Sabtu, 27 Juli 2013

Lelaki dengan sepeda tua

Hampir setiap hari aku melihatnya mengayuh sepedanya. Seorang anak kecil duduk di belakangnya. Dengan kekuatan yg sudah tidak muda lagi, ia mengayuh sepedanya menuju sebuah sekolah. Setiap hari, setiap cucunya bersekolah.
Tak pernah ia terburu-buru mengayuh sepedanya. Mungkin karena usia.
Ketika cucunya sudah masuk ke sekolah dasar, dibiarkannya si cucu berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Sedangkan dia, tetap setia mengayuh sepedanya mengantar cucunya yang lain.
Tak pernah kulihat kakek itu mengeluhkan pekerjaannya mengantar cucu-cucunya.
Waktu bergulir, cucu-cucu sudah beranjak besar. Tak ada yang perlu diantar. Namun, suatu ketika, aku melihatnya lagi mengayuh sepedanya ke sekolah dasar tempat cucunya bersekolah. Ternyata dia sedang menjemput cucunya yang kedua. Kulihat si cucu tidak dalam kondisi yang baik. Kakinya pincang. Ternyata cucunya baru saja kecelakaan sehingga tulang keringnya patah. Dan waktu itu kakinya belum pulih. Sang kakek dengan penuh kasih mengantar jemputnya dengan sepeda.
Bukan suatu hal yang mudah mengantar jemput si cucu dengan sepedanya. Dia harus berhati-hati benar agar cucunya tidak cedera lagi.
Ketika cucu-cucunya sudah tak perlu lagi diantar jemput, sang kakek masih kulihat sering mengendarai sepedanya. Ia sering pergi ke pasar membeli beberapa barang kesukaannya, untuk memenuhi hobinya.
Sekarang, ketika cucu-cucunya sudah beranjak dewasa, tak pernah lagi kulihat si kakek dan sepedanya. Pernah kudengar si kakek jatuh sakit. Sakit karena usia. Mungkin karena itulah keluarganya sudah tak memperbolehkannya mengayuh sepedanya.
Suatu waktu, aku pergi mengunjungi rumah si kakek. Ya, kakek memang tidak sesegar yang kulihat dulu. Namun, aku masih melihat semangatnya. Semangat yang terbungkus dalam tubuh rentanya. Aku menanyakan kabarnya. Dia mengatakan bahwa dirinya memang tak lagi muda, tak lagi bisa bersepeda. Ia juga sudah berpasrah diri kepada Yang Kuasa jika sewaktu-waktu Ia memanggilnya.
Lalu aku berkeliling di sekitar rumahnya. Aku melihat sepeda tuanya. Setua tuannya, serenta pengendaranya. Namun masih terlihat gagah.
Kakek dan sepeda tuanya, teruslah berjuang dalam semangatmu. Kenangan akanmu, tak akan hilang dalam ingatanku.

Minggu, 21 Juli 2013

Lelah Bukan Berarti Menyerah

Aku lelah, ya, aku lelah..
Bukan aku ingin menyerah, aku hanya lelah..

Aku menangis dalam malam-malamku,
Aku menangis dalam ingatanku,
Aku menangis dalam kasihku..

Aku lelah mencoba mengerti, 
Aku lelah mencoba memahami.

Aku tak bertemu dengan jawab.
Aku tak bertemu dengan logika.
Aku hanya bertemu dengan emosi.

Aku lelah, ya, aku lelah..
Bukan aku ingin menyerah, aku hanya lelah..

Rasanya tak masuk akal,
Rasanya tak masuk hitungan.

Yang pernah ditentang, sekarang malah dilakukan.
Yang pernah dilarang, sekarang malah dijalani.
Entahlah.

Aku...lelah...

Selasa, 11 Juni 2013

Masih tersangkut

Kakiku melangkah..tapi tak dapat lebih jauh..
Memaksa, menarik, menyeret..tak membuatkan lebih jauh..
Atau...mungkin aku hanya berputar-putar saja? Sehingga sebanyak apapun langkahku, jarakku tak akan lebih jauh..
Aku memang terus berjalan..dan ketika aku melihat sesuatu yang menyerupai titik pusatku dulu, aku berhenti dan menengok lagi ke titik pusat yang ingin kutinggalkan..
Titik pusat...titik pusat...
Jika aku masih tersangkut padamu..mungkin sebaiknya aku berhenti dan mengurai tali yang membuatku masih tersangkut..

