Minggu, 24 Februari 2013

Pahitnya terasa manis

Kuhirup wangi kopi dari gelasku.
Kopi yang kubuat untuk diriku sendiri.
Kopi instan yang kubuat hanya dengan menambahkan air panas saja.
Aromanya, cukup untuk membuat otakku tenang.

Berkelebat cepat dalam pikiranku, potongan-potongan kisah.
Kebanyakan yang melintas adalah kenangan pahit.
Pahit, tapi menyenangkan.

Pagi ini, kopiku rasa moca.
Pahitnya kopi bercampur dengan pahitnya coklat.
Tapi ada rasa manis terselip dalam larutan hitam kecoklatan ini.
Setiap sesapan pahitnya masih meninggalkan rasa manis.

Waktu-waktu belakangan ini memaksaku mengeluarkan tangis.
Tangis penyesalan yang seharusnya tak boleh kusesali.
Aku memang salah sehingga aku harus menyesal.
Aku memang sudah seharusnya menikmati pahitnya kisahku.
Namun akhirnya aku mengerti bahwa penyesalan tak boleh terjadi.
Tangisku tak boleh terus menjadi tangis.
Tangisku harus berubah menjadi ucapan syukur.

Kopiku pahit. Sama halnya dengan tangis penyesalanku.
Namun dalam tiap tetesnya, masih ada manis yang kurasa.
Aku menikmati setiap pahitnya.
Aku menyukai rasa pahitnya.
Pahitnya terasa manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar