisa mengisi hatinya. Seseorang yang menarik untuknya.
Pagiku yang cerah kini menjadi sore yang hujan.
Gadis II
Sore ini hujan. Mendung gelap menggelantung.
Aku duduk di depan laptopku. Menjelajah dunia maya di tengah kesibukan otakku yang sudah lelah dengan rutinitasnya. Kelelahan otak karena tugas-tugasku yang menumpuk.
Iseng-iseng aku membuka facebook. Dan akupun membuka akunmu. Aku melihat ada nama gadis itu. Iseng aku membukanya. Aku lihat wallnya. Aku membaca beberapa statusnya. Aku melihat foto-fotonya. Aku melihatmu di sana bersamanya. Mesra.
Dari status-statusnya akhir-akhir ini, nampaknya dia sedang patah hati. Gadis di seberang...apakah kau terluka? Apakah kau patah hati karna nya?
Pria unik yang menarik...apakah kau membuatnya patah hati?
Sempat aku merasa GR. Aku pikir itu karena aku. Tapi lalu aku menjauhkan pikiranku itu. Aku ingat beberapa hari yang lalu, aku melihatmu sedang bercanda dengan seorang gadis. Kau tampak senang sekali. Dan hari berikutnya, aku melihatmu menjemput gadis itu.
Sore ini hujan. Tapi aku berharap esokku menjadi cerah.
Pria
Aku berada di persimpangan. Di antara tiga makhluk Tuhan yang luar biasa. Dan aku pun bingung menentukan ke arah mana kakiku melangkah. Apakah aku akan kembali bersamanya yang menungguku di seberang sana...ataukah aku harus berjalan bersama seseorang yang juga menarik dan juga mencintaiku di sini...atau aku harus mengejar gadis cantik yang belum tentu punya rasa terhadapku?
Hujan sore ini...akankah kau menjawabnya?
Jumat, 29 Januari 2010
wanitaku...apakah ini cinta tak berujung?
Aku ini hanyalah seorang lelaki tua yang kesepian. Sepi dan hampa rasanya hidup ini tanpa seorang pendamping setia yang telah lebih dari setengah abad menemaniku.
Dulu aku mengejarmu. Ya, dulu aku begitu gigih mengejarmu. Tak kupedulikan berapa jarak usia kita. Aku masih terlalu muda untuk mencintai engkau yang sudah menjadi janda. Sungguh, aku tegila-gila padamu.
Tapi usahaku tak pernah menjadi sia-sia. Kau pun akhirnya bisa kudapatkan. Menjadi milikku sepenuhnya. Kemudian kita membangun perahu rumah tangga kita. Kita dianugerahi seorang anak perempuan yang cantik. Dan kupikir itu cukup untuk membuat kita bahagia.
Kita hidup sederhana di gubuk kecil, tapi Tuhan sungguh masih memelihara kita. Bahkan kita mampu menyekolahkan anak kita sampai ke tingkat sekolah menengah atas. Jenjang sekolah yang cukup tinggi untuk orang semiskin kita. Dan anak kita pun tak pernah mengeluh dengan keadaan kita.
Dulu wanitaku selalu bangun pagi-pagi buta, memasak cukup banyak makanan. Tapi tentu saja makanan yang banyak itu bukan untuk keluarga kecil kita, masakan itu untuk kau jual demi kita menambah keuangan kita. Bahkan kau pernah membatik untuk membayar uang sekolah anak kita. Apapun kau lakukan demi kasihmu pada anak kita, demi dia bersekolah dengan layak, dengan harapan bisa memperbaiki kondisi keluarga kita.
Dan kau tau, wanitaku? Kita berhasil. Anak kita bisa menyelesaikan sekolahnya dengan baik dan sekarang dia menjadi pegawai negeri. Suatu kebanggaan bagi rakyat kecil macam kita ini.
Anak kita telah member 4 orang cucu buat kita. Dan semuanya cukup untuk mendapatkan haknya bersekolah. Anak kita juga telah berhasil menyekolahkan cucu-cucu kita sampai tingkat perguruan tinggi. Suatu kemajuan bila dibandingkan dengan kehidupan kita dulu. Itu artinya kita telah berhasil, wanitaku. Kita berhasil memperbaiki kehidupan keturunan kita. Dan aku tau, tanpamu, semuanya itu tak akan tercapai.
Seiring berjalannya waktu, kita menjadi tua. Tapi aku bersyukur, aku masih bersamamu. Menjadi tua bersamamu adalah sesuatu yang indah yang Tuhan beri padaku.
Usia senja telah merenggut kesehatanmu. Beberapa tahun sudah wanitaku menghabiskan sebagian besar waktunya terbaring di tempat tidurnya. Berjalan hanya jika ingin ke kamar mandi atau sekedar ke ruang depan untuk melihat suasana yang sedikit berbeda. Namun itu pun tak lama. Pada akhirnya wanitaku hanya mampu terbaring dan tak lagi bisa menopang berat tubuhnya dengan kakinya. Dia terbaring di tempat tidurnya selama berbulan-bulan bahkan mungkin sudah masuk hitungan tahun. Hanya bisa duduk, dan selebihnya adalah terbaring.
Usiamu telah merenggut ceriamu. Suara yang dulu sering terdengar pedas karena sifat pemarahmu, telah berubah menjadi rintihan yang menyakitkanku.