Bandara adisucipto, 11 Juni 2013

Rabu, 08 Mei 2013

Bebek Adus Kali

Bebek adus kali nututi sabun wangi..
Bapak mundut roti, cah ayu diparingi..

Itu adalah sebuah lagu yang sering dinyanyikan kepada atau oleh anak kecil di daerahku, dulu, waktu aku masih kecil. Entah sekarang. Aku gak yakin anak-anak kecil itu tau tentang lagu tersebut.
Lagu tersebut sangat singkat. Dan tentu saja sangat mudah dinyanyikan. Tak ada not-not miring.
Arti dari lagu tersebut juga tak terlalu susah dipahami. Kurang lebih artinya seperti ini: bebek mandi di sungai mengejar sabun wangi (biasanya sabun mandi), bapak beli roti, anak cantik akan mendapatkan bagian roti itu.
Entah kenapa pagi tadi, pas mandi, aku tiba-tiba keinget lagu itu. Mungkin karena mencium wangi sabun, dan sadar kalo yang kupegang itu sabun. Lalu terlintas kata sabun wangi. Lalu pikiranku kangsung mencari dan menemukan lagu "bebek adus kali" dalam memori otakku.
Begitu otakku menemukan lagu ini dan memutarnya, bagian tubuhku yang meyimpan kenangan mulai bekerja. Aku ingat bagaimana perasaanku dulu pas nyanyiin lagu sederhana ini. Memang lagunya sederhana, tapi, aku pun gak tau kenapa, aku seperti menaruh harapan yang besar pas nyanyiin bagian terakhirnya, bapak mundut roti, cah ayu diparingi. Waktu itu aku berharap, atau mungkin lebih tepat kalo sekarang aku menyebutnya berkhayal bahwa bapakku sedang pergi, dan nanti jika dia pulang, dia akan memberiku oleh-oleh. Mungkin saja memang cuma roti yang dibawanya pulang, tetapi aku berharap dia pulang dan membawa oleh-oleh untukku.
Mengapa aku sekarang menyebutknya berkhayal? Tentu saja karena aku tau betul bahwa bapakku gak akan pulang, apalagi bawa oleh-oleh. Tapi aku bukan anak bang Thoyib yang tiga kali lebaran gak pulang. Mungkin saja bang Thoyib baru akan pulang di lebaran ke empat. Bapakku? Jelas-jelas gak akan pulang. Untuk selamanya. Bapakku sudah di alam yang berbeda denganku. Dan pasti dia gak akan menyeberangi alam untuk sekedar membawakanku roti.
Mungkin dulu aku sangat pengen untuk punya sosok seorang bapak. Mungkin aku dulu bener-bener pengen tau bapakku itu kaya apa. Tapi itu dulu. Sekarang aku tau bahwa aku gak akan dapat sosok bapakku. Bahkan ingatanku pun tak menyimpan sedikitpun tentangnya.
Tapi ya sudah. Itu sekarang bukan sesuatu masalah. Tuhan melengkapi hidupku dengan banyak hal.
Dan sekarang, kalo nyanyi bebek adus kali, mungkin aku akan banyak berpikir dan banyak mengoreksi lagu itu. Mungkin si bebek sudah gak ngejar sabun wangi lagi karena sekarang udah make sabun cair. Mungkin bebeknya udah gak mandi di sungai lagi. Apalagi di daerahku sana. Sungainya mungkin udah berwarna. Mungkin bukan bapak yang akan beli roti dan ngasi rotinya ke aku, mungkin itu orang lain. Pangeran ganteng yang sangat baik, barangkali. ;)

