Jika aku dapat berkisah, akan banyak yang akan kututurkan padamu.
Jika aku dapat bersuara, akan banyak bicaraku tentang mereka, tentang persahabatan mereka.
Aku telah melihat tawa dan tangis yang dibalut dalam persahabatan mereka.
Waktu itu telah malam. Aku tak tau pasti apa yang terjadi padanya. Yang kutahu, dia datang padaku dalam keadaan sedih. Ia menangis. Tanpa suara. Tangisan yang tertahan yang terasa sangat pilu. Kulihat kehancuran hatinya dalam tiap tetesan air matanya. Mungkin waktu itu dia berpikir lebih baik tak ada esok hari.
Aku hanya bisa diam. Melihatnya menangis. Dan menjaganya dari malam.
Dan tak perlu sampai pagi aku menjaganya. Sahabatnya menjemputnya.
Lain waktu aku melihat mereka berdua mendekatiku. Duduk bersamaku. Mereka lalu asik meracik bumbu dan membuat masakan. Harum persahabatan mereka lebih kental dari apa yang mereka masak. Lebih wangi dan terasa lebih lebih lezat.
Aku hanya tersenyum memandang mereka.
Pernah juga suatu sore mereka duduk-duduk sambil menikmati teh hangat. Bercanda, tertawa. Sesekali seseorang menempelkan gelas tehnya di punggung temannya. Dan mereka menyebutnya terapi teh. Hangat teh dari gelas membuat mereka nyaman. Namun kehangatan persahabatan mereka telah membuatku hangat. Kehangatan yang akan selalu kurasakan ketika melihat mereka bersama.
Suatu waktu, aku sangat sedih. Aku melihat mereka berdua sedang membakar kenangan-kenangan mereka. Bukan mereka tidak lagi menyayanginya. Tapi mereka hendak meninggalkannya. Termasuk meninggalkanku. Itu yang lebih membuatku sedih.
Setelah beberpa lama mereka meninggalkanku, seorang dari mereka akhirnya datang lagi padaku. Aku senang. namun, kondisi telah berbeda. Rasa baru telah tercipta. Walaupun menyenangkan, namun kuakui, aku merindukan sahabatnya.
Sayangnya, sekarang aku kembali harus merelakannya. Ia kembali meninggalkanku.
Tak apa. Biarlah mereka meninggalkanku. Biarlah mereka terbang mengejar mimpi mereka. Dan biarlah persahabatan mereka tetap terukir di sini. Mungkin tak akan terlihat. Mungkin hanya aku kusimpan dalam tabung kenanganku. namun biarlah ini menjadi indah.
Sampai jumpa lagi sahabat. Mungkin suatu saat kita bisa bertemu.
Aku, si teras belakang.
kok sedih banget ya aku membaca ini? kenapa ya kak?
BalasHapusWew...gak ngerti..
HapusAku cm nulis apa yg ada di pikiranku dg hatiku..hehehe..