Tapi percayalah, aku tak akan meninggalkanmu, wanitaku. Aku akan mengurus setiap keperluanmu, makananmu, minumanmu. Bahkan aku akan menyisir rambut putihmu yang mulai rontok. Dan aku akan membuang kotoran yang mungkin untuk sebagian orang itu mejijikkan. Aku akan merawatmu dengan kasih yang masih sama seperti pertama kali aku mencintaimu.
Dan hari itu, kau meninggalkanku. Meninggalkanku untuk selamanya. Tak akan pernah menemaniku lagi dalam sepiku. Kau terbujur kaku di kotak putih itu. Dingin. Pucat. Tapi kau tetap cantik, wanitaku. Senyummu tetap mempesonaku.
Kini aku sendiri. Sepi dan hampa tanpa dirimu. Tapi hati ini masih milikmu. Cinta ini masih ada di hati dan tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Aku masih mencintaimu sama seperti ketika aku mencitaimu pertama kali.
Sayup-sayup lagu “Saat aku lanjut usia” mengiringi langkah kesendirianku tanpamu.
….genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu
Kita lawan bersama dingin dan panas dunia
Saat kaki tlah lemah kita saling menopang
Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati
Sampai jumpa di kehidupan yang lain….
Dulu aku mengejarmu. Ya, dulu aku begitu gigih mengejarmu. Tak kupedulikan berapa jarak usia kita. Aku masih terlalu muda untuk mencintai engkau yang sudah menjadi janda. Sungguh, aku tegila-gila padamu.
Tapi usahaku tak pernah menjadi sia-sia. Kau pun akhirnya bisa kudapatkan. Menjadi milikku sepenuhnya. Kemudian kita membangun perahu rumah tangga kita. Kita dianugerahi seorang anak perempuan yang cantik. Dan kupikir itu cukup untuk membuat kita bahagia.
Kita hidup sederhana di gubuk kecil, tapi Tuhan sungguh masih memelihara kita. Bahkan kita mampu menyekolahkan anak kita sampai ke tingkat sekolah menengah atas. Jenjang sekolah yang cukup tinggi untuk orang semiskin kita. Dan anak kita pun tak pernah mengeluh dengan keadaan kita.
Dulu wanitaku selalu bangun pagi-pagi buta, memasak cukup banyak makanan. Tapi tentu saja makanan yang banyak itu bukan untuk keluarga kecil kita, masakan itu untuk kau jual demi kita menambah keuangan kita. Bahkan kau pernah membatik untuk membayar uang sekolah anak kita. Apapun kau lakukan demi kasihmu pada anak kita, demi dia bersekolah dengan layak, dengan harapan bisa memperbaiki kondisi keluarga kita.
Dan kau tau, wanitaku? Kita berhasil. Anak kita bisa menyelesaikan sekolahnya dengan baik dan sekarang dia menjadi pegawai negeri. Suatu kebanggaan bagi rakyat kecil macam kita ini.
Anak kita telah member 4 orang cucu buat kita. Dan semuanya cukup untuk mendapatkan haknya bersekolah. Anak kita juga telah berhasil menyekolahkan cucu-cucu kita sampai tingkat perguruan tinggi. Suatu kemajuan bila dibandingkan dengan kehidupan kita dulu. Itu artinya kita telah berhasil, wanitaku. Kita berhasil memperbaiki kehidupan keturunan kita. Dan aku tau, tanpamu, semuanya itu tak akan tercapai.
Seiring berjalannya waktu, kita menjadi tua. Tapi aku bersyukur, aku masih bersamamu. Menjadi tua bersamamu adalah sesuatu yang indah yang Tuhan beri padaku.
Usia senja telah merenggut kesehatanmu. Beberapa tahun sudah wanitaku menghabiskan sebagian besar waktunya terbaring di tempat tidurnya. Berjalan hanya jika ingin ke kamar mandi atau sekedar ke ruang depan untuk melihat suasana yang sedikit berbeda. Namun itu pun tak lama. Pada akhirnya wanitaku hanya mampu terbaring dan tak lagi bisa menopang berat tubuhnya dengan kakinya. Dia terbaring di tempat tidurnya selama berbulan-bulan bahkan mungkin sudah masuk hitungan tahun. Hanya bisa duduk, dan selebihnya adalah terbaring.
Usiamu telah merenggut ceriamu. Suara yang dulu sering terdengar pedas karena sifat pemarahmu, telah berubah menjadi rintihan yang menyakitkanku.
Tapi percayalah, aku tak akan meninggalkanmu, wanitaku. Aku akan mengurus setiap keperluanmu, makananmu, minumanmu. Bahkan aku akan menyisir rambut putihmu yang mulai rontok. Dan aku akan membuang kotoran yang mungkin untuk sebagian orang itu mejijikkan. Aku akan merawatmu dengan kasih yang masih sama seperti pertama kali aku mencintaimu.
Dan hari itu, kau meninggalkanku. Meninggalkanku untuk selamanya. Tak akan pernah menemaniku lagi dalam sepiku. Kau terbujur kaku di kotak putih itu. Dingin. Pucat. Tapi kau tetap cantik, wanitaku. Senyummu tetap mempesonaku.
Kini aku sendiri. Sepi dan hampa tanpa dirimu. Tapi hati ini masih milikmu. Cinta ini masih ada di hati dan tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Aku masih mencintaimu sama seperti ketika aku mencitaimu pertama kali.
Sayup-sayup lagu “Saat aku lanjut usia” mengiringi langkah kesendirianku tanpamu.
….genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu
Kita lawan bersama dingin dan panas dunia
Saat kaki tlah lemah kita saling menopang
Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati
Sampai jumpa di kehidupan yang lain….
Langganan:
Postingan (Atom)