Rabu, 17 April 2013

Cinta tak akan datang waktu hujan

Yang aku tahu, kamu mulai mendekatiku. Yang aku tahu, kamu mulai mencoba menarik perhatianku.
Ya, dan akhirnya kamu memutuskan untuk mengatakannya padaku.
"Gi, aku pengen kenal kamu lebih deket. Aku mau serius. Aku pengen kamu jadi pacarku."
Yang aku rasakan adalah kekagetan yang cukup besar. Yang kurasakan, bukanlah penolakan akan cintamu.
"Gia gak tau, Kak. Gia belum kenal banget sama Kakak. Buat Gia, pacaran itu buat menikah, Kak, jadi bukan sesuatu yang main-main. Tapi Gia juga gak mau nolak Kakak sebelum Gia memberi kesempatan untuk hati Gia, Kak."
Aku tak mau menyesal dengan penolakan. Aku memang belum mengenalmu. Tapi yang kutahu, kamu adalah orang baik.
"Iya. Aku juga mau kamu mengenalku. Aku bukan ngajakin kamu nikah bulan depan kok. Tapi percayalah, aku serius mau kenal sama kamu, Gi."
Senyummu menembahkan keyakinan pada hatiku.
Waktu berjalan. Beberapa event menyita waktuku. Menyita kesempatan untuk bertemu denganmu. Keraguan mulai menghantuimu.
"Apa cewek ini memang untukku? Apa aku bisa mengimbangi kesibukannya? Apa dia mau memberi waktunya untukku? Apa dia akan tersiksa jika aku menyita banyak waktunya dan membuat dia harus meninggalkan beberapa kesibukannya?"
Semua hantu pikiran itu terus bergentayangan dalam benakmu. Kamu tak kuasa untuk menahan keraguanmu. Keyakinanmu, keseriusanmu, kepercayaanmu, mulai goyah. Sepertinya badai dan angin telah sukses meniup ketegarannya.
Suatu sore, kita berjanji bertemu. Aku ingin bertemu denganmu karena memang aku merindukanmu. Kamu ingin bertemu denganku karena kamu ingin mengutarakan keyakinanmu yang mulai goyah.
Sore itu hujan. Aku mulai cemas. Perasaan tak enak sudah menghinggapiku dari tadi pagi. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi.
Namun..takdir tak dapat ditahan, alur cerita tak dapat dibelokkan. Apa yang kutakutkan akhirnya menjadi nyata. Kau tak datang untuk menemuiku.
"Gi, maafkan Kakak ya. Kakak gak bisa ke rumah, di sini hujan. Kakak gak punya jas hujan."
"Gak bisa diusahakan ya, Kak?"
"Maaf ya, Gi. Kakak gak bisa ke sana. Kakak males kena hujan."
Walaupun tak ada petir saat itu, tetapi hatiku telah hangus, layaknya pohon tersambar petir.
"Oh, gitu ya, Kak. Iya deh, Kak."
"Gi..boleh Kakak ngomong sesuatu?"
"Boleh lah, Kak"
Aku mulai menahan perih. Aku mulai menahan tangis.
"Kakak rasa, Kakak gak bisa lagi ngelanjutin perkenalan kita. Maaf, Gi. Bukan Kakak gak serius, tapi..ah, entahlah..Kakak mulai ragu. Kakak rasa, Kakak gak bisa mengimbangi kegiatanmu. Mungkin Kakak bukan orang yang tepat buat dijadiin pasanganmu."
"..."
"Gi, kamu gak papa kan?"
Apakah bisa aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja? Apakah hati yang telah hancur ini bisa disebut baik-baik saja?
"Eh, iya, Kak. Gia gak papa kok. Ya kalo Kakak menganggap itu baik, ya sudah. Gia gak bisa maksain juga, Kak."
Tangisku mulai tak terbendung. Namun  aku tetap berusaha berbicara dengan suara normal. Walaupun itu tak berhasil. Aku tahu, kamu pasti tahu kalau aku sedang menangis.
"Gia cuma pengen bilang kalo sebenernya Gia mulai sayang sama Kakak."
"Gi...maaf.."
"Iya, Kak. Gia gak akan maksa Kakak."
"Aku cuma ngerasa beberapa hari ini aku lalui dengan tawar hati. Aku kaya ngerjain semuanya setengah hati. Kaya gak ada rasa. Aku gak mau memperlakukanmu kaya gitu, Gi."
"Umm..apa gak bisa ada usaha lebih, Kak? Maksud Gia, kalo Kakak mau, kita bisa mulai dari awal, Kak. Gia bisa kok kasi waktu untuk Kakak. Gia bisa atur ulang jadwal kegiatan Gia."
"Gi..sepertinya emang udah gak bisa. Maaf."
"..."
"Gi..jangan nangis.."
"..."
"Gi?"
"Kak, Gia akan baik-baik aja kok. Janji. Tapi sekarang, Gia gak bisa menutupi kalo Gia sakit Kak."
"Maafin Kakak, Gi."
"Kakak gak salah kok. Gia gak bisa maksain Kakak buat punya perasaan ke Gia. Gia emang ngerasa ini gak adil. Kakak yang datang duluan ke Gia, tapi malah Gia yang sakit. Tapi Gia percaya kok, ini gak lama. Gia pasti bisa lewatin ini, Kak."
"Gi, maaf."
Mau tak mau, aku akan berusaha tertawa. Agar kamu tak merasa bersalah.
"Hehehe..gak papa, Kak. Di sana masih ujan, Kak?"
"Iya, masih."
"Wah, sayang ya, Kak. Kakak kan jadi gak bisa ke mana-mana kalo ujan. Eh, Kakak udah nonton film terbaru di bioskop?"
"Ah, emm...iya, ntar lagi mungkin udah reda. Biasanya juga gak ke mana-mana kok. Emang ada film apa di bioskop?"
Obrolan tetap berlangsung. Sesekali isakanku masih terdengar. Di luar, tetesan hujan masih riang berjatuhan dari langit. Hatiku masih tak karuan.
Sore ini hujan. Cintaku tak datang. Cinta tak akan datang waktu hujan.

Jumat, 05 April 2013

Kisah Teras Belakang

Jika aku dapat berkisah, akan banyak yang akan kututurkan padamu.
Jika aku dapat bersuara, akan banyak bicaraku tentang mereka, tentang persahabatan mereka.

Aku telah melihat tawa dan tangis yang dibalut dalam persahabatan mereka.

Waktu itu telah malam. Aku tak tau pasti apa yang terjadi padanya. Yang kutahu, dia datang padaku dalam keadaan sedih. Ia menangis. Tanpa suara. Tangisan yang tertahan yang terasa sangat pilu. Kulihat kehancuran hatinya dalam tiap tetesan air matanya. Mungkin waktu itu dia berpikir lebih baik tak ada esok hari.
Aku hanya bisa diam. Melihatnya menangis. Dan menjaganya dari malam.
Dan tak perlu sampai pagi aku menjaganya. Sahabatnya menjemputnya.

Lain waktu aku melihat mereka berdua mendekatiku. Duduk bersamaku. Mereka lalu asik meracik bumbu dan membuat masakan. Harum persahabatan mereka lebih kental dari apa yang mereka masak. Lebih wangi dan terasa lebih lebih lezat.
Aku hanya tersenyum memandang mereka.

Pernah juga suatu sore mereka duduk-duduk sambil menikmati teh hangat. Bercanda, tertawa. Sesekali seseorang menempelkan gelas tehnya di punggung temannya. Dan mereka menyebutnya terapi teh. Hangat teh dari gelas membuat mereka nyaman. Namun kehangatan persahabatan mereka telah membuatku hangat. Kehangatan yang akan selalu kurasakan ketika melihat mereka bersama.

Suatu waktu, aku sangat sedih. Aku melihat mereka berdua sedang membakar kenangan-kenangan mereka. Bukan mereka tidak lagi menyayanginya. Tapi mereka hendak meninggalkannya. Termasuk meninggalkanku. Itu yang lebih membuatku sedih.

Setelah beberpa lama mereka meninggalkanku, seorang dari mereka akhirnya datang lagi padaku. Aku senang. namun, kondisi telah berbeda. Rasa baru telah tercipta. Walaupun menyenangkan, namun kuakui, aku merindukan sahabatnya.

Sayangnya, sekarang aku kembali harus merelakannya. Ia kembali meninggalkanku.
Tak apa. Biarlah mereka meninggalkanku. Biarlah mereka terbang mengejar mimpi mereka. Dan biarlah persahabatan mereka tetap terukir di sini. Mungkin tak akan terlihat. Mungkin hanya aku kusimpan dalam tabung kenanganku. namun biarlah ini menjadi indah.

Sampai jumpa lagi sahabat. Mungkin suatu saat kita bisa bertemu.
Aku, si teras belakang.

Minggu, 17 Maret 2013

Rinduku dalam doaku

Malam ini kembali kukirim sebuah doa untukmu
Doa yang kupanjatkan karena rinduku padamu
Aku tak tau mengapa otakku begitu aneh
Seharusnya bukan kamu yang terlintas di otakku
Seharusnya ujian esok hari lah yang memenuhinya
Tapi entah mengapa malam ini begitu terasa bahwa aku merindukanmu
Aku hanya bisa berdoa
Berharap Tuhan menyampaikan rinduku untukmu
Berharap esok hari mendapat kabar darimu
Kabar yang mampu menyemangatiku dalam melewati ujianku
Salam rindu untukmu